Dapat dibilang, aku cukup kenal dengan Semi Palar.
Rumahku. Tempatku berproses selama 15 tahun, mengikuti jejak dari ketiga kakakku. Naungan diri dalam perjalanan jalan berkelok-kelok mencari bintangku.
Aku masih ingat, waktu masih balita, aku mengangkat tangan saat ditanya "Siapa yang orangtuannya namanya Ade?" padahal nama orangtuaku bukan itu.
Aku masih ingat berlarian di lorong, mencari lego di ruang biru dan membuat pistol-pistolan bersama teman ku Fritz.
Aku masih ingat Rain dan Chia-chia yang kemana-mana selalu pegangan tangan, dan Suci yang selalu jadi "nyamuknya".
Aku masih ingat Kak Eet mengelap baju kuning kelompok Gatot Kacaku yang kena getah pohon di depan kantor.
Aku masih ingat wanginya lapangan rumput hijau nan luas, tingginya kelas kami, kolam renang sebelah bak pasir, jeruji penjara biru kolam ikan, baris membuat kereta menjahit lorong bawah, karya-karya jelek kami yang didominasi warna coklat, campuran segala warna cat.
Β
Ternyata tidak mudah menahan paksa rasa rindu.
Rindu akan ruang yang memberiku izin untuk menjadi diriku sendiri.
Rindu akan proses belajar yang tidak menuntut kesempurnaan, tapi mengajak berefleksi, bertanya, dan memahami.
Rindu akan ekosistem yang kompleks. Tempat anak, orang tua, dan pendamping sama-sama tumbuh dan belajar.
Tak tersampaikan betapa besarnya rasa syukurku, bisa punya kesempatan untuk bertumbuh bersama Semi Palar.
Di tempat ini, aku belajar mengenali suara hati, belajar memaknai perjalanan, dan belajar menjadi manusia seutuhnya.
Apresiasi yang tak terhingga untuk semua yang pernah berjalan bersamaku.
Terima kasih telah menjadi bagian dari bintangku.
Genap sudah proses bertumbuh bersama Semi Palar.
Sampai jumpa di kian waktu.
Sama-sama terima kasih Flavi sudah menempatkan diri berproses dan jadi bagian dari Rumah Belajar Semi Palar. Kamipun belajar banyak dari proses Flavi dan teman-teman di sini. Semoga kita semua selalu terkoneksi. ππΌπ