9:21 malam. Saya memasuki gedung yang bernama Ingersoll untuk menjemput Nina yang bekerja untuk conference. Sekitar 7 tahun yang lalu, gedung ini merupakan tanggung jawab saya. Serentak begitu memasuki gedung ini saya memiliki perasaan yang aneh. Terbersit dalam kenangan saya bagaimana pada waktu-waktu itu saya harus bekerja di bagian facilities sebelum setahun kemudian saya kehilangan pekerjaan itu kemudian memperoleh poekerjaan baru yang hingga saat ini saya pegang.
Perasaan nostalgia memang merupakan salah satu cara menghadapi berbagai hal seperti katanya isolasi sosial, disconectedness dan kesepian. Atau mungkin secara sederhana dapat digambarkan seperti ini: Perasaan nostalgia merupakan kerinduan sentimental terhadap masa lalu. Emosi yang kita rasakan ketika kita memikirkan tentang memory yang sangat berarti di masa lalu yang sudah terputus dengan saat sekarang. Perasaan semacam ini tidak hanya berkaitan dengan tempat, tapi juga orang-orang yang pernah bersentuhan dengan kita dan peristiwa-persitiwa tertentu yang sangat berkesan.
Perasaan nostalgia pada dasarnya merupakan sesuatu yang otomatis ketika kita mengalami kejadian sehari-hari yang mengingatkan kita pada masa-masa lalu dalam pengertian yang baik seperti misalnya berkaitan dengan melihat sesuatu, mencium sesuatu bahkan mendengar sesuatu yang menghadirkan kembali masa lalu. Hal tersebut disebutkan oleh Dr.Routledge.
Tidak heran ketika saya memasuki sebuah toko buku dan ketika membuka pintu saya mencium harumnya kertas dan kopi yang langsung mengingatkan saya pada kejadian-kejadian belasan lalu ketika Kano masih kecil dan hampir setiap hari bermain di toko buku. Nah indera penciuman saya secara otomatis mengajak kembali ke masa lalu dan tempat itu menjadi sangat luar biasa. Sama halnya dengan mendengar musik. Seperti saya selalu katakan bahwa musik selalu menjadi perekat peristiwa di masa lalu. Ketika mendengarkan sebuah musik yang saya kenal, seringkali saya dapat kembali ke masa-masa lalu yang sangat berkesan, entah baik maupun buruk. Ada kalanya sebuah musik mengingatkan saya pada masa-masa sulit yang tidak pernah dapat saya lupakan. Anehnya, saya masih selalu membutuhkan kenangan-kenangan buruk itu, bukan apa-apa, menurut saya itu sangat baik karena jika kemudian saya membandingkannya dengan saat sekarang, itu semua dapat menimbulkan rasa bersyukur dan bagi saya itu sangat positif. Nah karena alasan itu bahkan ketika musik itu mengingatkan pada masa-masa sulit, saya masih menyukainya bahkan seringkali sangat menikmatinya. Di sini dapat disimpulkan bahwa nostalgia juga dapat merupakan respon pada kejadian-kejadian masa lalu yang penuh rintangan, yang berat dan buruk.
Saya masih punya waktu sekitar 30 menit hingga masa tugas Nina berakhir. Duduk-duduk sambil memperhatikan sudut-sudut ruangan di lobby gedung itu membuat saya tersenyum. Itu masa-masa di mana saya baru memulai hidup di Fort Collins, kemana-mana saya harus naik bus kota yang waktu itu basih berbayar, baru sesudah Covid, bus kota semua gratis hingga sekarang. Senyum saya semakin melebar ketika ingat kata-kata yang tadi sore diucapkan oleh Kano ketika kami akan membeli makan malam di salah satu restoran Mediterranean,"I remember we need to take a bus to get here, It took forever and we had to change few buses." Ya waktu itu kami masih baru memulai, belum memiliki apa-apa. Baru sesudah saya bekerja di kampus di bagian facilities, kami baru mampu memberli mesin cuci kemudian kendaraan. Dulu masih harus berjalan kaki ke tempat laundry. "Our life is better now, Kano." Kata saya. Ya, kami memang mendapat anugerah berlimpah walau tidak berlebihan.
Foto creditL kgab.com