Dalam kesabaran, kita tahan, mengendalikan cobaan dan tabah. Dalam kesabaran, artian lainnya ialah menunggu hingga tiba saatnya. Sabar itu sangat baik, namun tentunya diperlukan kemampuan untuk menjalankannya dengan baik. Misalnya, kalau ingin sabar dalam mengendalikan amarah, kita perlu berusaha. Tidak bisa seketika kita sabar dengan segala sesuatu, karena semua hal butuh adaptasi yang dilakukan. Misalnya, kalau memang tidak memiliki kesabaran sama sekali, adaptasi yang dilakukan tidak bisa secara langsung. Misalnya mulai dari 10%, 20%, dan seterusnya. Prosesnya, tidak selalu harus cepat dan instan. Tidak apa-apa lama karena namanya juga proses. Yang penting, jika dicicil hasilnya bisa maksimal.
Untuk sabar, kita perlu menerima. Menerima dalam artian, agak ke menolerir. Jika ada sesuatu yang membuat kita marah, sesuatu yang membuat emosi kita terjolak, kita bisa sabar. Antara sabar diam saja, atau lebih ke menolerir dan menerima apa adanya terhadap perlakuan tersebut, itu semua tergantung kesabaran kita. Apapun yang maksudnya kesalahpahaman, ketidaksengajaan, dan sesuatu yang tidak besar gimana, bisa kita tolerir dan kita maafkan (secara tidak langsung) dengan cara sabar. Kalau sudah belum gimana, sudah marah-marah, situasi akan sangat tidak baik, dan malah tidak terkondisikan. Dampak yang ditimbulkan, ke orang lain juga. Malah jadi perusak suasana. Beda halnya, ketika masalahnya memang serius. Kalau masalahnya memang serius dan disengaja, memang kita boleh mengeluarkan emosi dan mengungkapkan perasaan kita. Kalau memang ada masalah pun, tanya dan diskusikan dulu, jangan langsung nyerocos marah dan play it hard. Melainkan, ngobrol dengan tenang dan 'diskusi' dahulu, siapa tahu tidak sengaja ataupun malah terjadi kesalahpahaman.
Karena itu, sabar ada batasnya. Batas titik rendah, dimana kita mulai perlu sabar dan menahan emosi. Batas tinggi, dimana kita tidak bisa ataupun tidak perlu sabar lagi, karena memang situasi sudah tinggi dan kita sendiri berpikir 'keterlaluan nih orang'. Kalau dalam kondisi tersebut, kita jangankan menahan kesabaran kita lagi, karena tidak pantas ditindaklanjuti dengan kesabaran. Kalau kita terlalu larut dalam me-nyabari orang lain, pasti akan menyesak rasanya. Misalnya hal tugas yang terlambat, tidak bisa ditolerir dan dibuat sabar. Dengan begitu, kita perlu mengatur tingkat batas kesabaran kita sendiri. Masing-masing orang pastinya beda, tergantung preferensi dan sifat masing-masing juga.