Kembali lagi di Jatinangor untuk mengurus ijazahku yang tak kunjung tiba.
Kembali ke kos lamaku, bersama adikku yang saat ini menjadi maba di kampus yang sama juga. Belum bisa tidur dan jadi mengenang masa-masa merantau di kala itu. Menjadi angkatan online membuatku iri dengan adikku, karena aku tidak merasakan semester awal yang masih menyenangkan dan banyak waktu main bersama teman-teman di kampus secara langsung. Waktu itu, aku hanya menghabiskan waktu di depan laptop, mengikuti kelas dengan setengah ngantuk, atau dengan konsentrasi yang terbagi dua ketika jadwal kelas berbarengan dengan pertandingan tim NBA kesukaanku, dan banyak aktivitas lain yang dilakukan sendiri selama kelas online. Semester 5 mendapat pemberitahuan dari pihak kampus bahwa kegiatan perkuliahan bisa dilanjutkan secara hybrid. Tanpa berpikir panjang, langsung meminta izin mamaku, mencari kos untuk tempat tinggal, dan menyesuaikan tanggal berangkat.
Minggu pertama merantau dan tinggal sendiri di kos merupakan satu minggu yang cukup aneh bagiku. Rutinitas, suasana, dan jadwal sehari-hari yang belum berhasil aku tata ulang karena masih membiasakan diri dengan kamar baru, dan udara Jatinangor yang suuuuper dingin. Namun, seiring berjalannya waktu, di luar dugaan, ternyata aku berhasil beradaptasi dengan baik dan cepat. Berkat teman-teman yang selalu menemani dan menghiasi hari-hariku selama di Jatinangor. Sayangnya, pengalaman pertama menjadi mahasiswa offline kami langsung terpisahkan oleh KKN selama tiga bulan, dilanjutkan semester 6 dengan magang, semester 7 perkuliahan hybrid, sehingga banyak teman-teman yang memilih tetap di kota masing-masing untuk fokus menulis skripsi dan kuliah online. Saat itu, aku juga sedang banyak mengikuti penelitian dosen, sehingga waktu yang dihabiskan bersama teman-teman sangat sedikit. Semester 8, bertemupun kami sudah memiliki prioritas masing-masing, yaitu skripsi, sehingga sudah bukan waktunya terlalu banyak bermain. Meskipun demikian, dalam waktu yang singkat itu, aku tetap menikmati setiap proses dan kenangan berharga yang terjadi dengan diri sendiri dan teman-teman disekelilingku.
Jadi kalau ditanya, apakah kehidupan merantau terasa sepi atau malah bebas? Jawabanku dari pengalamanku sendiri kehidupan merantau itu seperti nano nano. Semua perasaan bisa muncul di waktu bersamaan atau berlanjutan. Aku memiliki beberapa waktu tertentu disaat merasa sepi dan sedih, rindu suasana rumah di Jakarta, rindu orang tua dan saudaraku. Tetapi aku juga merasa bebas, bebas bukan dalam hal negatif, melainkan bebas dalam menentukan segala sesuatunya sendiri, tentunya dengan tetap bertanggungjawab dengan pilihan yang aku ambil.
Dari merantau aku belajar menentukan segala sesuatu sendiri, mengatur keuangan selama satu bulan sendiri, menentukan menu masakan setiap harinya sendiri, membagi waktu antara urusan kuliah dengan main, membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan yang menjadi keinginan. Dari merantau aku juga banyak mengalami atau merasakan hal pertama kali. Pertama kali mengisi token listrik, pertama kali pergi malam-malam naik motor bersama teman-teman ke Punclut untuk makan mie instan dan kembali ke Jatinangor dini hari, pertama kali belajar masak dan mencari berbagai resep yang mudah dibuat dan cocok untuk anak kos, pertama kali mengurus diri sendiri ketika sakit serta pergi ke rumah sakit, dan masih banyak hal lainnya. Dapat menjadi contoh bahwa 'bebas' dalam merantau tidak selamanya buruk, tinggal bagaimana kita bijak menentukan aksi yang dilakukan, dan mempertimbangkan semua konsekuensinya sebelum mengambil keputusan tersebut. Bagiku, rasa sepi selama merantau bisa menjadi salah satu proses perenungan yang bisa kulakukan, untuk lebih menghargai diri sendiri dan orang-orang disekitarku, serta lingkungan, tempat tinggal, dan segala hal pendukung yang ada di sekelilingku. Jangan sampai rasa sepi yang dirasakan sementara, menjadi penghalang kita untuk mencoba sesuatu, karena menurutku, seperti di kolam renang, kalau kita hanya celup celup kaki dan merasa dingin jadi tidak berani nyebur, kita tidak akan tahu rasanya kalau sudah di dalam kolam tuh sebenarnya hangat dan menenangkan. Jadi, lebih baik mencoba dan merasakan dulu untuk mengetahui cocok atau tidaknya. Kalau dalam ceritaku kali ini, merantau meninggalkan memori yang baik dan sangat berharga, malah membuat aku ketagihan tinggal yang jauh dari rumah untuk mengenal lebih banyak wilayah lainnya, terutama di Indonesia.
Ada yang sama sepertiku gak sih?