AES010- Lukisan Tua nan Pudar
Farzan
Monday August 19 2024, 9:59 PM

Banyak hal yang datang beriringan di dunia ini. Hari dan malam, sendok dan garpu, 17an dan lombanya. Peringatan kemerdekaan kita memang sudah identik dengan pertandingan siapa-yang-makan-bisa-sambil-melanggar-aturan secepat mungkin. Lomba ini sudah amat melekat pada budaya masyarakat Indonesia, barangkali lebih dibanding makanan terlezat di dunia (katanya) atau keragaman adat-istiadat yang begitu kaya.

Hari ini, warga Smipa menyelenggarakan perlombaan 17an nan spesial itu. Tentu saja, sebagai acara tahunan, ada satu-dua harapan dan ekspektasi yang diseret bersamanya; dan OSIS seperti biasa harus menyandangnya. Dan mereka, seperti biasa, melakukan tugas mereka dengan bagus dan berkesan. Tapi, entah kenapa, aku merasa kalau 17an- tetap saja masih kurang. 

Kalau boleh jujur, aku sebenarnya merasa kalau suasana 17an semakin kesini semakin memudar. Lomba-lomba 17an dulu merupakan salah-satu memori berkesan paling tua milikku tentang Smipa- kenangan-kenangan tentang mencoba menangkap kerupuk yang tergantung di tali dan berlomba-lomba mengejar garis batas dengan kaki terkekang sarung di tengah gegap-gempita tawa dan sorakan. Jika Musik Sore unik karena suasananya yang bittersweet, 17an dulu rasanya meriah dan gembira dan berwarna-warni.

Tapi 17an akhir-akhir ini- setidaknya menurutku- rasanya tidak lagi memiliki pesona magis itu. Mungkin itu hanya aku yang bertumbuh semakin tua dan apatis. Mungkin itu hanya aku tak lagi tertarik pada hal-hal yang dulu kugemari. Tapi kalau iya, sungguh sebuah konklusi yang tidak mengenakkan. Apa begini rasanya tumbuh dewasa? Untuk menjadi orang asing di tengah kawan-kawan lama?

Mengabaikan si aku nan melodramatis, lomba hari ini berjalan bagus. OSIS tampaknya mencoba mengeluarkan semua yang mereka bisa. Memang, ada masalah teknis seperti pengaturan dan penjadwalan yang agak berantakan, tapi kami cukup gembira. Anak-anak kecil terutama, tampaknya senang sekali tertawa riang.

Dan bukankah itu yang penting? Agar kelak, bahkan ketika mereka mulai bertumbuh menjadi pahit dan penggerutu seperti kita semua (seperti aku), mereka punya kenangan manis soal hari ini.

You May Also Like