AES170: Refleksi Nurani
haegenquinston
Tuesday May 17 2022, 12:39 PM

Pada semester ini, aku menemukan bahwa nurani memiliki arti yang lebih dari hanya sekedar sebuah hati, ataupun hanya sebuah dasar kehidupan. Bagi diriku sendiri, aku bisa mengembangkannya dan merawatnya dengan cara; membuat suatu output dari hati nurani untuk berdampak bagi orang-orang, menemukan sifat asli dari hati nurani diriku sendiri, menemukan tujuan akan keberadaan hati nurani tersebut, dan berpegang teguh padanya.

Saat aku baru memasuki tahap kegiatan di bulan Januari, aku sudah masuk dengan sebuah hati yang baru. Aku bisa merasakannya, karena tindakan kegiatan yang kulakukan memang berfokus kepada ketuntasan, setiap harinya. Buktinya, saat itu kontribusiku cukup maksimal dan selalu tepat waktu, misalnya pencetakan kertas, membuat design, dan bantu banyak dalam pembuatan proposal. Dibandingkan semester sebelumnya (dimana aku bekerja cukup lambat), kurasa ada sebuah sikap hati yang baru bermunculan, yang memotivasikan untuk menjadi sebuah pribadi yang ingin berubah, meskipun sebenarnya, tidak semua aspek diriku berubah.

Dengan adanya hubungan dengan Tuhan yang di atas, otomatis, apapun yang kulakukan di dunia ini, dasarnya berada disitu. Dibandingkan dengan sebelumnya, pada semester ini kebanyakan hal sehari-hari di seputar pembelajaran, diaplikasikan dengan mental dan pemikiran positif yang baik, karena motivasi awal yang sudah bersemangat dan baik. Namun seiring berjalannya waktu ke bulan April-Mei, motivasi tersebut tidak sekuat dahulu, perasaannya sudah tidak sama lagi, karena aku rasa telah mencapai tujuanku yaitu untuk mencoba fokus, gesit, dan maksimal di KPB.

Aku sangat merasakan hadirat Tuhan menemaniku saat aku berkegiatan, alasan tersebut juga membuat diri positif menang atas diri negatifku. Misalnya saat ada koordinasi, terkadang ada distraksi gawai yang timbul. Semester lalu, sudah pasti akan ku ikuti langkah-langkah dari ego-ku sendiri. Tetapi di semester ini, saat aku baru kepengen mengambil gawai untuk main hp, tiba-tiba aku jadi teringat, betapa pentingnya materi yang disampaikan, apabila aku meninggalkannya untuk sesuatu yang bisa kutunda untuk lain waktu?

Walau nurani selalu berkata positif, tetap saja, ada momen-momen dimana egoku tetap mengambil alih (kadang kalau aku sedang lelah). Atas ‘kejatuhan’ berapa kali tersebut, aku tidak selamanya berada disana, tetapi mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

Selama 1 semester, aku terus berada dalam pikiran ‘apa masa depanku nanti’ dan ‘apa tujuan hidupku saat ini’. Setelah mendapatkan jawabannya yang kurasa paling benar, maka tindak lanjutnya adalah: Aku ingin menjadi pribadi yang berdampak pada orang-orang lain di sekitarku, biarpun dampaknya kecil, namun aku ingin mereka bisa merasakan suatu perubahan (bermanfaat). Ternyata, cukup sejalan dengan salah satu tujuan KPB juga.

Semester lalu, dengan percaya dirinya, aku mengatakan bahwa diriku adalah seseorang yang kuat secara mental. Namun, semester ini justru mengatakan sebaliknya. Saat mental dan nuraniku diuji oleh masalah-masalah yang datang, aku baru sadar, mentalku belum apa-apanya ketimbang mental seorang pemain basket yang cukup kusukai. Saat masalah datang, yang kulakukan ternyata hanya overthinking, komplain, dan bukan langsung mencari jalan keluar. Misalnya saat aku mengalami cedera kaki di bulan Januari, aku tiba-tiba khawatir dan hatiku cukup rawan, juga mempertanyakan diri, apakah diriku baik-baik saja?

Setelah mengalami insiden-insiden dan masalah yang cukup berat, jawabannya, aku masih perlu meningkatkan ketahanan diri, mental, percaya bahwa diriku akan terus baik-baik saja (yang penting terus bergerak cari cara untuk menyelesaikan masalah). Aku juga ingat, bahwa cobaan yang Tuhan berikan, perlu kuhadapi dan ku selesaikan sendiri.

Selama ini, aku merupakan seseorang yang dikenal kurang peka, dan ngobrol dengan aksen yang kaku. Batasan-batasan yang aku buat dari diriku dan orang lain, kadang kulanggar karena kurang peka (berdasarkan refleksi semester lalu). Di bagian akhir semester ini, aku mencoba untuk lebih peka dan tertarik pada hal-hal di sekitarku (tidak hanya fokus 1 titik), misalnya aspek kecil dari film, topik obrolan yang ingin kuangkat saat bareng teman, dan mengingat kembali, pekerjaan apa yang belum tuntas. Aku juga mencoba untuk lebih tenang, santai, bahkan menikmati saat mengobrol dengan orang lain, supaya tidak kaku melainkan nyaman dan luwes. Mengapa begitu? Karena aku sudah mengenal nuraniku lebih lagi, maka aku lebih peka terhadap kelebihan dan kekuranganku.

You May Also Like