Aku menyukai aroma kopi, terutama saat baru diseduh. Baunya yang menguar menyapa hari selalu membangkitkan semangatku. Bertahun-tahun aku setia mengonsumsi kopi instan setiap pagi dan (kadang) sore. Karena khawatir akan dampak konsumsi gula, maka kopi instan 2 in 1 (kopi + krimer) menjadi pilihan yang pas untukku.
Belakangan, dengan maksud mengurangi sampah plastik, aku mulai beralih pada kopi non-instan. Awalnya masih memakai gula palem atau gula kelapa sebagai pemanisnya, karena kopi tubruk terlalu pahit menurut seleraku. Tapi, perlahan aku mencoba mengonsumsinya tanpa tambahan gula sama sekali untuk mengurangi asupan gula. Ajaibnya, seiring waktu lidahku mulai bisa bersahabat dengan rasa kopi tanpa gula.
Bahkan, jika situasi saat minum kopi cukup kondusif –tidak terburu-buru dan tidak sedang dikejar pekerjaan–, aku bisa menikmatinya dengan lebih mindful. Ternyata selain rasa pahit, banyak juga rasa lain yang menyertainya: aroma buah dan kacang, rasa asam, rasa ‘manis’, dan sebagainya. Pelan-pelan aku belajar mencecap setiap rasa yang dibawa jenis kopi yang berbeda. Mencoba mengerti maksud ‘medium roast’, ‘dark roast’, ‘medium body’, dst; serta mencari takaran kopi dan air yang tepat sesuai seleraku.
Butuh waktu yang cukup lama memang untuk menyesuaikan diri dengan rasa kopi tubruk, sampai perlahan-lahan rasa cinta itu muncul. Jadi memang benar ya, cinta itu butuh waktu dan niat yang kuat agar bisa terus tumbuh. 😊