Saya punya uneg-uneg (doesn't it everybody? ahaha) dan saya bukan tipe orang yang diam saja jika ada sesuatu ganjalan karena lambat laun hal-hal negatif akan mulai menggerogoti diri dari dalam. Itu bukan hal yang baik sehingga saya segera mengambil keputusan. "Let it out and get over with" karena pada prinsipnya bagi saya: "if you can do something about it, then do it or just be quiet and forget it."
Awalnya sederhana. Seseorang memberikan informasi yang kemudian jika dikaitkan dengan posisi saya di kantor, maka akan membuat team saya seolah-olah "underappreciated" Untuk itu saya merasa ada yang perlu diangkat untuk didiskusikan dan itu harus dimulai dari pihak saya. Kalau ngedumel saja, jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Ngedumel itu bukan cara yang efektif untuk didengar, yang ada justru mengganggu dan orang lain sama sekali tidak menyukainya. Apalagi jika concerns yang saya miliki itu berkaitan dengan pembuat keputusan. Yang paling efektif adalah menyatakan concerns yang saya miliki dan membuka jalur diskusi agar situasinya dapat ditanggulangi.
Saya berbicara dengan seorang rekan kerja, dan saya memutuskan pada saat itu juga untuk mengungkapkannya pada atasan. Benar saja, atasan saya saja tidak tahu hahaha.. Nah bayangkan jika saya ngedumel sampai Lebaran juga situasi ini tidak akan pernah terjawab sebab pada dasarnya "tidak diketahui" dan jika tidak diketahui maka eksistensinya juga tidak ada!
"Thank you for bringing it up, Jo. Otherwise, I would never know, I will talk to our associate director and let you know what he says. After that, if you want, you can email him about your concerns" Kata boss saya. Beres!
Saya pernah membaca dan belajar tentang cara berkomunikasi. Pada dasarnya ketika ingin menyampaikan sebuah concern, yang perlu kita pertimbangkan adalah 3 hal. Cara berkomunikasi bisa agresif, submisif atau asertif. Cara agresif seringkali tidak akan berhasil dengan efektif karena cenderung menekan, menuntut dan memerintah pihak lain. Kategori submisif juga tidak akan efektif. Orang yang submisif biasanya penakut dan mereka hanya berani berbicara di belakang, ngedumel, segan atau takut berpendapat lalu akhirnya hanya menyimpan sendiri. Jelas kategori ini tidak efektif dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Berbeda dengan orang yang asertif. Mereka adalah orang yang mampu mengutarakan pendapat atau perasaannya karena ia sangat menghargai dirinya sendiri tanpa menjatuhkan atau menyalahkan orang lain. Yang terpenting adalah addesssing the facts, lalu menyodorkan permasalahan yang ada. Dengan mengungkapkan fata yang ada, diskusi bisa lebih terarah dan setiap orang dapat melihat inti masalahnya tanpa harus berurusan dengan emosi. Nah gaya yang agresif otomatis akan menimbulkan pergesekan karena ada faktor tekanan atau intimidasi. Gaya asertif lebih melihat permasalahan sesuai dengan porsi dan fakta. Tidak ada gunanya toh jika permasalahan dibahas dengan urat leher? Emosi pada dasarnya hanya akan menutup kemungkinan kita melihat situasi secara objektif. Karena emosi menutup mata dan telinga!
"Hi, Kelly. Do you have a minute?" Kata saya sesudah mengetuk pintu, masuk lalu menarik kursi mendekati meja atasan saya dan duduk.
"Yes, of course. What's up?" Tanyanya
"I have some concerns. Do you know that the management will erase Material Handler I and will bump all of them up to MH II? It means that they will get..." Saya mulai bercerita dan menjabarkan semua fakta yang ada lalu dikaitkan dengan posisi kami dan bagaimana kondisi ini bagi team kami sangat mengecilkan hati dan perlu semacam adjustment karena pada dasarnya material handler adalah pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan skill, sementara pekerjaan kami butuh ketrampilan dan pengetahuan tertentu.
Saya merasa beruntung menjadi orang yang senang membaca segala hal. Sedikit bacaan tentang cara berkomunikasi membantu saya untuk melepaskan faktor emosi ketika mengutarakan permasalahan, dapat menyampaikan kondisi dan fakta lapangan dan dapat to the point menyampaikan keprihatinan saya. Dan sambutannya? Positif! Tidak ada yang ngomel-ngomel, keprihatian saya bisa disampaikan dan akan diteruskan kepada direktur. Semoga saja nanti ada jawaban yang memuaskan. Jadi terbukti bahwa belajar itu tidak pernah tamat. Saya hari ini belajar mempraktikan pengetahuan saya tentang cara berkomunikasi yang efektif hehehe..
Foto Credit: thoughtsonlifeandlove.com