Ibarat tubuh kita (yang adalah semesta pada skala yang lebih kecil), dari rambut, kulit, sampai seluruh organ tubuh yang tak terlihat, semua bagian diperlukan dan memiliki fungsinya masing masing. Tidak ada bagian tubuh yang kurang penting, atau lebih penting dibanding yang lain. Yang membedakan adalah fungsi yang dibawanya.
Mana yang lebih baik misalnya, lubang mulut, atau (maaf) lubang anus ? Mana yang lebih mulia kira kira, tangan kanan atau tangan kiri? Mata atau telinga dll. Semuanya saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain. Itulah kira kira gambaran semesta yang lebih luas.
Alam semesta (jagat agung) pun demikian. Seluruh keberadaan di alam ini diperlukan dan sama pentingnya sebagaimana dijelaskan ilmu fisika quantum lewat superposisi, entanglement quantum, Prinsip Ketidakpastian Heisenberg, dll (detail nya kita bahas nanti karena terlalu "Science").
Presiden diperlukan, tukang rumput diperlukan. Guru harus ada, yang jadi murid juga harus ada. Harus ada orang baik, pun harus ada orang jahat. Semua kehadiran diperlukan, serupa air dan api yang sama sama dibutuhkan dengan pengalaman yang dibawanya masing masing. Gelap dan terang, sedih dan bahagia, iblis dan malaikat dll hanyalah rupa rupa bentuk pengalaman kesadaran.
Ibarat hidup adalah perjalanan dari Jakarta ke Bandung, maka tujuan akhir kehidupan bukanlah sampai di Bandungnya, tapi justru mengalami pengalaman sepanjang perjalanan itulah tujuan nya.
Kehidupan itu sendiri, mengalami hidup dan ada sebagai bagian dari sistem kehidupan dengan pengalaman rasanya masing masing adalah tujuan (bila kita labeli tujuan) dari kesadaran individu dalam proses evolusinya kembali melebur menjadi segala sesuatu.
Serupa air yang mengalami rasanya jadi setitik embun, air hujan, riak sungai, air comberan, air seni, dlll. Semua hanyalah bentuk pengalaman rasa sementara nya sebagai setitik air yang sedang terpisah dari samudera.
Segenap keberadaan berevolusi lewat pengalaman nya masing masing. Bukan hanya manusia. Dari atom, mineral, tumbuhan, hewan, manusia dan mahluk lain yang tak terdefinisikan bentuknya, berevolusi untuk kembali mengalami dirinya menjadi segala sesuatu. Kita yang saat ini sedang mengalami pengalaman rasa sebagai manusia dengan kisah kita masing masing, hanyalah setitik air dalam samudera kesadaran yang sedang mengalami dirinya menjadi segala sesuatu.
Pengalaman rasa sementara, yang bukan akhir dari perjalanan evolusi kita, juga bukan awal. Ini hanyalah satu dari tak terhingganya bentuk pengalaman yang bisa kita alami sebagai kesadaran.
Titik dimana kesadaran sudah kembali menjadi segala sesuatu itu yang dalam bahasa umum disebut Moksa, Islam menyebutnya Innalilahi Wa Inailahi Rajiun, Yesus menyebutnya "Aku dan Bapa adalah satu". Upanisad menyebutnya "Aham brahmāsmi"
Mugia Rahayu Sagung Dumadi
Ilustrasi foto adalah Sanjiwani, usia 1.5 tahun ketika meditasi di Gunung Padang.
Wonderful take! Terima kasih!
Wow... pengalamannya Sanji luar biasa... Tapi anak memang punya kepekaan luar biasa terhadap hal-hal semacam ini. Mereka sangat peka membaca enerji ya. Saya punya beberapa pengalaman sama anak saya @rico melalui bentuk pengalaman yang berbeda. 🙏🏼🤗