Maksimal, adalah sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, sebaik-baiknya (KBBI). Artinya, maksimal bisa jadi merupakan suatu infinity yang berbatas suatu kali. Misalnya, mencapai konsumen setinggi-tingginya. Untuk mencapainya, membutuhkan usaha. Usahanya perlu maksimal agar hasilnya maksimal, yaitu dengan berusaha dan melakukan metode secara optimal apapun caranya. Karena itu, kalau ada kecacatan apapun dari yang kita kerjakan, kita tidak bisa 'maksimal' menurut KBBI. Kalau ada sesuatu yang sebenarnya bisa di-improve, artinya belum maksimal. Maksimal itu 100%. Tidak ada 95% atau 98% yang maksimal, dan meskipun tetap baik, tidak bisa ditolerir masuk ke kata 'maksimal' mencapai batas akhir dari yang bisa dicapai.
Apakah ada contoh maksimal? Contoh yang terdekat, yaitu mengerjakan sesuatu yang memiliki nilai, dan batasan yang logis. Misalnya, mengerjakan suatu review ataupun ujian yang berstandar, dari sekolah konvensional. Kalau 10/10 nilainya, itu baru maksimal. Standarisasi seperti itulah yang biasanya terjadi pada sehari-hari kita. Maksimal dalam konteks tersebut, bisa dibilang mudah untuk dicapai karena titik akhirnya jelas dan terstruktur. Secara naturalnya, tidak ada review/ujian dimana diberikan nilai bonus untuk pesertanya, yang malah memungkinkan untuk mencapai nilai lebih dari 100.
Sementara, dalam konteks lainnya maksimal itu sulit dicapai. Misalnya, ada suatu proyek pembangunan gedung pemerintahan. Ketika selesai, apakah proyeknya maksimal? Berapa standar terukur dari proyek pembangunan tersebut, yang menyebabkan bisa dikatakannya seperti itu? Tidak mungkin, tidak ada kendala dalam proyek tersebut, diduga maupun tidak. Pasti juga ada banyak hal (tidak hanya 1) yang tidak berjalan sesuai rencana dan juga bayangan. Karena itu, makanya proyek tersebut tidak bisa dikatakan maksimal dalam artian yang aslinya. Dalam kasus tersebut, nyaris mustahil bisa mencapai sesuatu yang maksimal benar-benar batasan maksimalnya, karena selalu ada aja kekurangannya.
Maksimal itu relatif, dan selama ini ternyata terjadi kesalahan penggunaan kata-nya dimana apapun yang berhasil dan bagus, dipenuhi dengan usaha akan maksimal. Padahal tidak. Usaha yang baik, belum tentu usaha yang maksimal. Hasil yang baik, belum tentu memiliki usaha yang baik, dan belum tentu maksimal. Bagaimana mau 'maksimal', kalau hasilnya aja belum baik? Bagaimana mau maksimal, kalau usahanya aja belum baik? Bagaimana mau maksimal, kalau usahanya dan hasilnya belum benar-benar maksimal?
Manusia adalah makhluk yang berkebatasan, kita tidak bisa mencapai yang paling terbaik dan setinggi-tingginya semau kita. Dari hasil kesimpulannya, jangan menggunakan kata 'maksimal' secara sembarang. Kalau sedang presentasi, sering sekali mendengar orang bilang bahwa 'proyek kami sudah maksimal dan akan kami lanjutkan'. Pasti masih banyak titik cacatnya, terutama kalau usahanya malas. Daripada berkata seperti itu, lebih baik bilang 'Proyek kami sudah mencapai tujuan dan visi awal yang kami rencanakan, berkat usaha kami'. Begitu dong, jangan mengada-ngada mengambil kesimpulan 'Maksimal' kalau memang kenyataannya semua itu tidak ada yang pernah maksimal, selalu ada yang lebih baik. Mungkin 80% efektif dianggap maksimal, padahal itu adalah kategori sangat baik bukannya maksimal menurutku.
Jangan pernah merasa cukup atas suatu pencapaian, karena tidak ada yang namanya berhenti dan puas dengan keadaan saat ini. Itu sebabnya kita belajar tanpa berhenti, karena selalu ada hal yang belum maksimal. Dengan begitu, kita bersikap rendah hati dan menerima apa adanya, memiliki bensin yang cukup untuk dipakai pada lain kali.
Keren. 👍🙂