Nurani adalah...
Jawabannya sudah pernah dibahas toh. Sikap dari kita sehari-hari lah, yang menentukan sebenarnya nurani kita itu seperti apa. Nurani itu tidak hanya hubungan kita dengan Tuhan, namun juga pemaknaan dan juga ‘ideologis’ awal dari apapun yang kita lakukan.
Dari sana, masuk ke pemaknaan nurani dalam sehari-hari. Aku sebenarnya tidak terlalu tahu, impresi orang lain terhadap sikap nurani dalam diriku. Yang memperhatikan, hanyalah diriku sendiri. Dari kegiatan sehari-hari, aku memiliki mental dan pemikiran positif yang kuat, meskipun sebenarnya tidak semuanya teraplikasikan. Misalnya, kalau saat melakukan kegiatan secara mandiri. Dalam pikiranku, pasti selalu ‘fokus, fokus’. Aku yakin, kalau aku membawa diriku dalam pandangan positif, sudah pasti hasilnya akan lebih baik daripada tidak. Misalnya, kalau sedang lelah atau malas, aku tentunya, secara ideal harus mencari strategi bagaimana keluar dari situasi tersebut. Namun, kadang juga malah tidak dikerjakan, semuanya balik tergantung sikap dari diri sendiri. Contoh lainnya adalah ketika dalam keadaan terdesak. Kalau aku sedang terdesak, aku bawa diriku dalam pandang positif ‘berjuanglah dan terus usahalah hingga selesai’. Dalam keadaan tersebut, kadang aku bisa langsung bergerak secara sistematis, kadang juga perlu melepas berapa gangguan dan perlu determinasi lebih dulu, sehabis itu gerak.
Daripada menyesal belakangan, lebih baik dikerjakan. Susah susah di awal, bersenang kemudian. Itu sering sekali aku dengar saat sedang searching di internet Bukti nyatanya, palingan hanya 50%. Meskipun dirasa benar, bukan berarti dikerjakan 100%. Ada kalanya, rasa malas, capek, dan ingin melakukan hal lain mendominasi pikiran-pikiran tersebut. Dari nurani, bicaranya seperti itu. Namun, aku tidak mengerjakan sesuai nuraniku karena mengerjakan sesuai egoku.
Kalau nurani secara hubungan dengan Tuhan dihubungkan ke hal yang di atas, sejujurnya awalnya aku tidak terlalu kebayang. Namun, akhirnya aku tahu jawabannya. Semakin kita dekat dan semakin kita mengenal Tuhan yang kita pegang, semakin juga kita mengenal cara dan bagaimana menjalankan ‘hidup’ yang ideal. Semakin dekat dengan Tuhan, kita semakin punya yang namanya tujuan hidup. Dari sana, tentu kita bisa termotivasi dan bisa memiliki alasan kuat dan ideologis kuat. Itu yang sebenarnya dinamakan nurani. Aku sendiri, cukup bisa dibilang, memiliki komunikasi yang baik dengan Tuhan. Terkadang, ada patah hati ataupun firasat yang muncul tiba-tiba, yang membuatku mempertimbangkan dan mengubah keadaan. Firasat yang biasa dirasakan, ternyata benar di akhir, entah aku masih kaku dan keras hati, atau berubah pikiran.
Terhadap orang lain, nuraniku bisa dibilang kuat sekaligus tidak kuat. Di satu sisi, aku sangat menghargai hak orang lain dan batasan diri, bahkan dalam hal-hal kecil pun. Sampai dengan obrolan, bahan obrolan, aku sendiri pun menjaga hakku dan lebih suka kalau mengikuti topik obrolan orang lain (kira-kira kalau masuk seperti itu, apakah terlalu ekstrem atau gimana?) Saking menjaga batasan dan menghargai batasan diri, mungkin aku jadi terlalu ‘berpihak’ dan mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri saat dihadapi dengan satu situasi.
Namun di sisi lain aku suka lengah. Dalam artian, tidak sadar karena tidak fokus. Misalnya lagi berkunjung, tapi aku fokus ke melakukan pengamatan. Otomatis, aku lupa beretika dan tata krama. Saat sedang lengah, secara tidak sadar aku malah tidak mengetahui batasan yang sebenarnya perlu dijaga. Jangan-jangan, mungkin kurang biasa, meskipun pemikiran berkata lain.
Segitu saja mengenai nurani di dalam diriku, sebenarnya kurang kebayang karena kata ‘nurani’ sendiri itu abstrak dan bisa diartikan saling berbeda.