AES 003 Kematian Yang Gembira
Gunawan Muhtar
Sunday August 10 2025, 2:50 PM
AES 003 Kematian Yang Gembira

Awal tahun 2000an, 7 hari sebelum meninggal, almarhum kakek, yang dikeluarga kami dikenal sebagai seorang penganut Ajar Pikukuh Sunda (orang umum menyebutnya Sunda Wiwitan / Sunda Buhun), mengumpulkan keluarga besar kami di Subang, Jawa Barat. Beliau memberi tahu seluruh keluarga bahwa “ Abah rek balik” – Abah mau pulang, dengan muka berseri seri dan ekspresi tubuh setengah berjingkrak bahagia sekali, persis seperti anak kecil yang mau pulang ke rumah orang tua yang lama dirindukannya.

7 hari menjelang kematiannya, Abah banyak memberikan nasihat, berupa siloka, atau perumpamaan-perumpamaan kepada kami, salah satu yang paling saya ingat adalah:

“ Tong neang ka nu jauh, tong mumuru ka lembur batur. Da nu diteangan mah aya didieu” (Jangan mencari ke yang jauh, jangan mencari di negeri orang. Karena yang dicari ada nya disini) – sambil menunjuk kedalam dada dan jidatnya sendiri.

Beliau wafat sambil berbaring 7 hari kemudian. Saya SMP ketika itu, peristiwa ini cukup berpengaruh besar kepada saya dalam memahami spiritualitas dan potensi kesadaran manusia. Fenomena seseorang yang begitu terbuka menyambut kematian dengan bahagia dan gembira adalah fenomena langka, dan merupakan pencapaian spiritual yang tidak semua jiwa bisa sampai dititik itu.

Dalam banyak ajaran spiritual didunia, kematian dipandang sebagai sesuatu yang alami dan menyenangkan alih alih ditakuti dan dihindari. Di Nusantara misalnya, secara eksplisit dalam banyak ajaran dipahami, bahwa kematian, sejatinya hanyalah proses kesadaran individu (Jagat Alit), melebur kedalam kesadaran semesta (Jagat Agung), serupa setitik air yang kembali melebur dengan samudera tanpa batas.

Di komunitas Osho (salah satu tokoh spiritual terkenal di India) misalnya, kematian dirayakan dengan tarian dan nyanyian. Seraya mengucapkan selamat kepada jiwa yang baru saja berpulang, karena telah mengalami pengalaman rasa sebagai manusia.

Di Bali, ada tradisi Ngaben. Ngaben sebetulnya bukan hanya ritual pembakaran jenasah, tapi secara esensi adalah merayakan kepergian seseorang, yang juga diiringi musik dan tarian. Walau saat ini Ngaben sendiri mulai bergeser jadi hanya semacam ritual, tapi esensi ngaben jika merujuk kepada ajaran Tirtha di Bali, sebetulnya adalah perayaan.

Syeh Siti Jenar, salah satu tokoh tassawuf Islam di tanah Jawa, berkata “ Bagi jiwa yang sudah terbangun (sadar) dan mengerti asal usulnya, kematian layaknya malam pertama yang ditunggu oleh pengantin baru”.

Jalaluddin Rumi (1207-1273), seorang tokoh spiritual Islam dari Persia, juga menyebut kematian sebagai proses indah serupa malam pengantin,  dimana jiwa kembali mengalami pengalaman kesadaran menyatu dengan Sang Pencipta.

“Hari kematian, adalah hari pernikahanku dengan keabadian”. Begitu kata Rumi dalam salah satu puisinya.

Kesadaran untuk memahami kematian sebagai proses alami yang menyenangkan, tentu bukan kesadaran yang bisa dicapai semua jiwa, karena bagi sebagian besar kita, terutama yang besar oleh dogma lingkungan dan agama, kematian adalah proses yang menakutkan, dimana pahala dan siksa abadi menanti. Tidak ada momen yang lebih menakutkan bagi sebagian besar kita, selain momen dimana kita mengakhiri nafas dan meninggalkan semua drama hidup kita dibumi.

Jiwa yang bisa dengan damai menyambut kematian secara gembira tentu bukan jiwa sembarangan, karena penerimaan ada pada getaran frequensi sangat tinggi, yang melampaui banyak vibrasi dimensi fisik, sesuatu yang membutuhkan proses evolusi batin yang sangat panjang.

Semoga sedikit membuka cakrawala tentang potensi kesadaran manusia yang tanpa batas.

Rahayu Sagung Dumadi

Andy Sutioso
@kak-andy   9 months ago
Wah asik banget. Nah tulisan ini nyambung sama tulisan kak @innocentiaine yang judulnya Desa Kincir Air - dari filem-filem pendeknya Akira Kurosawa.
https://ririungan.semipalar.sch.id/innocentiaine/blog/1253/aes74-desa-kincir-air
gunawanmch
@gunawan-muhtar   9 months ago
Menarik Kak Andy. Adik ipar, kebetulan seorang WNA Jepang dari Hokaido (disana, masih banyak warga Jepang yang memegang teguh nilai2 spiritual Zen) yang juga memegang teguh ajaran Zen dari keluarganya. Dimana kematian menjadi topik ringan yang dibahas gembira dimeja makan. Misalnya " Aku nanti kalo mati dibakar aja, terus di tabur di laut, simple aja lah " begitu katanya.