Saya tersenyum sendiri menulis judulnya. Banyak seliweran kalimat tersebut akhir-akhir ini, terutama kemarin setelah konvoi pasca kemenangan Persib melawan Persija di Samarinda. Katanya Bandung ini sebegitu terbengkalainya sampai jalanan gelap, transum tidak ada, trotoar tidak ramah pejalan kaki, bahkan kalau ada konvoi, 'warga' harus 'maklum' tanpa ada jumlah petugas yang mumpuni untuk mengawal.
Saya jadi ingin menceritakan kesibukan terbaru yang sangat relate dengan kondisi ini. Sekitar 4-5 tahun silam, saya pernah les nyetir mobil, saat itu usia saya sekitar 30an. Mungkin sudah terlambat, mungkin juga tidak. Setelah dipaksa berulang kali oleh suami, juga ogah-ogahannya saya hingga akhirnya daftarlah kami mengambil durasi 10 jam. Setiap minggu 1x2jam pertemuan di sela pekerjaan dan mengurus Saka. Diakhiri dengan catatan saya harus ambil 5 jam lagi baru bisa 'lulus' katanya. Tapi tidak saya lanjutkan karena, males ahhhhh ga suka harus nyetir, ribet repot dan waktu jadi terbuang banyak, padahal kalau di angkot/bus saya bisa tidur, baca, make up, atau makan.
Setelah les, apakah saya jadi membawa kendaraan setiap hari? Tentu saja tidakkkk. Saya masih merasa, ngga bisa deh kayanya nyetir, susah deh, kok bisa tiap mobil itu beda settingan koplingnya? Kok bisa saya lancar di mobil les tapi pake mobil di rumah mati terus? Belum lagi siwer kiri-kanan, bales kiri bales kanan itu apa? Semuanya masih berputar-putar di kepala dan ingatan dan pengalaman les 10 jam itu menguap begitu saja.
2026 bulan April kemarin, saya memutuskan les nyetir lagi. Satu hal yang saya kemudian sadari adalah... Sebenarnya jauh di lubuk hati kecil terdalam, sesungguhnya saya inginnya commute kesana kemari tuh pakai transum.
Saya tahan naik kereta Cimindi - Gedebage untuk bekerja dari Gunung Batu ke Cisaranten.
Saya tahan naik kereta LRT-MRT untuk commute di Jakarta selama visit client.
Yang terbaru, saya juga tahan naik transportasi umum MRT-bus-nyambung kereta dari Bencoolen Singapore - ke Johor Bahru - lalu ke Kuala Lumpur bersama Bangkit dan anak-anak.
Lebih gila lagi, saya bersama Saka dan Kian saja, bisa naik bus pukul 22.00, membawa stroller dan koper, kemudian berjalan di trotoar tanpa rasa takut atau seram menghadapi jalan yang gelap.
Jauhhh dari kenyamanan pun, saya pernah naik KRL dari Blok M ke Serang, Banten, featuring naik angkot dapet nyetop depan Indomaret waktu keretanya gangguan.
Di tulisan lain bahkan saya tulis, saya ini professional angkoters, sudah naik angkot sejak SD.
Namun, juga akhirnya saya sadari, bahwa memiliki transportasi umum di Bandung yang memadai, proper dan aman untuk saya sebagai perempuan, ramah anak untuk Saka dan Kian (serta teman-temannya), rasanya semakin sini semakin tidak mungkin. Entah sudah berapa ratus kali dibuat perencanaan, wacana, hingga maketnya, alhamdulillah belum ada terlihat hilalnya. Oleh karenanya, demi bertahan hidup dan tetap waras di kota autopilot ini, kalo kata orang, Gotham City, alangkah bijaknya kalau akhirnya saya mengalah dan melancarkan skill menyetir saya. Sambil berangan-angan suatu hari kami bisa pergi dari Cimahi ke Rancamanyar naik kereta, atau bis, atau apapun transportasi umum yang bisa dikendarai, diselingi jalan kaki di trotoar yang bisa dilewati kereta bayi, dengan lampu penerangan yang layak 