Salah satu pembelajaran yang aku dalami di KPB adalah mengenai asumsi. Asumsi sendiri merupakan standarisasi dan anggapan yang lemah dasarnya, terkadang malah tidak ada dasar sama sekali. Pengalaman menarik yang ada di KPB terkadang muncul dari sana (bagi aku)
Pengalaman pertama yang aku alami mengenai asumsi adalah saat proyek pertama K10, Ngurusan Kebon Babarengan. Saat itu, kami mengurus dna mengolah kebun sedemikian rupa untuk bercocok tanam, Hal pertama yang aku asumsikan adalah mengenai cangkul yang dipakai. Asumsi bahwa cangkul ada di sekolah, jumlah cangkul mencukupi, dan yang lain bawa cangkul. Ehh ternyata, tidak satupun ada cangkul di sekolah. Mengapa? Karena asumsi
Asumsi fatal #2 yang aku lakukan adalah mengenai proyek Video Basket semester kemarin. Asumsi yang aku lakukan adalah mengenai perencanaan dari proyek tersebut. Aku melakukan asumsi, bahwa video tutorial basket yang aku buat, bisa dicontoh sendirian. Ternyata tidak seperti itu. Bahkan, realitanya aku butuh 1 setengah bulan untuk melakukan 1 kali perekaman. Aku membuat asumsi, dan kurang riset, mengenai bidang yang ingin aku ulik yaitu videografi.
Namun, saat ini aku sudah mengurangi apa yang aku asumsikan (secara general, tidak hanya di KPB saja). Contohnya, saat sedang meng-chat teman. Temanku bertanya mengenai sesuatu mengenai fakta permainan bola basket. Biasanya, aku akan menjawab dengan suatu tebakan atau perkiraan, namun makin lama kesini, aku menjawabnya dengan melakukan riset terlebih dahulu. Sehingga, jangankan kita melakukan asumsi sendiri yang tidak menentu benar/salah tetapi kita mencari kepastian.
Belajar adalah suatu hal yang terus akan kita ulangi sepanjang hidup. Aku sendiri juga merasakan, kadang belajar harus dilakukan secara berulang. Saat sudah bisa, kembali ke tidak bisa, dan kita belajar bagaimana bisa kembali. Contohnya yang paling sederhana pada KPB adalah kebiasaan mengedit video. Apakah aku bisa? AKu selalu bisa mengedit video kapanpun waktunya dipanggil. Setelah membuat video Calagara, aku merasa sudah cukup menguasai aplikasi edit yang aku gunakan. Namun, pada saat membuat video kembali (beberapa bulan setelahnya) aku malah jadi tiba-tiba memiliki pikiran kosong. Sehingga hal itu perlu kupelajari kembali. Untungnya, karena aku intens dalam mengedit video, akhirnya aku lebih terbiasa melakukannya, bahkan sampai saat ini.
Sekian saja dari tulisanku hari ini.