AES62 Tubuh yang Merasa
finsjournal
Thursday January 5 2023, 10:04 PM
AES62 Tubuh yang Merasa

"Feeling isn't thinking. Our bodies know how to feel. Let yourself feel."

- Jake Ernst, therapist -

Tidak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini, manusia hidup dalam balutan gelombang energi, suatu saat kita akan menemukan gelombang energi yang terkalibrasi. Seperti saat saya berpikir keras untuk mencoba menyimpulkan pengalaman dua hari mengikuti kegiatan Olah Rasa, Olah Gerak bersama Bude Ratna. Entah darimana datangnya, tiba-tiba quotes di atas muncul begitu saja saat saya sedang berselancar di sebuah platform media sosial.

Saya menyadari bahwa, overthinking membuat saya mengabaikan banyak hal di sekitar saya, bahkan petunjuk-petunjuk yang semesta kirimkan. Terlalu banyak berpikir, terlalu keras pada diri sendiri untuk segala hal yang kompleks di dunia ini. Sama dengan hal-hal yang saya pikirkan dalam benak, seperti benang kusut, tidak tahu harus mulai mengurainya dari mana.

Dua hari berproses, membuat pikiran saya lebih rileks dan terbuka, terutama di hari kedua kegiatan. Kompleksitas yang terjadi di dunia ini tidak mudah untuk kita sederhanakan, biarkan kompleksitas itu apa adanya, dan menjadi unik karena kompleksitasnya. Bukan untuk dipikirkan! Tetapi, kita bisa berdamai dan mengikuti alurnya. Rasakan... Mengurai... Menyelaraskan...

Satu sesi yang menjadi titik tolak untuk saya dapat menemukan, Oh! Saya tahu harus mulai dari mana!

Ketika irama-irama lagu bersahutan untuk tubuh meresponnya. Terasa berat untuk melangkah di awalnya, terlalu banyak yang dipikirkan... Nanti gerakannya gimana ya... Nanti kalau gerakannya aneh gimana ya... Dan, gimana yah, gimana yah lainnya. Sampai suatu saat, saya menghentikan pikiran itu. Hening... Dengarkan... Rasakan... Respons... Barulah tubuh saya bisa merespons setiap iramanya, ketukannya, bahkan suara Bude Ratna yang saat itu memandu kegiatan.

Apa yang saya rasakan saat itu?

Air mata saya berlinang... Cukup sulit untuk jujur pada diri sendiri. Berat untuk melangkah dan merespons, karena rasa yang ditahan oleh pikiran-pikiran...

Saya mencoba membayangkan, hal yang paling berat saya jalani saat ini namun harus bisa saya lalui, menerima peran baru sebagai seorang Ibu. Saya memikirkan bahwa saya belum bisa menjadi Ibu yang bahagia, saya belum cukup memiliki cinta kasih untuk bisa saya bagikan kepada orang-orang di sekitar, termasuk anak-anak saya. Selaras dengan irama musik, membayangkan wajah-wajah mungil kedua anak saya. Menelusuri diri dari ujung kaki hingga ujung rambut, tubuh saya merespons dengan gerakan dan mengafirmasi diri saya, bahwa saya layak, saya hebat, saya bisa, saya memaafkan diri saya, dan saya tidak sendirian. Saya memandangi langit yang begitu cerah, sinar mentari yang begitu hangat, pepohonan yang begitu gagah namun menyejukkan, angin yang membawa damai. Saya tidak sendirian, karena saya memiliki semesta yang tak terbatas! Bersyukur!

Energi dalam setiap respons gerak dari tubuh, ketika beresonansi dan bertemu dengan gelombang energi yang selaras, energinya akan sampai, rasanya akan tersampaikan. Ketika salah seorang Kakak menyentuh tangan saya dan menggandeng tangan saya, entah kenapa air mata saya semakin jatuh tak tertahankan. Mungkin yang sebetulnya dibutuhkan adalah merasakan (empati) sehingga rasa hangat dan diterima akan sampai ke hati mereka yang membutuhkan. Mengalirkan energi dalam tubuh kita...

Hal menantang lainnya, ketika membuat gerakan tari berkelompok. Paket komplit! Ada proses diskusi, berlatih, keberanian mengambil keputusan, menyelaraskan gerakan yang diciptakan dengan irama lagu, dan menampilkannya di depan orang lain. Ada dinamika, ada berbagi ruang, ada mengendalikan diri, kapan harus yakin dengan pilihan dan kapan harus mengalah dan menurunkan ego untuk mendapatkan suara dan keputusan yang sama.



Itu cerita pengalaman saya dua hari mengolah rasa melalui olah gerak, dan sepertinya saya harus konsisten menjalankan latihan ini untuk lebih membangun kepekaan dan lebih mengenal diri. Gerak bisa menjadi salah satu media untuk berkomunikasi dengan diri, sambil mengasah kemampuan mengkalibrasi energi dan menyelaraskannya dengan energi di sekitar.

Terima kasih Tim DISADA, Bude Ratna, Kak Ririe, Bu Sita, dan Kakak-Kakak semua. (^.^)

Hati senang walaupun badan pegal-pegal... Kelelahan terbayar dengan tidur pulas setelah tubuh bergerak...



Tips untuk memulai: Mulailah menyetel musik apapun secara acak, tutup mata, dengarkan dan rasakan ketukan dan iramanya, biarkan tubuh meresponnya. Satu lagu setiap hari jika dilakukan konsisten, pasti akan terasa manfaatnya. Selamat mencoba! Oh iya, untuk yang baru akan memulai, siapkan koyo ya... (respons tubuh akan berbeda tergantung individu) (^0^)v

Salam,

  

innocentiaine
@innocentiaine   3 years ago
Waaah joss banget ka Fifin, berhasil menemukan dan memaknai sedalam itu.. 🙏🏼
You May Also Like