Dalam semester 2 ini, cukup banyak hal yang kupelajari, ku-refleksikan, dan diperbaiki, mau dari awal hingga akhir semester. Perbedaan dari semester ini dibandingkan yang lalu, adalah proyek kelompok dibandingkan proyek mandiri, jenis beban dan tantangan yang dialami berbeda.
Di awal semester, jujur saja aku sangat bersemangat, fokus, dan terkunci fokusnya pada ketuntasan kegiatan KPB K11. Mengapa? Alasannya adalah aku sangat tidak puas dengan kinerjaku di semester lalu. Aku baru memencet tombol gas menjelang akhir proyek, disitu aku melihat kinerjaku sangat baik dan dipakai secara maksimal.
Pada awal semester, aku merupakan pribadi yang disiplin, detail, dan tuntas dalam pekerjaanku, seperti pencetakan kertas, pembuatan design, rutinitas, dan marketing penjualan. Menuju tengah semester, hal yang kusadari adalah kejenuhan dalam mencetak kertas setiap hari, hari demi hari berlalu dengan kurang berkesan, dan hari-hari terasa menghitung mundur sampai pada akhirnya aku menyerah pada pekerjaan rutinitas pencetakan kertasku.
Dalam proyek Workshop Kertas dan Inovasi Kertas yang kami lakukan, aku merasa cukup puas dengan kinerja diriku sendiri. Pada saat pelaksanaan, aku selalu memiliki tanggung jawab atas pengelolaan dana, pengelolaan logistik, dan tidak pernah merasa gabut. Hasil akhirnya, semuanya bisa bekerjasama dan berkoordinasi dengan baik, selalu ada pekerjaan yang bisa dituntaskan secara bersama.
Hal yang masih menjadi kekuranganku di semester ini adalah daya juang, fokus, ketaktisan, dan ketuntasan. Dibandingkan semester lalu, daya juangku cukup tidak konsisten, ada kalanya aku bisa mengatasi masalah ini namun ada juga kalanya ‘kemalasan’ membuatku berhenti. Seperti kalanya pencetakan kertas yang tidak bertahan sampai akhir, pembuatan buku KPB yang sempat tidak terurus karena pekerjaannya berat, tapi di sisi lain aku juga bisa menyelesaikan video WIP yang masa pengeditannya lama, juga 3 buah konten video iklan.
Ternyata aku masih merupakan pribadi yang kurang taktis di semester ini, seperti pada saat pelaksanaan workshop, aku cukup bingung harus melakukan apa selain pekerjaanku sendiri. Terlebih lagi tidak ada koordinasi yang jelas, masalahnya menjadi dua kali lipat. Aku bisa taktis di saat-saat lainnya, seperti saat berkumpul di luar jam sekolah, membuat video rekaman workshop pertama dengan kamera seadanya, pembuatan ide konten yang tiba-tiba menarik, dan taktis saat aku memasak nasi menggunakan kastrol, tanpa rice cooker, tanpa takaran, tetapi aku bisa memutuskan ini-itu secara berunut, dengan feeling sendiri, tanpa perencanaan namun dengan fleksibilitas dan improvisasi.
Pada akhir semester, kurasakan kepribadianku cukup berubah, dari introvert 75% extrovert 25%, menjadi 50-50. Kenapa tiba-tiba begitu, alasannya adalah karena aku berada di lingkup pertemanan lain selama berapa lama di waktu liburan. Akibatnya, aku menjadi orang yang lebih terbuka, percaya diri terhadap diri sendiri, dan senang dengan komunikasi 2 arah. Saat aku berada di Gambung, aku cukup banyak mengajak ngobrol Kakak dan teman-teman lain dibandingkan dahulu kala, juga dengan gaya yang luwes. Di sisi lain, aku juga masih memiliki jiwa introvert sehingga, terkadang masih ada saat-saat aku masih nyaman untuk sibuk dengan kegiatan sendiri. 2 kepribadian itu saling muncul di waktu berbeda-beda, tergantung dengan situasi. Disana aku sangat baru menyadari, beginilah yang namanya sosialisasi yang enakeun, tidak hanya mendengarkan dengan diam, tetapi ada ‘api’ yang terus dinyalakan dengan percik percik topik baru, tidak hanya berakhir disitu.
Sisi egoisku terungkap pada saat workshop Gambung diadakan, aku masih sangat bingung pelaksanaannya seperti apa (perencanaan kurang detail), sehingga aku lebih banyak diam daripada membantu teman yang lain. Pada akhirnya aku menyadari kesalahanku itu, dan akhirnya memutuskan untuk berubah, punya sisi pandang dan hati yang baru, untuk peduli pada teman-teman lain apabila mereka terbebani.
Secara garis besar, aku punya sebuah kepribadian dan sisi pandang terhadap kegiatan yang baru sejak kejadian semester lalu, dengan masalah yang baru pula. Hal yang perlu kutingkatkan adalah konsistensi sifat dari awal hingga akhir kegiatan, kenyataannya konsistensi ini sangat sulit dipertahankan.