AES39 Menyapa Rindu
wulan bubuy
Friday March 25 2022, 3:56 PM
AES39 Menyapa Rindu

Cerah pagi ini menemani aku yang berkendara menuju Mesri. Jalanan belum terlalu padat, sehingga cukup enak untuk dilalui dengan tidak terburu-buru. Ibuku duduk disamping dan menanyakan satu hal menarik tentang selera musikku. Mungkin baginya terdengar baru padahal kubilang ini sudah berlangsung cukup lama. Terkadang, memang hal-hal tertentu baru disadari ketika kita menemukan cara berinteraksi yang lain dari biasanya. Kami jadi berbincang tentang banyak hal sepanjang perjalanan berkat selera musikku yang baru ibuku tahu itu. Kuanggap sebagai berkah, Jumat pula yakan?

Mesri, bagi banyak orang mungkin dikenal sebagai salah satu nama jalan tetapi bagiku nama itu selalu menjadi tujuan. Baik saat kami berkumpul di momen berlebaran atau saat mengantar keluarga kami ke tempat peristirahatan terakhirnya. Seperti hari ini, meski berkali berkunjung dan lebih sering setelah Bapakku beristirahat disana juga, tetiba aku merasa haru sekali saat berhenti di satu deret nisan. Ialah nenekku, yang kepergiannya sudah sembilan belas tahun lamanya. Dalam hati aku bertanya, "Jadi benar ya kalau rindu itu datangnya suka bikin kaget?" Begitulah rasaku hari ini yang merindukan keberadaan beliau dahulu kala, rindu akan tawanya yang terkekeh-kekeh, rindu dengan senandung pupuh yang beberapa liriknya masih menempel dalam ingatan, rindu pada caranya berterima kasih pada siapapun. 

Beliau ini punya cara pendekatan yang berbeda pada setiap cucu-cucunya. Hal yang paling kuingat adalah kala beliau tergopoh-gopoh memanggil asisten rumah tangga gegara panik melihatku berdiri gagah di atas genting. Usut punya usut cucunya yang berselisih 4 tahun dariku pernah terjatuh dari eternit. Belum lagi cucu lainnya yang kalau ditanya jawabnya suka asal-asalan, tetapi beliau hanya terpingkal dan berkomentar "Eh, malah ngabodor". Dan yang paling epic, pernah mendapat tempe saat sedang menengadahkan tangan untuk berdoa. Hahaha...

Sekelumit cerita yang kurasa sangat membekas dihariku kini, nanti. Bagaimana beliau yang selalu memberi pesan untuk senantiasa melakukan sabar, sholat dan sedekah. Katanya, masalah apapun yang sedang kita hadapi jangan lupakan ketiga hal tersebut. Rebu-rebu nuhun, Nenek. Alfatihah. 



Genta berdentang riang
Aku tergelincir liar dalam ingatan
Kali ini narasi rindu yang berulang
Meski lentera waktu tetap berjalan sepadan

Bias rana, memanggilku pulang
Pada hening selaksa, sendu pun menghilang
You May Also Like