KPB K11 Gobak Sodor telah selesai melakukan kegiatan live-in secara singkat di Gambung. Dalam beberapa hari tersebut, aku mendapatkan sangat banyak hal yang patut menjadi bahan pembelajaran, sebagian adalah hal yang berkaitan dengan masalah diriku sendiri.
Hari Pertama - Aku sebenarnya memiliki jiwa dan perasaan yang campur aduk saat pergi ke Gambung, yaitu senang karena penasaran, apa kegiatan yang akan dilakukan disana. Di sisi lain, aku juga cukup malas dan tidak enak hati, sebenarnya aku sangat ingin ketemu dengan teman-teman luar sekolah di hari weekend. Hal itu tidak terlalu kupikirkan, karena aku sangat yakin, akan lebih baik dijalani daripada banyak imajinasi kosong yang akan hanyut seiring berjalannya waktu. Itu sangat menjawab kekhawatiranku saat harus pergi ke Gambung.
Ada sebuah pemikiran dan kejadian menarik di hari pertama, yaitu barang-barang kebutuhan pribadi. Setiap perjalanan, selalu ada 1-2 hal yang terlupakan olehku, ketinggalan di rumah. Misalnya smartphone saat kemping, sleeping bag, sendal, bahkan jaket hingga alat mandi. Ternyata dugaan keraguanku benar, aku ketinggalan jas hujan, sumpit, bawang putih, dan mie instan. Semua itu ternyata diselesaikan dan ditangani dengan baik dan cepat, di akhir hari pertama, aku sudah tidak khawatir lagi. Lain kali, aku akan lebih ragu, akan kelupaan barang.
Di sore hari, kami semua mendapatkan pengalaman memandikan sapi hingga tuntas. Pengalaman ini cukup berkesan bagiku, dari sudut pandang seorang pelajar. Awalnya aku ragu dan gugup akan sapi yang kakinya bisa menendang kapan saja, kotorannya yang bisa muncul kapan saja, aku juga sedikit takut apabila sapi menjilat-jilat saat dimandikan. Semua itu berubah menjadi pemikiran kosong, ketika aku mengalaminya langsung. Aku juga cukup menuntaskan pekerjaanku memandikan sapi dengan baik, tentunya perlu inisiatif dan keberanian.
Saat sore hari aku ingin memasak nasi, sebuah keraguan yang muncul di hatiku adalah, aku tidak pernah memasak nasi menggunakan katrol. Apalagi tidak ada takaran berasnya pula. Aku pun sempat bingung saat memulai pekerjaan, untungnya aku bisa fokus, taktis, mengambil aksi yang logis, dan akhirnya bisa memasak nasi yang sangat baik bagi seorang pemula. Di hari itu, semua pemikiran ekspektasi negatif ternyata keluar dan terbukti salah. Aku tentunya belajar untuk lebih “less talk more work” karena yang nyata adalah pekerjaan kita, bukan pikiran.
Hari Kedua - berjalan kaki menuju pegunungan tempat ladang kopi milik Pak Anwar berada. Selama perjalanan, fisikku terbukti sangat tangguh (lebih daripada pengalaman sebelumnya di Gambung) karena terus bisa menjaga stamina dan mendapatkan energi begitu menuju kelelahan. Ditambah, hari sebelumnya aku tidur cukup malam, otomatis perlu sadar dan manajemen agar tidak mengantuk di perjalanan. Sayangnya, aku sempat mengantuk dan tidak fokus 100% saat gladi resik sore dilakukan, tidak maksimal mengikuti kegiatan. Dari sini aku bisa belajar, hal jasmani tidak hanya manajemen energi saat berkegiatan saja, namun juga harus dilakukan persiapan dan manajemen dari hari sebelumnya (tidur tidak kemalaman). Seberapapun aku menjaga energiku, apabila aku tidak memiliki stok energi besar dari hari sebelumnya, maka aku tetap akan mengantuk suatu saat.
Kegiatan yang cukup unik aku lakukan adalah mencuci kain di sore hari. Mengapa unik? Karena aku dan teman-teman lain inisiatif mengerjakannya di waktu istirahat, tanpa arahan, namun dengan intuisi sendiri. Aku juga inisiatif mengerjakan rutinitas di waktu luang, karena sadar akan kebutuhan. Selain itu, meski aku merasa ngantuk dan capek, aku bisa membuat diriku segar kembali dengan berpikiran positif.
Hari Ketiga - Pelajaran terbesar yang kudapatkan hari ini justru di sore hari. Workshop berjalan sesuai target utama namun tidak berjalan lancar, sampai ada salah satu anggota kami komplain. Disitu aku sadar, aku bukanlah seseorang yang sempurna. Meski aku merasa memiliki perkembangan dan punya perbedaan sifat dibandingkan yang lalu, kesalahan pasti akan terus ada dan terus terjadi. Semua hal yang kurasa merupakan pembelajaran besar di hari-hari sebelumnya, tidak terjadi hari ini, kurasa semuanya hanya omong kosong. Apa yang namanya belajar, jika kita hanya mendapatkan ilmu dan pengalaman tetapi tidak diterapkan? Itu yang paling mencerminkan pendapat dan perasaanku di hari ketiga.
Untuk menjadi seorang pribadi yang berubah, tidak perlu hanya pemikirannya, namun pembiasaannya sehari-hari, butuh kapasitas fokus yang luar biasa, tidak seperti diriku yang suka lengah, tidak fokus, tidak konsisten. Tipe hari yang seperti ini sekali-kali akan terjadi. Namun kebangkitan di baliknya adalah yang akan mengembalikan situasi kelompok ke arah yang lebih baik.
Jujur saja, aku merasa sangat bingung dan kurang niat ekstra saat workshop diadakan. Ada suatu saat dimana diriku sangat tidak berguna dan hanya diam sementara teman lain sedang mengerjakan bagiannya. Tiba-tiba Kak Mel mengingatkanku akan pekerjaanku, disitulah aku kaget, sadar, terpukul, dan sempat berpikir, ‘Apa yang selama ini kulakukan untuk membantu temanku?’ karena kenyataannya tidak ada yang kuberikan untuk bermanfaat bagi teman maupun peserta workshop.
Evaluasi yang dilakukan di hari ketiga cukup berat, namun aku menerima pencerahan, kritik, penyadaran akan realita, apapun itu. Sejak evaluasi, aku memiliki titik fokus baru yaitu menerima dan berbagi manfaat dengan teman-temanku, serius dan profesional, taktis, dan banyak hal lagi.
Pada hari keempat aku sudah pulang dari Gambung dengan berbagai cerita, petualangan, hari-hari berombak, dan tentunya, semua ini bukan mengenai aku, namun mengenai kelompok dan tujuan bersama.