AES072 - Euforia Hujan di Smipa
Ara Djati
Friday November 1 2024, 6:50 PM
AES072 - Euforia Hujan di Smipa

Musim hujan di Smipa selalu mengundang banyak keluhan. Toilet yang tergenang, payung yang kurang, ruangan kelas yang basah kena tempias hujan. Tapi, sekaligus, membawa banyak keseruan. Temanku pernah berkata, di Smipa, segala kesulitan dan perasaan terjebak oleh hujan, bisa memaksa kita untuk bonding. Dan memang benar: mau-tak-mau kita harus berbagi payung, lari-larian menerjang hujan, mencari sendal jepit yang terbawa arus, titip diambilkan tempat bekal. Atau, terjebak itu tadi: pulang-pergi kakak dan anak dan orangtua, semua jadi terhambat. Semua harus berlindung di bawah genteng yang sempit. Kita jadi terpaksa untuk berhenti, menunggu. Kita jadi terpaksa untuk tidak buru-buru. Kita jadi terpaksa untuk bertemu, mengobrol, bercanda, membantu.

Sampai rumah, kaki kita dingin, tas kita basah kuyup. Tapi ada euforia tertentu di baliknya. Yang kita ingat bukan basah-basahnya, tapi basah-basah bersama teman-teman, basah-basah bersama, bersama.

Yang paling kami tunggu-tunggu waktu kecil adalah munculnya kolam renang! Lubang kosong teater, yang panas membakar di musim kemarau, kini akan terrendam air hujan. Jika hujannya sedikit, hanya akan becek, kurang menyenangkan. Tapi, begitu hujan mulai deras tak terhenti, kami menunggu-nunggu waktu istirahat. Begitu langit sudah kosong, teater telah terisi penuh setumit.

Tadi, sepulang sekolah, anak-anak KB sedang bermain di kolam renang teater. Mereka melompat-lompat di ban, saling menyiprat, berguling-guling di dalam air. Dulu kami juga begitu. Kini, melihat mereka, banyak kekhawatiran: kalau masuk angin? Kalau airnya kotor? Yang paling utama, aduh, itu bajunya dicucinya repot, sudah berlumpur begitu!

Tapi aku rindu berkecipuk dalam air di teater. Jadi, kami menggulung celana kami, menaikkan rok kami, dan ikut bermain bersama mereka.

You May Also Like