AES98 Melihat Sisi Positif
wulan bubuy
Friday October 24 2025, 4:58 PM
AES98 Melihat Sisi Positif

Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak memenangkan perlombaan tanpa adanya lawan. Lalu aku dengar sang ayah mengatakan, "Biar kamu ingat, kalau latihan itu harus sungguh-sungguh". 

Aku kehilangan kata, karena anak ini gak diberi ruang untuk dirinya terlepas apapun cerita dibalik itu. Seolah hidup hanyalah ruang pembuktian. Kita bisa begini, kemudian begitu akan berarti saat oranglain melihat, saat oranglain mengakui, saat oranglain memberikan like, saat oranglain mengucapkan selamat. Aku gak habis pikir kenapa hal itu menjadi begitu penting?

Tapi kemudian aku jadi kepikiran, gimana ya perasaan yang akan dibawa selamanya oleh si anak? Dan gimana dia akan tumbuh dengan perasaan-perasaan tersebut? Bisa gak dia jadi manusia yang melihat bahwa dirinya tetap berharga, tanpa perlu pembuktian dari oranglain? Atau bisa kah dia menjadi seseorang yang merasa memiliki ruang nyaman untuk jadi dirinya sendiri ketika lelah, ketika gak ingin lagi berjuang? 

Seiring dengan banyaknya tanya dalam diriku usai melihat video singkat tersebut, yang juga aku gak memahami untuk apa sebenarnya hal itu dibuat kemudian menjadi tontonan banyak mata. Aku berharap banyak yang tersadar akan konsekuensi terhadap pilihan sikap kita terhadap anak-anak. Mereka ini, sependek yang aku tahu, selalu ingin menjadi seseorang yang membanggakan orangtuanya. Mereka dengan mata polosnya, selalu ingin dekat dan disayang orangtuanya, apapun keadaannya. 

Lagi-lagi aku gagal paham tentang sisi-sisi yang seolah benar di mata orangtua, tapi ternyata melukai anak. Ini bukan berati aku gak pernah lakuin kesalahan. Justru, karena aku pernah ditanya sama anakku, "Aku harus gimana lagi bu?" yang bikin aku akhirnya melepaskan banyaknya tuntutan. Tapi juga bukan berarti membiarkan anak tumbuh gak terarah, sih. Hanya caranya mungkin, untuk bisa lebih sering melihat sisi-sisi positif yang ada, alih-alih terlalu fokus pada kekurangan. Karena rasanya kurang tepat jika terus menerus memantau hal yang 'udah mentok disitu' dan minta ditingkatkan. Hal ini juga yang aku jadikan pijakan, "Kenapa terus mendesak dengan pertanyaan apa yang kamu bisa? Kalau kita sebetulnya juga gak tau bisa bantu dari sisi yang mana." 

Pada akhirnya aku tersadar, sisi baik komunikasi antara orangtua dan anak memang perlu dibangun dengan kejujuran. Karena kadang, kekhawatiran itu yang membatasi segalanya. Mirisnya, belum tentu terjadi, lagi. Sehingga menurutku daripada memelihara rasa khawatir, alangkah baiknya kalau menggantinya dengan memperbanyak doa. 



Lei
@lei   5 months ago
ah iya aku liat juga video yang dimaksud.. sedih banget ngebayangin perasaan anaknya. kubayangkan pasti banyak dissonance di situ.. lah bukan salah gw lawan ga dateng? trs emg prestasi cm krn menang tarung? emgnya semua proses latian dan usaha ga ada bobotnya? apa iya smp kudu buang piala (mana nyampah ih pgn nimpuk). ah sedih aku mah, ga tega bgt huhu..
wulan bubuy
@wulan-bubuy   5 months ago
Leeii.. iyaaa, pertanyaan yang sama, dia disitu berani tampil dan mengalahkan diri sendiri juga sesuatu yang perlu diapresiasi loh. Hiks. Dan haha, iya nyampah! Semoga si neng juara ini, tetep dijaga hatinya ya, jadi anak yang ber-empati, menghargai orang lain, gak memandang rendah, gak nyepelin apapun dan banyak yang sayang sama dia.
You May Also Like