AES101: Menulis Essay 101
haegenquinston
Monday January 17 2022, 3:01 PM

101 hari lamanya sudah aku jalani kebiasaan yang namanya 'Atomic Essay' ini. Berawal dari awalnya rutinitas baru yang diperkenalkan kakak, dari awalnya punya pertanyaan setiap hari 'Kira-kira apa yang ingin saya tulis hari ini ya?' dan sampai saat ini dimana menulis essay sudah wajar bagi diriku. Seperti kata Kak Andy tadi siang, tulisan yang terpampang di essay hanya hasil. Proses membuat atomic essay ini bisa sangat stress di satu waktu. Namun, yang namanya konsisten, perlu terus dikerjakan. 

'Nyaho can tangtu ngarti, ngarti can tangtu bisa, bisa can tangtu tuman, tuman can tangtu ngajadi' adalah sebuah kalimat dari Aki Muhidin yang tadi dibahas. 

Sebagai gambaran besar, quote itu memiliki hubungan yang erat dengan atomic essay yang biasanya kita buat. Apakah dulu saya tahu essay itu apa? Jelas tahu, dan mengerti juga. Apakah bisa menulis essay? Aku sendiri bisa menulis essay. Namun apakah sudah biasa (tuman) dalam menulis essay tersebut? Tidak. Itulah awal mulanya atomic essay di Smipa dibangun dan dikerjakan secara rutin. Proses dari bisa menuju tuman, adalah proses yang tersulit. Kita perlu membiasakan diri sepanjang waktu yang sangat lama. Dalam hal ini, adalah 100+ hari.

Di balik setiap atomic essay yang aku buat, ada perjuangan dan perlawanan dari rasa malas. Tidak setiap hari itu sempurna dan cocok untuk kita mengerjakan dan menulis atomic essay. Ada kalanya, aku sangat malas sampai-sampai harus benar-benar memaksakan diri dan mementokkan kata ke batas 250 sebelum akhirnya tiduran. Karena saking inginnya tiduran, sampai-sampai aku juga bisa belajar menjadikan itu motivasi diri.

Lama kelamaan, kebiasaan menulis atomic essay ini sudah melekat pada diriku sehingga kesulitan menghadapi rasa lelah, bosan sudah berlalu. Konsistensi yang dibangun harusnya janganlah dihilangkan, karena budaya dan pergerakan yang kita lakukan malah hilang jika kita tidak lakukan lagi. Aku sendiri merasakannya ketika ada libur antara perubahan semester. Dari semester sebelumnya, kebiasaan menulis atomic essay yang aku lakukan malah cukup menurun karena sudah beberapa lama tidak melakukannya.

Hal lain yang kupelajarkan tadi siang adalah terkait kepemimpinan.

Semua orang adalah pemimpin, semua orang memiliki jiwa pemimpin. Hanya saja, ada orang yang cenderung lebih berpengalaman dan 'jago' dalam memimpin. 

Mengapa semua orang merupakan pemimpin? Karena untuk mengendalikan tubuh sendiri, kita perlu memimpin diri sendiri. Untuk bergerak melakukan sesuatu yang kita tidak terlalu mau (secara hati nurani), itu sulit. Namun, kalau pikiran dan mental kita bisa memimpin kita ke arah jalan yang benar, maka kita sudah bisa memimpin diri kita sendiri.

Untuk tidak malas, adalah suatu tindakan yang bisa kita terus kerjakan dan kita pelajari agar bisa ke tingkat berikutnya. Misalnya, membereskan ranjang sendiri, bangun pagi-pagi, mandiri dalam menyiapkan sarapan. Itu semua adalah usaha untuk memimpin diri sendiri, meskipun terkadang malas.

Video yang tadi kutonton, adalah mengenai kepemimpinan pada hal-hal kecil. Bagaimana caranya kita memimpin hal besar, kalau kita tidak bisa melakukan hal-hal kecil? Mulailah dari kamarmu sendiri, membereskan ranjang, dan satu objektif pada harimu telah selesai.

Belajar itu ada levelnya, tidak hanya sekedar tahu, bisa, dan selesai. Namun alangkah baiknya apabila bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, nyata, dan bermanfaat. Sekian saja dari tulisan aku hari ini

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Terima kasih Haegen. Tulisan keren ini. 👍🏼😊
Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Haegen, tulisan ini terpilih jadi konten buku 7 - seputar AES. Tolong carikan ilustrasinya ya - supaya lebih visual bukunya. 🙏🏼😊
You May Also Like