Ngomongin Kaltera #1- Membuat Bahasa itu Sulit
Farzan
Sunday October 13 2024, 11:29 AM
Ngomongin Kaltera #1- Membuat Bahasa itu Sulit

Tulisan ini agak berbeda dari tulisanku yang lain. Di sini, aku hanya ingin menuangkan berbagai pikiranku tentang proyek yang sedang kubuat. Kalau kalian tertarik, silahkan lanjut. Aku berharap kalian menganggap topik ini sama menariknya dengan aku. 

Aku punya banyak ide. Itu salah satu sifat yang kusuka dari pikiranku. Pikiranku bisa mengeluarkan banyak ide menarik yang membuat melamun tidak membosankan-membosankan amat. Hanya saja, ide tidak memiliki jangkar. Jika mereka dibiarkan saja, ide akan hanyut dibawa ombak pikiran-pikiran yang terus berdatangan; dan saat kau kembali, ide itu sudah hilang- berlayar tanpa tuan menuju cakrawala bawah sadar, hanya bayangannya yang tersisa, meninggalkanmu meratap menyesal.

Itulah alasan kenapa aku menulis. Untuk menjangkarkan ide itu, agar mereka tidak hilang.

Tapi sejujurnya- hari-hari ini pikiranku sedang mampet. Aku punya banyak ide, tapi mereka terlalu radikal dan samar dan ruwet, mereka menolak untuk dikungkung bahkan dengan kata-kata terelok sekalipun. Seminggu ini tak ada progres, dan aku mulai frustasi.

Jadi, itu tujuan tulisan ini, sebenarnya. Mungkin dengan menulis dan membagikan hal-hal ini, aku bisa membantu menata pikiran dan ide itu. Jadi, aku minta maaf; tulisan ini mungkin akan terlihat erratic dan berantakan. Aku hanya ingin mencoba menyalurkan ide yang bergumul di kepalaku, menjadi semacam jurnal.

Sebagai latar belakang singkat, aku punya passion project pribadi, Kaltera namanya. Itu adalah dunia fantasi yang tengah kubuat, yang akan menjadi latar bagi banyak cerita (atau, setidaknya, ide cerita) yang tengah (dan akan) kutulis. Kaltera sendiri adalah salah-satu kota besar di sana, lengkap dengan budaya, arsitektur, kondisi sosial, dan- topik tulisan ini- bahasanya sendiri. 

 Itu yang sedang menjadi topik lamunanku akhir-akhir ini. Aku ingin membuat conlang (constructed language- bahasa buatan) sendiri untuk kota fiksi ini- sebagian agar dunianya terasa lebih hidup, sebagian lagi karena aku memang tertarik pada bidang linguistik sendiri. 

Membuat ‘bahasa palsu’ untuk dunia fantasi bukanlah hal baru. Lord of The Ring, The Song of Ice and Fire (lebih dikenal dengan nama Game of Throne), dan Star Trek adalah beberapa contoh media fiksi yang membuat sebuah bahasa untuk digunakan penduduk dunia fiksi itu. Tapi, membuat bahasa tetaplah sulit. Ada banyak elemen yang harus diatur agar bisa sinkron bagaikan orkestra alih-alih saling bertabrakan.

Ada beberapa progres solid yang berhasil kubuat. Yang pertama, nama Kaltera itu sendiri. Di dunia ini- dunia nyata, maksudku- nama Kaltera sendiri sebenarnya hanyalah pelesetan dari kata kaldera, bekas dari sebuah erupsi gunung. Aku awalnya memilih nama itu karena planet tempat Kaltera berada selalu dihujani abu bekas erupsi sebuah gunung purba yang masih mengotori langit berabad-abad setelah letusan itu.

Tapi, aku ingin arti watsonian dari Kaltera lebih elegan dibanding itu. Jadi, dalam bahasa buatanku itu, Kaltera sebenarnya terdiri dari dua kata: Kala dan Ter, Bumi dan Hancur (bahasaku ini meletakkan kata sifat di tengah kata subjek/objek. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai contoh, rumah besar akan menjadi rubesarmah, misalnya). Saat digabungkan, Kaltera kurang-lebih berarti Bumi yang Hancur. 

Penggabungan kata itu bukanlah sesuatu yang unik. Nama salah satu protagonis di ceritaku, misalnya; Ifelo, juga terdiri dari dua kata: Io dan Fel, Harapan dan Abadi. Tapi, yang membuat nama Kaltera itu spesial bagiku adalah kita bisa memperdalam nama itu lebih jauh lagi. Kaltera, dibedah menjadi Kala dan Ter. Tapi Kala, yang berarti Bumi di bahasa buatanku itu, masih bisa dibedah lagi: K-al-a. Ka dan La. Ka berarti Ibu, La berarti Besar. Jadi, dalam bahasaku, Bumi kurang-lebih berarti Ibu Agung.

 Hal-hal seperti itu yang membuat bahasa terkesan hidup, karena di dunia nyata, kata-kata bukan muncul tiba-tiba, melainkan terbentuk dari kata-kata lain yang termodifikasi seiring waktu. Bahasa adalah relik yang terus diwariskan turun-temurun.

Ada banyak hal lain yang ingin kubagikan, seperti sistem perhitungan Kaltera yang menggunakan hitungan kelipatan sembilan alih-alih sepuluh (dan pengaruhnya pada not-not musik mereka), aksara Kaltera yang belum jadi-jadi berhubung aku belum bisa memutuskan konsonan fonologi apa saja yang ingin kumasukkan ke dalam bahasa ini... atau hal-hal lain di luar bahasa- seperti bagaimana kehidupan Kaltera beradaptasi untuk bertahan di bawah langit yang kerap menjatuhkan abu beracun; atau soal para Olek- tumbuhan yang hanya tumbuh di abu gunung dan menjadi pelayan orang-orang; atau tentang orang-orang yang tinggal di sana, seperti Ifelo si master-surat muda dan Kae! Begitu banyak cerita...

Menulis tentang Kaltera amat menyita waktuku akhir-akhir ini. Kadang, orang bilang kalau aku terlalu ambisius dengan proyek Kaltera ini. Tapi, menurutku tidak. Ada kepuasan tak tertandingi dari menyaksikan dunia yang awalnya hanya berupa ide-ide kacau di kepala mulai menggeliat menjadi sebuah karya, seperti potongan jigzaw acak yang mulai membentuk sebuah gambar. Aku sudah jatuh cinta pada dunia ini, dan aku hanya ingin membagikannya ke orang-orang, bahkan kalau dia masih jauh dari selesai.

Sampai jumpa lagi!

(Gambar: tabel fonologi bahasa Indonesia.)

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Wow... konstruksi bahasa ya Farzan... luar biasa... 👍🏻🤗
Farzan
@farzan   2 years ago
Haha iya makasih kak
You May Also Like