Di Hari Belajar Smipa sore ini, saya mendapatkan inspirasi baru lagi yang sangat menggenapi kepingan dan lubang-lubang dalam diri. Menelaah kembali proses dan fase perkembangan 7 tahunan, sebelumnya saya pernah menuliskan hal ini, dan saya merasa mendapatkan pemahaman baru tentang konsep ini.
Diskusi yang seru terjadi di kelompok 5 bersama Kak Melissa, Kak Putri, Kak Gio, Kak Braja, dan Kak Robert. Setiap orang menuangkan pikiran dan gagasannya, mulai dari perkembangan dilihat dari aspek psikologis, biologis yang bermanifestasi dalam bentuk perilaku yang dipaparkan oleh Kak Mel. Kak Putri membagikan dari sudut pandang lain, psikoanalisis berdasarkan pengalamannya di dunia teater, juga memaparkan bagaimana proses fasilitasi di kelas 3 yang merupakan peralihan dari 7 tahun pertama menuju 7 tahun kedua perkembangan.
Saya menyukai dan sependapat dengan simpulan yang dirangkum menjadi lebih utuh oleh Kak Robert. Bahwa manusia lahir untuk tujuan tertentu, untuk mencapai tujuan itulah kita manusia dibekali dengan bekal kemampuan (jasmani, nalar, dan nurani). Saya mengolah kembali rangkuman dari Kak Robert menjadi sebuah ilustrasi.
Kehidupan ini seperti samudera luas tanpa batas, kita tak pernah tahu dimana ujungnya, ada apa disana, apa yang akan dihadapi, dan pertanyaan maupun perkiraan lainnya dalam benak. Untuk melintasinya, perlu sebuah alat. Saya ingin membuat sebuah kapal sebagai fisiknya. Di 7 tahun pertama, adalah fase mengolah fisik atau jasmani menuju kemandirian. Seperti itu juga saya membuat kapal yang kokoh, yang mampu bertahan menghadapi segala macam hal yang akan ditemukan.
Menuju 7 tahun kedua, fisik lebih dimatangkan. Kapal lebih dikuatkan, ditambah mesin yang akan menggerakkan kapal juga alat penunjang lainnya. Disini manusia juga sedang memproses nalar (daya analisa) untuk membuat pertimbangan-pertimbangan untuk membangun rasa (empati).
7 tahun ketiga, kapal sudah siap dengan segala alat penunjangnya. Secara jasmani, manusia sudah cenderung tumbuh menuju dewasa muda, secara fisik hanya akan terlihat sedikit perubahan. Kapal siap diberangkatkan menuju samudera luas tanpa batas, mengarungi lautan, dan menemukan berbagai hal. Demikian juga manusia yang akan siap terjuan dan berperan aktif di masyarakat luas, untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai manusia, dan usaha mencapai tujuan awalnya.
Pertanyaannya adalah, dalam proses fasilitasi di Smipa, bagaimana cara Kakak mengawal anak didik untuk mereka sampai pada tujuan yang diharapkan di setiap jenjang usianya. Tentu bukan hal yang mudah, dan tidak instan. Yang diperlukan adalah kesadaran, terbuka, dan semangat untuk mau belajar!
Salam,
Wow langsung muncul catatan reflektifnya. Hatur nuhun kak Fifin.