Orang-orang kebanyakan memiliki orang lain di hidupnya, yang menjadi standar dan inspirasi dalam gaya hidupnya. Misalnya, inspirasinya yaitu seorang tokoh aktivis politik. Atau mungkin, vlogger youtube mengenai pola hidup sehat. Apapun itu, sudah pasti ada hal positif yang bisa ditiru dan diterapkan sehari-hari. Kalau tokoh aktivis politik, hal yang ditiru misalnya ideologi dan pendapatnya. Misalnya, non-korupsi, demokratis, keseharian yang baik, rajin. Kalau vlogger, misalnya diet pola makan, workout, liburannya, dan lain-lain. Pokoknya, orang-orang tersebut menjadi patokan sebagai 'manusia yg mantap' pada kehidupan seseorang.
Kalau aku sendiri, mungkin secara permukaan tidak terlalu punya orang yang menjadi inspirasi seperti itu. Digali lagi, aku sendiri pikir kalau semua orang itu jelas tidak ada yang sempurna. Bahkan, tidak dekat sama sekali dengan kata sempurna. Sehingga, aku pikir kita itu berpatokan kepada seseorang di hidup yang menjadi role model, padahal tidak se-perfect yang kita bayangkan. Apa yang kita lihat di IG, belum tentu sebenarnya begitu dnegan orang tersebut. Mungkin itu alasannya mengapa aku tidak benar-benar memiliki orang yang menjadi patokan dalam hidup. Secara standar mungkin, aku hanya mengikuti standar rumah tangga saja ya wkwkwk.
Kembali lagi soal inspirasi. Sebenarnya, secara inspirasi ada saja orang-orang yang wah saat aku dengar kata-kata mengenai pendapatnya dan juga soal mentalnya. Salah satunya, adalah Kobe Bryant (rip). Dia adalah sosok legenda basket yang amat terkenal, memenangkan 5 kejuaraan selama karirnya. Hal yang unik darinya, selain permainan basketnya yang luar biasa, adalah mentalitasnya. Mentalitasnya sangat kuat dan menarik, dia memiliki tekad yang sangat sangat amat tinggi. Jelas aku berkata seperti itu, karena jarang sekali ada orang biasa yang memiliki tekad sekuat beliau. Terutama orang-orang yang sudah terkenal, sepertinya tidak ada yang memiliki tekad dan perjuangan sehebat dia.
Contoh dari tekadnya sangat banyak. Salah satunya, adalah kisahnya saat berada di olimpiade. Saat itu hari sudah malam menjelang subuh. Seluruh timnya dari AS yang baru sampai dari perjalanan pesawat, langsung menuju hotel dan tidur. Keesokan harinya, seluruh teman-temannya melihatnya melakukan pendinginan olahraga, sembari bangun tidur. Dan mereka terkejut sekaligus bingung semua, 'kenapa si Kobe sudah pagi-pagi latihan?'. Dalam sebuah podcast, salah satu temannya saat itu menceritakan mengenai Kobe yang saat itu sudah latihan dari jam 5 pagi, selesai jam 7 dan berlanjut lagi dari jam 8 hingga siang. Dari contoh kasus tersebut, sangat terbuktikan, mentalitas dan tekad untuk terus berlatih sangatlah kuat. Bahkan, untuk orang-orang biasa bisa dibilang pola latihannya extreme dan jauh melebihi atlet lain yang mungkin agak malas.
Contoh lainnya, yaitu saat dia berhadapan dengan Jordan pada tahun 2003. Kebetulan betul mengingat betul cerita ini. Saat itu, idola dari Kobe yaitu Jordan karena gaya bermain mereka sangatlah mirip. Juga, karena Jordan memang bisa dibilang pemain yang paling hebat sepanjang masa. Saat itu, sebenarnya permainan Jordan sudah ga segimana dibandingkan beberapa tahun lalunya, dan ia sudah di ambang pensiun bermain. Saat berhadapan, tim Lakers pimpinan Kobe kalah dengan selisih hanya 1 poin. Ia juga memakai sepatu bermerk Jordan Brand. Maka karena itu, setelah permainan Jordan sempat berkata "You can wear them shoes but you can never fill em". Artinya, adalah sebuah sindiran mengenai memakai sepatu bermerk Jordan tetapi tidak bisa memenuhi gaya main dan legenda Jordan. Kebetulan juga gaya main mereka berdua sangat mirip, dan orang-orang memperkirakan bahwa Jordan akan mengestafetkan dan menurunkan gelar 'pemain terbaik di liga' ke Kobe. Karena itupun, ia mengeluarkan sindiran tersebut. Dari permainan tersebut, Kobe sampai sangat kesal, marah dan selama 2 minggu ia tidak berbicara ke siapa-siapa pada masa latihan rutin tim. Rekan-rekan setimnya, malahan bingung apa kesalahan yang terjadi diantara mereka sehingga tidak berbicara ke siapa-siapa seperti itu.
2 minggu berikutnya Jordan mampir untuk bertanding melawan Kobe, ia sudah siap. Membuktikan dan memberikan peringatan kepadanya atas pernyataannya sebelumnya. Sehingga dalam pertandingan itu, Kobe mencetak 55 poin total dan menang telak atas Wizards. Itu menjadi pertandingan terakhir antara Kobe dan Jordan sebelum Jordan pensiun. Sangat diyakinkan, bahwa tekad Kobe yang ekstrem membuahkan hasil baginya pada pertandingan tersebut. Pertandingan itu, menjadi salah satu pertandingan balas dendam yang paling 'bisa dibilang' legendaris dan masih diingat hingga saat ini.
Karena mentalitas tersebut yang sangat luar biasa menurutku, aku sendiri jadi memiliki panutan secara mentalitas dalam keseharianku. Meskipun dengan menyemangati diri sendiri, tapi aku yakin dengan mentalitas tersebut, bahwa support mental diri sendiri pun bisa jauh lebih baik daripada support yang diberikan oleh orang-orang sekitar. Dari mentalitas tersebut pula, Kobe membuat buku mengenai perjalanan hidupnya dan 'mamba mentality' nya.
Salah satu orang lain yang menjadi inspirasi bagiku, adalah Steve Jobs. Aku pernah mendengar ceritanya melalui salah satu 'speech' nya, mengenai 3 hal yang paling penting, yang ia pelajari selama hidupnya. Mengenai connecting the dots, love and loss, dan death. Dari hal yang pertama, yang ia katakan sangat menginspirasional. Saat itu, ia drop-out dari kuliahnya karena kekurangan biaya. Bahkan makan pun hanya seminggu sekali makan enak. Dari sana, ia mengambil kelas kaligrafi yang berbeda dari kelas yang normal. Disana ia belajar kaligrafi, namun pastinya berpikir; apa kegunaannya yang bisa diambil untuk nanti kehidupan sehari-hari? Karena saat itu ia tidak langsung merasakan dampak kaligrafi. Tetapi, 10 tahun kemudian, saat ia menciptakan komputer Mac pertama, kaligrafi tersebut malah menjadi berguna dan bisa diaplikasikan menjadi font, yang saat ini kita ketik. Menjadikan Mac komputer pertama yang memiliki struktur tipografi yang baik daripada komputer lain. Jika ia saat itu tidak belajar kaligrafi, mungkin saat itu tidak akan ada penciptaan komputer dengan tipografi yang baik. Bahkan Windows pun mengikuti jejak Mac dalam font-nya. Jika ia tidak mengikuti kelas kaligrafi, mungkin hingga beberapa lama setelah itu tidak akan ada PC yang memilikinya. Jika ia tidak drop-out dari kuliahnya, ia tidak akan mengikuti kelas kaligrafi, dan tidak akan ada komputer dengan tipografi yang baik. Itu adalah rangkuman dari connecting the dots, bahwa yang remeh bisa mempengaruhi masa depan dunia. Yang terasa tidak penting, menemukan dots yang disambungkan satu sama lain. Titik-titik tidak bisa disambungkan saat ia masih di kuliah, tetapi bisa terlihat saat 10 tahun kemudian. Kita tidak bisa melihatnya ke depan, hanya ke belakang saat sudah dilalui. Jadi, jangan kuatir, kau harus yakin akan jalan yang ditempuh. Meskipun keluar dari jalur rencana sekalipun, kita perlu yakin bahwa titik-titik tersebut akan bersambung di depannya. Itu baru 1 topik yang dibahas.
Cukup sampai sini saja, dari kedua orang itu, menurutku aku belajar sangat banyak dan bisa dijadikan panutan. Meskipun ada beberapa aspek yang mungkin tidak ditiru dari inspirasi (misalnya Kobe yang egois), namun ada hal-hal spektakuler yang terbaring di depannya.