Sejujurnya dulu saya adalah orang yang tidak suka anak kecil. Tapi bukan tendensi untuk menyakiti (mencubit, pukul atau memelototi), lebih ke saya tidak bisa being nicer to kids aja. Perlahan saya sadari ketidaksukaan pada anak adalah pola yang diturunkan Ibu. Ia bisa dengan tenang bilang dulu tidak suka anak, termasuk anaknya sendiri. Ia bahkan bisa turun dari angkot kalau di dalamnya ada anak yang menangis.
Sepertinya itu juga yang bikin saya tidak mau menikah dan punya anak, dulu. Sampai akhirnya kini saya punya dua anak (dan menikah tentunya), ternyata anak-anak itu ya ok saja. Bahkan banyak di antara mereka yang lucu (rupanya maupun tingkahnya). Ketika Kian lahir, saya juga baru sadari bahwa bayi itu sangat lucu, gemas, imut, manis, kecil mungil, semuanya pokoknya. Hal-hal yang tidak saya sadari ketika membesarkan Saka dulu, karena terlalu sibuk dengan rasa takut. Takut salah, takut sakit, takut menyesal, dsb.
Akhir-akhir ini saya juga menyadari bahwa saya sering kangen masa-masa hamil kalau liat ibu hamil, kangen masa gendong bayi newborn kalau lihat bayi mungil, dan gemas pada bayi dan anak perempuan (bahkan baju-bajunya). Tapi tidak, saya tidak sedang ingin menambah anak lagi (dua anak cukup). Saya sangat yakin saya hanya rindu, tapi bukan rindu yang ingin diulang. Saya malah bisa merinding dan bergidik jika mengingat sisi lain dari glowingnya masa hamil dan tenangnya masa early motherhood: kesepian.
Bukan sulitnya menyusui, bukan pula repotnya masa MPASI (yang sempat bikin saya takut punya anak kedua). Tapi perasaan terasing, karena ada manusia kecil yang dependent pada kita. Momen harus melipir untuk menyusui, padahal sedang asik mengobrol saat tamu berkunjung. Momen tidak bisa ikut bepergian, makan belakangan (atau duluan), jam malam mulai pukul 20.00 saat kita sudah tidak bisa lagi ikut nongki/nonton/menghadiri webinar dsb. Banyak pause kecil dalam keseharian yang membuat keterasingan itu semakin terasa.
Ketika tiba anak sudah mulai bisa sedikit demi sedikit ditinggal pun, ada rasa tidak nyaman yang membuat ingin segera pulang. Lalu kalau anaknya kita bawa, lagi-lagi perasaan asing itu muncul manakala harus pause karena anak ingin ditemani, ingin ke toilet, makan disuapi dan dikejar-kejar. Saya ingat banyak sekali momen kumpul yang seru sebenarnya, tapi dari 2 jam durasi misal, ada lebih dari setengahnya kita ibu-ibu melipir untuk urusan anak. Not to mention urusan domestik yang juga harus dilakukan.
Eksistensi seorang perempuan sepertinya sangat diuji pada masa early motherhood, bagaimana mengatasi perasaan unseen, berusaha tetap adaptif dengan ritme makhluk kecil yang tidak bisa selalu diprediksi. Sebesar apapun dan sebanyak apapun fasilitas dan privilege yang ia dapatkan, saya rasa fase awal menjadi ibu selalu sulit bagi siapapun. Kehidupan dewasa yang sepi ternyata menjadi sesi latihan untuk masuk ke fase kesepian another level: motherhood. Bahkan di level menyamakan dengan sesama ibu lain pun, jarang ada yang beririsan begitu besar. Kesepian seorang ibu, bahkan ada di level individu, saking berbedanya tiap orang, sangat sulit menyamakan atau mencari kesamaan. Beberapa hal mungkin membuat sesama ibu related, tapi frekuensi, durasi, dan seberapa diverse dinamika support system di sekitarnya membuat rasa kesepian setiap ibu menjadi berbeda.
Masa-masa menjadi ibu itu sangat indah, dan hangat. Tetapi sepertinya bukan untuk diulang.