Pulang kerja saya menjemput Nina di dokter gigi sesudah itu kami memutuskan mampir di kedai yang namanya rush bowl yang menu utama mereka adalah granola bowl. Ini makanan sehat yang isinya granola, buah-buahan, frezen yogurt dan sebagainya. Saya kali ini memesan PB & J, yaitu frozen yogurt, pisang, strawberry, peanut butter, almond milk yang diblender kemudian diberi granola, peanut butter lagi semacam selai dan madu. 498 kalori! Cukup buat makan malam!
Sambil makan malam saya mulai menimbang-nimbang tema refleksi yang terakhir, nomor 5. Mempertimbangkan kejadian-kejadian dan pengalaman akhir-akhir ini saya memutuskan merenung soal pikiran. Pikiran seringkali menjadi biangkeladi banyak hal. Hmm.. mungkin kurang tepat saya mengatakan itu, pikiran itu sendiri sebetulnya merupakan hal yang baik, kita berpikir maka kita ada, begitu khan menurut filsuf Rene Descartes? Cogito ergo sum! Yang lebih tepat mungkin saya harus mengatakan bagaimana cara berpikir dan apa yang kita pikirkan itu yang harus dipertimbangkan.
Ekhart Tolle pernah berkata bahwa penyebebab utama dari ketidakbahagiaan bukan karena situasi tapi justru karena pikiran akan situasi tersebut. Pikiran memang mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Dari pengalaman selama ini saya belajar bahwa kita tidak membutuhkan banyak waktu untuk menangkap suatu peristiwa lalu persepsi kita langsung berubah dan serentak kita menciptakan cerita seperti lakon sebuah drama. Silakan renungkan sendiri, saya yakin semua orang mengalami peristiwa-peristiwa serupa.
Saat itu saya sedang membawa 2 tas berenang. Satu milik saya dan yang satu lagi milik Nina, disamping 2 tas berenang itu, saya juga membawa dumbbell yang terbuat dari semacam busa untuk berlatih cardio di kolam renang dan juga sepatu air. Biasa sesudah berenang saya membawa semua barang itu lalu dimasukkan ke dalam bagasi dan saya berangkat kerja, sementara Nina kemudian membawa kendaraan sesudah mengantarkan saya ke kantor. Pada saat saya membuka bagasi mobil, saya begitu terkejut ketika melihat bumper belakang kendaraan saya penyok parah bekas ditabrak orang. Suasana hati saya langsung berubah.
Dalam perjalanan menuju kantor saya begitu jengkel. Dan mulai menciptakan sebuah cerita drama didalam pikiran. Membayangkan seorang tua yang mengemudikan mobil di tempat parkir, mundur dan menabrak mobil saya, lalu kabur begitu saja tidak mau bertanggungjawab. Cerita tidak hanya berhenti di situ, saya juga langsung membayangkan berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk memperbaiki kendaran itu. Saya tidak ingat berapa deductible dari asuransi kendaraan saya. Deductible adalah jumlah uang yang harus saya keluarkan ketika klaim asuransi, selebihnya jika biaya jauh lebih besar akan dicover oleh asuransi. Saya membayangkan setidak-tidaknya harus mengeluarkan sekitar $1000. Jumlah uang yang sangat banyak yang tentu saja saya tidak mau keluarkan untuk sesuatu yang bukan merupakan kesalahan saya. Pikiran ini semakin membuat saya jengkel dan marah-marah padahal biasanya sesudah olahraga saya sangat ceria, bahagia dan memiliki suasana hati yang sangat baik.
Saya begitu sibuk dengan pikiran hingga tiba di kantor. Berbagai skenario kejadian bermunculan di dalam benak saya. Sepertinya tidak mungkin terjadi di lokasi saya berenang karena saya parkir dekat tiang lampu penerangan, sementara bagian yang penyok justru ada di sisi tiang listrik, jadi tidak mungkin terjadi di situ. Kesimpulan, bukan orang tua yang tidak bertanggung jawab. Lokasi parkir itu memang di senior center, itu pusat kebugaran yang banyak didatangi para senior, manula.
Begitu tiba di kantor dan turun dari kendaraan lalu Nina pindah ke sisi pengemudi, saya melihat sebuah kartu kecil terselip di kaca depan. Sebuah catatan permintaan maaf karena menabrak mobil saya. Di situ ditulis juga nama orang yang menabrak dan nomor telepon. Dia menunggu kami menghubungi agar membicarakan masalah perbaikan kendaraan.
Serentak saya berpikir dalam-dalam dan langsung ingat perkataan Ekhart Tolle yang saya singgung di atas tadi. Alasan mengapa kita tidak bahagia bukan karena situasi yang kita hadapi, tapi justru pikiran kita tentang situasi itu! Tepat sekali. Kejengkelan saya bukan karena situasi yang sedang saya hadapi, tapi justru seragkaian drama yang tidak signifikan yang saya ciptakan dalam pikiran saya sejak dari kolam renang menuju kantor. Situasinya sendiri ternyata tidak begitu parah karena penabrak bersedia bertanggungjawab dengan meninggalkan nama dan nomor teleponnya serta komitmen dia untuk menganti rugi! Pikiran saya yang justru menyesatkan!
Tidak ada alasan saya untuk marah-marah! Yang membuat saya jengkel dan marah itu sesungguhnya pikiran saya sendiri. Dalam perjalanan menuju kantor tadi perhatian saya hanya tertuju pada kejengkelan, ketidak adilan, ketidak-bertanggungjawaban orang yang menabrak dan sebainya. Sebetulnya jika saya tidak langsung lompat kedalam pikiran dan lebih seksama memperhatikan situasi yang terjadi, segala sestau yang saya alami pagi itu tidak perlu terjadi. Saya tidak perlu membuang waktu sepanjang pagi dengan sesuatu yang tidak ada gunanya sama sekali. Seandainya saja saya lebih aware!
Benar sekali bahwa kita seringkali tidak dapat mengontrol situasi. Tapi kita mempunyai pilihan untuk mengontrol bagaimana kita berpikir dan bertindak. Kita tidak perlu mengubah situasi yang sebetulnya dapat dengan mudah diselesaikan tanpa harus mengubahnya menjadi sebuah drama. Banyak hal yang sebetulnya sangat sederhana. Kita dapat secara mindful menerima situasi itu, berdamai dengannya lalu move on!
Yang saya pelajari dari peristiwa itu adalah Saya harus selalu membawa serta awareness dalam pikiran saya, dalam menghadapi setiap peristiwa dan berhenti menciptakan drama yang tidak ada gunanya yang sama sekali serta tidak membantu memecahkan persoalan. Saya harus selalu berusaha menerima situasi seperti apa adanya dan menghadapinya dengan tenang dan bijak karena bentuk pikiran yang tidak tepat merupakan bibit-bibit ketidakbahagiaan. Kita semua mempunyai kekuatan untuk mengatur bagaimana kita berpikir dan bertindak dalam menghadapi situasi. Kita harus selalu membawa serta awareness dalam berpikir.
Photo credit: rushbowls.com