AES018- Jas Merah: Di Balik Layar, dan Judul Klise Lainnya.
Farzan
Tuesday April 22 2025, 10:03 AM
AES018- Jas Merah: Di Balik Layar, dan Judul Klise Lainnya.

Proyek pertunjukan theater Jas Merah berakhir pada 11 April 2025 kemarin. Perjalanan panjang itu, yang tak dinyana lagi menyeretku masuk kedalamnya, berakhir sudah.

Sampai jumpa lagi, Jas Merah.

Sedari awal, aku mencoba untuk tidak terlalu terikat dengan Jas Merah. Jas Merah hanyalah sebuah kisah konyol tentang seorang pencuri bermental tempe tak bertanggung jawab yang berakhir menghancurkan pemerintahan lokal. Aku tidak memiliki harapan tinggi untuknya- kisah ini semata-mata sebuah tugas, sebuah keharusan yang harus segera disingkirkan.

Tapi mungkin justru karena rendahnya ekspektasiku pada cerita ini, aku lebih berani untuk mengobrak-abrik cerita ini menjadi seliar mungkin. Biasanya, kalau aku sedang menulis cerita, aku seorang perfeksionis yang bergerak dengan hati-hati dan mengekang diriku sendiri; seperti seorang pemahat patung yang tak bisa menimbulkan satupun goresan salah. Dengan Jas Merah, aku bebas untuk mencoret-coretnya sesuka hati- sekalipun kawan-kawanku terkadang tidak terlalu gembira. Ditambah lagi dengan fakta kalau cerita ini dibuat sebagai sebuah drama musikal! Formatnya yang berbeda dibanding biasanya mendorongku untuk bereksperimen dan berkreasi lebih liar dibanding biasanya. 

Jas Merah yang kalian saksikan di atas panggung terlahir dari kebebasan tak terkekang tersebut. Sebuah kebetulan, barangkali. Atau barangkali sang Jas Merah berhasil menembus kekangan ceritanya, dan meracuni proses penulisan dengan semangatnya.

Ironis, sebenarnya. Lewat kisah yang bebas, tak terantai oleh beban ekspektasi; aku justru malah terikat dengan kisah Jas Merah tersebut. Waktu yang sudah dikorbankan, uang yang sudah diberikan, hal itu tidak terlalu berarti untuk menjeratku; tapi sebuah komitmen untuk menunjukkan kisah ini, apapun yang terjadi? Hal itu cukup mendorongku untuk terus maju. Jadi, seperti dua hewan dalam simbiosis mutualisme yang menyadari mereka sudah terjebak terhadap satu-sama lain, kami berjalan. 

Dan jalan ke depan tidaklah mulus- oh, tidak. Tidak sama sekali. Rintangan, kelokan, halangan; semuanya sudah pasti ada menghadang. Masalahnya, ini adalah kali pertama kami melalui jalan ini. Kami tidak memahami papan penanda jalannya, tidak mengetahui jalan pintasnya, tidak mengetahui dimana polisinya. Belum lagi ditambah kami tidak berjalan dengan kecepatan yang stabil: terkadang, kami merayap seperti siput, dibuai malas dan jenuh. Di waktu lain, kami melesat terlalu cepat, dan berakhir menabrak pembatas jalanan dimana kami seharusnya berbelok. Saat kami akhirnya sampai, bensin kami sudah habis.

Tapi orang tidak melihat itunya, tentu saja- setidaknya, sebagian besar orang. Mereka melihat saat kami sampai  dengan lampu sorot nan dramatis. Mereka melihat saat Jas Merah akhirnya sampai di tempat tujuannya yang terjanjikan, melihatnya tampil di atas panggung. Dan, ah, mereka bertepuk tangan dan memberi apresiasi dan bertanya kapan kami akan tampil lagi. Cukup banyak yang bertanya. Lebih dibanding yang kuperkirakan. (Dan untuk kalian semua, terima kasih! Semua apresiasi membuat proses Jas Merah kian berharga)

Tapi, pertanyaan itu membuatku berpikir. Kalau aku bilang aku merasa terharu di akhir proses pertunjukan yang panjang nan berdarah-darah, kemungkinannya ada dua: aku sudah diculik sekelompok alien dari peradaban maju dan yang sedang bicara dengan kalian adalah duplikatku yang ditinggalkan agar orang tidak curiga, atau aku berbohong. Bahkan di akhir jalan, Jas Merah tetaplah sebuah cerita konyol, dan aku hanya bertugas mengantarkannya. Kau tidak menangis terharu saat kau akhirnya berhasil menyapu rumah. Kau tidak menekuri betapa kau telah berubah seusai kau menjalankan proses panjang untuk membereskan tumpukan piring yang terabaikan di wastafel. Kau tidak merasa apapun setelah kau menjalankan tugas, kecuali mungkin kepuasan atas tugas yang selesai dengan baik. Dalam kasus ini, itupun tidak bertahan lama, lantaran aku segera teringat kalau masih ada evaluasi dan segala macam yang masih menanti.

Sesungguhnya, aku tak banyak merasa apapun di hari-hari terakhir. Aku tidak merasakan antisipasi yang kian bertumbuh seiring mendekatnya hari pertunjukan. Aku tidak merasakan ketegangan di saat-saat terakhir sebelum tirai pertunjukan tersibak. Aku tidak merasakan haru atau kegembiraan atau kelegaan saat tirai itu tertutup. Pikiranku hanya memilah semuanya secara teknis. Adegan ini. Lalu adegan itu. Lalu tutup pertunjukan. Ucapkan kata-kata basa-basi, layani penonton. Bantu beres-beres properti. Buang sampah yang tertinggal. Pulang. 

Amat disayangkan, bukankah demikian? Semua itu, dan Jas Merah akan ditinggalkan di atas panggung- seperti  bintang jatuh yang akan menghilang esok hari? Dia akan bersinar terang, ya, tapi hanya sebagai hantu dalam ingatan kami, sebaris kalimat dalam kisah hidup kami yang akan tertimbun oleh miliaran kisah hidup orang lain yang lebih hebat dan megah dan berkesan. Jas Merah, kisah yang paling bebas tak terkekang dan kekanak-kanakan yang pernah aku tulis, akan dilupakan di balik mahakarya-mahakarya lain yang menjulang.

Sedih. Dan aku tidak suka akhir yang sedih. Jas Merah juga. Untuk sekian kalinya, kami sampai di sebuah persetujuan. Setelah semua ini, kami memutuskan, tak apalah terikat dengan satu sama lain sedikit lebih lama lagi. Bersama, aku akan mencari cara agar kami bisa berpisah dengan lebih patut. Aku akan mencari cara untuk mengubah Jas Merah tidak menjadi sekedar tugas. Aku akan mencari cara agar Jas Merah abadi.

Sampai jumpa lagi, Jas Merah.