Bunyi bor yang kencang dari halaman belakang sama sekali tidak menggangu saya yang sedang bernostalgia. Di halaman belakang memang ada beberapa orang pekerja yang sedang merapikan perpipaan dan kamar mandi belakang yang akan saya fungsikan kembali setelah sekian lama terbengkalai. Sepertinya orang yang meninggali rumah saya tidak terlalu peduli dengan rumah yang mereka tinggali, ini semacam pelajaran bagi saya untuk lebih arif dalam mempercayai orang lain. Pengalaman yang sangat mahal. Eniwei, pagi ini saya bukan berniat untuk mengeluh, saya sudah menerima keadaan, iklas dan move on.
Saya mengambil sepotong kecimpring pedas yang beberapa hari lalu saya beli di pasar modern Kota Baru Parahyangan. Ini sudah kali ketiga saya membeli di sana, kebetulan saya memang membutuhkan beberapa barang dari toko barang kebutuhan rumah tangga dan furnitur asal negara Swedia. Kecimpring merupakan makanan kecil kesukaan saya, mirip opak tapi dibuat dari singkong. Ini mengingatkan jajanan ketika saya kecil karena nenek saya pernah berjualan makanan ini. Waktu kecil saya senang membantu nenek memarut singkong lalu mencampurnya dengan bumbu-bumbu dan kemudian menemani nenek saya memipihkan adonan kecimpring lalu tempelkan pada tutup panci dan ditutupkan ke panci dengan air mendidih. Begitu cara membuatnya, diuap atau dikukus dengan cara sederhana. Proses penguapan atau pengukusan hanya sebentar lalu dengan hati-hati dilepaskan dari tutup panci dan ditata dengan rapih untuk dijemur. Sesudah betul-betul kering, memakan waktu beberapa hari, baru kemudian digoreng dan dikemas dalam kantong plastik lalu dijual diwarung depan rumah. Disamping membantu dan menemani proses memasak, saya juga membantu mendistribusikan ke warung dan menerima pembayaran. Itu jaman saya masih SD kecil.
Pada saat itu membuat kecimpring bagi saya seperti bermain. Kalau teman-teman bermain dengan malam (playdough), saya dengan adonan kecimpring hahaha.. Mungkin itu merupakan bibit-bibit awal saya senang urusan dapur. Ingatan saya tentang dapur sebetulnya jauh lebih awal lagi dari itu, pada saat saya belum sekolah dan masih mengenakan celana monyet. Pernah mengenal celana monyet? Itu onesie yang biasa dipakai anak-anak balita. Kok saya sudah punya ingatan jaman sebelum TK? Hahaha.. karena ini cerita seru yang selalu diceritakan ketika ada pertemuan keluarga. Mendiang Oom saya dulu sering berkunjung ke kampung. Adik ayah saya itu juga senang memasak. Suatu pagi beliau sedang memasak nasi goreng kunyit, ini kegemaran saya sejak balita. Begitu tahu oom memasak, saya langsung mengambil piring kaleng dan berjalan ke dapur menemani oom masak. Saat itu masih pagi sekali, dan di kampung dapur hanya ala kadarnya, jadi sambil masak sering kali duduk di dingklik, jojodog atau bangku pendek. Ketika nasi goreng sudah selesai, oom mengaduknya di lantai sebelum ditaruh di piring. Saya tidak mau ketinggalan berjongkok memegang piring kaleng didepan wajan dengan nasi goreng yang harum. Seperti saya katakan tadi, saat itu masih pagi, saya baru bangun tidur dan belum pipis, celana monyet saya ada lubang di depan yang belum ditambal, lalu tanpa sadar saya pipis mengenai wajan penuh nasi goreng itu! Hahaha... Ini kisah nyata dan menjadi cerita legedaris yang selalu diceritakan mendiang oom saya ketika berkunjung!
Kembali ke kecimpring. Kenapa saya sangat menyukainya? Sebenarnya jika menilik rasa, kecimpring ya biasa saja, sama seperti keripik-keripik lainnya. Keripik kentang bahkan lebih bergengsi sebab sudah diadopsi oleh perusahaan raksasa yang bergerak secara internasional seperti misalnya perusahaan Frito Lays yang menjual segala macam keripik ketang dan juga keripik berbahan jagung, tapi yang terbuat dari singkong belum banyak. Keripik dari singkong kalah populer, apalagi pembuatan kecimpring memakan banyak waktu disamping diuap/kukus dan masih harus dijemur. Harganya kalah dibanding dengan kerupuk udang walau prosesnya hampir mirip, melalui proses pengukusan dalam bentuk log, kemudian diiris tipis-tipis lalu dijemur hingga kering. Kecimpring nilai jualnya juga termasuk rendah dibanding keripik-keripik primadona lainnya. Nah saya menyukainya karena memiliki nilai nostalgik! Makan kecimpring mengingatkan pada masa kecil dan nenek saya, disamping murah dan yang pasti enak! Hahahah..
Sepertinya gitu ya Pak kita suka makanan selain rasanya ya karna rasa kenangannya. Kecimpring emang top!
Betul sekali. Ada emotional value nya hahahaha
Esai yang renyah... Tapi asik banget memori tentang keluarga memang muncul dari hal-hal yang renyah seperti ini. Nomor cantik nih esainya, 1234 ππΌππΌπ
Keluarga jaman dulu gitu kak Andy, senang ngariung dan ngobrol. Jaman sekarang duduk ngariung tapi tidak ngobrol, semua asyik dengan gadget hehehehe