AES163 HUT RI:Bukan Untuk Kita
carloslos
Sunday August 17 2025, 3:37 PM
AES163 HUT RI:Bukan Untuk Kita

Halo teman-teman yang budiman, saya sudah merasa letih sejujurnya. Sejak menulis “Yang Mulia” kemarin, kepala saya seperti sol sepatu tua: aus, tipis, dan siap sobek kalau dipaksa jalan lebih jauh. Tapi entah kenapa setiap kali bulan Agustus datang, saya selalu merasa harus menulis sesuatu tentang negeri ini. Mungkin karena kita sudah terlalu sering dipaksa untuk tersenyum saat kenyataan di depan mata justru mengundang murka.

Kali ini saya mau menulis se-positif mungkin. Positif meskipun dalam tubuh saya, kritik itu sudah mengalir seperti darah. Saya ingin bicara tentang harapan sederhana, bukan mimpi besar apalagi bukan retorika pidato pejabat yang suaranya lebih keras dari kerja nyatanya. Harapan saya hanya satu: transportasi umum yang mumpuni.

Saya pelajar, belum bekerja apalagi mencari nafkah dengan keringat yang menetes di jalan raya. Tapi dari sekian banyak masalah negara ini, saya rasa cukup kalau negara bisa memberi kami, rakyat biasa cara pergi sekolah, kerja, atau sekadar pulang ke rumah tanpa harus bergelut dengan debu, macet, dan ongkos yang mencekik. Itu saja saya tidak muluk-muluk minta gratis, tidak mimpi kereta secepat Jepang, atau bus secanggih Eropa. Saya hanya minta jangan sampai kaki saya merasa lebih berguna daripada kendaraan yang katanya disiapkan pemerintah.

Lucunya ulang tahun negara ini lebih sering terasa seperti pesta yang bukan milik kita. Tiap 17 Agustus bendera dikibarkan, panggung dibangun, pejabat duduk rapi di kursi empuk, kamera menyorot wajah serius mereka seolah sedang ikut berperang kembali. Tapi di jalanan, rakyat masih harus berebut ruang hidup.

Saya merasa tahun ini, ulang tahun adik saya yang ke-14 justru lebih meriah daripada upacara kemerdekaan. Di rumah ada tawa, ada kue sederhana, ada kebahagiaan kecil yang tulus. Sementara di televisi, yang saya lihat hanya barisan tentara, pidato panjang, dan bendera berkibar di langit Jakarta. Pertanyaan saya: kemerdekaan itu untuk siapa? Kalau untuk rakyat, kenapa yang sederhana saja seperti transportasi umum yang manusiawi tidak bisa kita nikmati bersama?

Harapan saya untuk setahun ke depan masih sama: semoga negara ini berhenti merayakan ulang tahunnya dengan gegap gempita di panggung besar, tapi lupa bahwa rakyatnya masih jalan kaki di trotoar yang bolong. Karena kemerdekaan, mestinya bukan hanya seremoni tapi juga cara negara menghormati warganya yang setiap hari berjuang hidup, meski tak pernah masuk berita.

Andy Sutioso
@kak-andy   8 months ago
Terima kasih Carlos. Sepertinya tulisan ini nyambung dengan posting saya yang judulnya Seremonial...
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/7826/aes828-seremonial
Saya sepakat dengan pandangan Carlos. Ini perspektif yang sangat penting buat kita semua.
You May Also Like