AE2 144 Berisik Tanpa Suara
leoamurist
Monday October 18 2021, 5:37 AM
AE2 144 Berisik Tanpa Suara

"Non-stupid people always underestimate the damaging power of stupid individuals. In particular non-stupid people constantly forget that at all times and places and under any circumstances to deal and/or associate with stupid people always turns out to be a costly mistake." Carlo M. Cipolla.

Seringkali kita merasa keberisikan padahal tidak ada suara, rasanya sesak dan enggan seperti mau jajan eskrimkon doang antrian panjang sampai menutupi badan jalan. Keberisikan semacam itu kan yang membuat kita kehilangan kesempatan menyampaikan pesan(-an), kar(n/m)a ruang kepenuhan bahkan sampai tumpah ke akses jalan.

Solusinya? Tinggalkan.

Pemilihan ini bukan berdasarkan pertimbangan alternatif solusi, malahan perlu berdasarkan alternatif konsekuensi. Kalau berdasarkan alternatif solusi ujungnya malah menjebak diri sendiri dan jadi bagian dari keberisikan tanpa suara itu tadi, malah menjadi bagian dari permasalahan. Karena arah dari alternatif solusi seringkali konfrontatif.

1B44B526325340A486FF3FEC3127D507.png

Konfrontatif bukan berarti melulu agresif, bisa saja tatap muka menyampaikan pesan di depan. Dialog katanya, adu pembetulan nyatanya. Yang paling banyak mengeluarkan kata dalam satu menit yang menang, karena coba baca kembali paragraf kedua yang pake Bahasa Indonesia itu deh.

Kalau kita memaksakan berhadapan, ngomong di depan, dialog-dialogan, itu kan seperti mencoba membuat kesepakatan dengan mesin pembaca kode harga di supermarket. Seratus ribu rupiah, kata mesin itu. Lima puluh ribu aja deh, kita membalas jawab. Scan ulang, mesin tetap bilang seratus ribu rupiah.

Gitu aja terus sampai ladang gandum berubah jadi kokokranch.

Secara alternatif konsekuensi, dasar pemilihan ada pada kemampuan diri menanggung konsekuensi pilihan. Apakah mampu menanggung pengulangan dari pilihan kon-front-tatif yang bisa mengubah ladang gangum tadi? Atau, apakah mampu memanfaatkan waktu mengantri untuk mencari ruang lain yang lebih memiliki telinga?

Kalau saya sih, tidak mampu di alternatif pertama. Karena gandum kebanyakan bikin konstipasi. Istilah bekennya, gedeg sendiri. Sedangkan konsekuensi dari alternatif kedua lebih mampu saya tanggung, memberi usaha lebih untuk keluar jalur antrian kemudian belajar bahasa lain dan menemukan telinga yang mendengarkan.

Demikian persoalan selesai bukan dengan menyelesaikan permasalahan yang kelihatan, karena ‘ini jadi masalah’ hanyalah pilihan respon dari situasi berdasarkan metoda alternatif solusi. Sedangkan berdasarkan metoda alternatif konsekuensi, persoalan selesai dengan menempatkannya sesuai dengan tempatnya berada.

3A6D7D9DC36B482789B9EEBDEBA4CD3F.jpeg

Seperti jantung, ruang pompanya memang penting. Pun, yang lebih penting adalah sekat antara ruangnya. Demikian aliran dari seluruh badan ke bilik kanan, sekat menjaga dan mengatur alirannya ke serambi kanan lalu ke paru-paru. Dari paru-paru masuk ke bilik kiri, kemudian ke serambi kiri dan ke seluruh badan.

Efisien tanpa kebocoran yang merepotkan bikin keracunan sebadan-badan, bahkan dampaknya sampai ke luar diri merepotkan orang sekitar kan kalau tiba-tiba badan tumbang pas lagi berdiri di antrian.

You May Also Like