AES017 Life Update
firdabilqis
Tuesday August 11 2026, 8:21 AM

Saya tidak tahu kenapa menulis di sini terasa seperti menulis di blog pribadi. Selain rasa aman, ada juga perasaan bahwa apa yang ditulis di sini bisa mengalir begitu saja, very raw kalau kata anak jaman sekarang. Mungkin karena kalo kata Kak Andy, "Gak usah pede ah belum tentu ada yang baca juga" HIHIHI benar juga sih! Atau mungkin ya pembaca di sini tidak judgy, jadi yaudah saya lebih leluasa menulis sebagai bagian dari 'mengabadikan' kenangan.

Kemarin saya baru saja update di LinkedIn, mengingat ternyata wah sudah 6 bulan ya tidak terikat pada perusahaan manapun, tidak melekat pada sebuah posisi, menjadi 'layangan putus' yang terbang kesana kemari mengikutin arah angin. Iseng update supaya mempertegas juga tawaran yang masuk bahwa saya saat ini belum mau bekerja full time. Juga sebagai soft notice pada yang suka mengintip, bahwa saya available for projects nih HEHEHE tetep jualan.

Tapi ya, ada hal yang juga berkecamuk di kepala. Mulanya melihat postingan di Threads, seperti biasa, diskursus antara working mom vs housewife. Betapa sangat serba salahnya orang menulis 'ibu rumah tangga saja', seolah mengecilkan posisi IRT lah, seolah working mom itu bukan IRT lah, dan lain-lain. Begitupun predikat ibu bekerja rentan sekali dianggap tidak hadir (atau merasa begitu), hidupnya lebih 'enak', atau tidak diperbolehkan komentar terkait tumbuh kembang karena sehari-hari tidak 'mengurus' anak. Ada satu postingan yang stuck di kepala berhari-hari. Tulisannya:



A: Kalau ditawarin, tentunya semua working mom pengen kan jadi full mom dan 24jam bisa dampingin anak?

Salah satu repliesnya:
B: Nggak mau hehe aku nggak melekatkan jati diriku hanya sebagai ibu. Sayang banget sama anak sendiri tapi dia bukan poros hidupku. Aku juga berharap anakku bisa melihat ibunya sebagai perempuan yg utuh dan berdaya tapi masih mengusahakan kenyamanan hidup dan waktu berkualitas untuknya ☺️



Dulu sekali, mungkin 3-4 tahun lalu, mungkin bukan hanya stuck di kepala, jawaban itu akan membuat saya tercekat, mencari tahu siapa orang tersebut lalu membencinya. Karena saya projecting. Tapi saat ini, saya melihat sebagai pilihan yang berbeda saja, tidak ikut tenggelam dalam, "Ih gimana coba perasaan anaknya?", "Yaampun ko bisa sih seorang ibu ngomong gitu apa ga kasihan anaknya???" dan berbagai respon intens lainnya. 

Tapi saya kemudian refleksi, sebagai ibu selama 7 tahun++, ya bisa dibilang sudah masuk ke level senior yah kalau di company mah... sudah merasakan juga
- resign karena mau jadi full time mom saat early motherhood
- strugglenya full time mom dari anak baby - toddler
- kemudian struggle memasuki era kembali bekerja
- sah menjadi ibu bekerja dengan 1 anak tapi WFH
- ibu bekerja 1 anak WFO
- ibu bekerja 1 anak WFO sambil hamil
- ibu bekerja 2 anak WFO sambil punya newborn
- ibu bekerja 2 anak 
Sampai akhirnya memutuskan, resign deh, belum tau mau jadi apa tapi resign dulu. Hingga saat ini merasa lebih punya kendali atas pekerjaan yang mau digarap...

Apa sih yang sebenarnya working mom, full time mom, or ANY mom inginkan/cita-citakan itu?

Yang saya rasakan ya, tentu pernah bercita-cita jadi full time mom saat sedang bekerja, dan ingin kembali bekerja saat sudah jadi full time mom (WKWKKW GIMANA SIH)??? Tapi ya memang itu yang terjadi. Ternyata bukan labelnya, bukan predikatnya, tapi kemampuan memegang kendali atas hiduplah yang ternyata menjadi cita-cita yang sesungguhnya itu. Punya pilihan dan bisa mengambil pilihan saat diinginkan, adalah sebuah perasaan yang ingin dirasakan, saat guilty menjadi working mom, dan saat terjebak di rutinitas menjadi ibu rumah tangga. Rasa berdaya, yang seharusnya tetap ada dan tumbuh di setiap perempuan yang mengalami evolusi dalam kehidupannya.

Karena sesungguhnya baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, keduanya punya tantangan yang berbeda.
Ketika mengurus rumah tangga dan tidak merasa berdaya, pekerjaan rumah dan keseharian anak tentu jadi rutinitas tanpa KPI, tidak bisa diclaim achievementnya, dan tidak punya sesuatu untuk dibanggakan.
Ketika pergi bekerja dan tidak merasa berdaya, berjibaku di jalan, sampai ke kantor yang penuh dengan tuntutan dan office politics, hanya menunggu waktu pulang sambil merasa bersalah meninggalkan anak di rumah, semuanya tentu terasa seperti kerja paksa bahkan penjara.

Tentu semua orang juga inginnya ya jadi ibu rumah tangga, bisa pergi pilates atau yoga sambil nunggu anak, brunch di cafe, pulang ke rumah sudah tersedia makan, sore menyiram tanaman, dan malam menemani anak sebelum pergi tidur. Semuanya berjalan smooth karena ada bisnis autopilot yang mengguyuri satu keluarga dengan keberlimpahan.

Tapi jika sekarang gilirannya kita bekerja lebih keras, baik di rumah maupun di tempat kerja, harapannya rasa berdaya itu tetap ada dan tidak diredam. Tidak perlu muluk ingin semuanya segera. Pilih dan masukkan diri sendiri ke jadwal harian, sempatkan terhubung dengan diri sendiri, meski cuma 20-30 menit sehari. Misalnya makan dan mandi tanpa interupsi, belanja mingguan tanpa anak dan suami, kopi pagi dengan teman atau sambil baca buku. Sempatkan bertemu diri sendiri, apapun label atau tugas yang sedang dikerjakan. 

Kalau saat ini sedang bekerja untuk mendukung keberlangsungan rumah tangga, sempatkan waktu untuk diri sendiri
Kalau saat ini sedang menyelamatkan rutinitas dan ritme keluarga, sempatkan waktu untuk diri sendiri

Tetaplah berdaya, dan memberdayakan diri, sesedikit apapun pilihan yang ada.

Choose yourself, always.

Andy Sutioso
@kak-andy   13 hours ago
Wah... Senang sudah lama ga baca tulisan Firda. Mengenai tema juga belum banyak yg menulis tentang ini. Nuhuun. 🙏🏼😊
You May Also Like