Sekitar 2 tahun lalu, aku menemukan sebuah font di Google, khususnya di aplikasi pengunduh font. Namanya adalah parry hotter. Dengan nama yang seperti itu, aku udah tahu, gaya fontnya seperti harry potter. Mengapa aku bisa ketemu font tersebut? Saat itu, aku sedang tertarik dengan dunia harry potter (sehabis nonton filmnya satu persatu). Saking tertariknya, sehingga membuat aku ingin menulis, bikin design, dengan font yang seperti itu.
beberapa tahun lewat, ternyata font itu masih ada di laptopku. Namun, selama ini ternyata tidak di-instalasi dan hanya sekadar didownload. Dulu, aku masih tidak mengerti bagaimana suatu font bisa diinstalasi dengan benar. Sekarang, aku sudah mengertinya. Dengan seperti itu, aku bisa mengajari kalian bagaimana menginstalasi font apabila ada yang butuh.
Kupikir, menginstall font itu dulu tidak kuanggap penting. 'Ngapain mengunggah kembali font dari luar kalau sudah ada font-font di PC?' pikirku. Namun ternyata aku salah. Selama beberapa lama, aku sempat cukup bosan melihat font yang itu-itu aja namun tidak tahu cara menginstalnya bagaimana. Saat ini, aku suka menginstal font baru apabila butuh. Kalo benar butuh juga, karena untuk menginstalnya juga kita perlu sengaja mencarinya.
Salah satu font yang aku unduh dan pakai adalah Lato. Mengapa aku bisa sampai mengunduh font tersebut? Karena ada seseorang di internet yang merekomendasi memakai font itu apabila sedang membuat design ataupun saat membuat video. Hingga saat ini, ternyata font Lato sangat berguna bagi diriku karena aku sering memakainya untuk keperluan membuat powerpoint. Selain itu juga, aku memakainya di Google Site dan docs karena bentuk tulisannya rapi.
Sementara untuk font Parry Hotter, ada kisah lucu dibaliknya. Saat kami masih di jenjang K10, ada kelas membuat design. Kebetulan sekali, aku membuat design dengan font parry hotter, sambil berpikir kalau fontnya itu estetik dan bagus. Namun dan sayangnya, fontnya tidak sesuai (tanpa kesadaranku) dan fontnya juga tidak estetik dipakai untuk poster. Karena ingin keren-kerennya doang, malah menjadi alay dan lebay. Sejak saat itu, aku juga bisa mulai mempertimbangkan estetika yang dilebih-lebihkan atau malah kurang. Secara sisi kreatif, aku masih kurang baik dan bisa diperbaiki, makanya aku berharap bisa memiliki pemikiran yang seimbang.