Dengan adanya masalah dan laporan mengenai diriku, terkait sikapku di tempat magang yang kurang sopan, aku jadi terdiam, berefleksi, dan lebih peka, alias hati-hati, terhadap kejadian seperti ini lagi di masa depan. Hal itu menimbulkan sikap dan respon positif, tapi juga sikap dariku yang negatif.
Sejak aku tahu bahwa aku telah 'melangkahi' mentor, dalam beberapa kasus, aku tentunya jadi lebih bersikap sopan kepadanya. Bertanya lebih sopan, tidak kesan memaksa, banyak bilang terima kasih, mengoptimalkan pekerjaan sebisaku, tapi hal negatifnya adalah aku lebih ragu berkomunikasi dengan beliau, juga kurang percaya diri, dan takut salah.
Sebaiknya hal kejadian melangkahi mentor ini jangan sampai menimbulkan efek negatif kepada diriku. Kritik itu harusnya bisa membangun bukan menjatuhkan, dan tugasku untuk memetik hal-hal yang perlu dibangun, bukan menjatuhkan, dan membuat sebuah batas dan jalan tengah.
Di satu sisi, aku perlu lebih luwes, tidak ragu pada saat berkomunikasi, namun di sisi lain aku juga perlu berhati-hati dalam berkata-kata, tidak pakai gua elu ke orang yang lebih tua misalnya. Juga bahasanya terkesan sopan, dengan bercanda dan basa basi pada waktu tertentu saja.
Hal yang paling penting menurutku dalam hal ini adalah percaya diri dalam tindakanku, dan tidak ragu. Justru dengan ragunya kita, dengan takut akan salah, kita justru menuju jalan yang salah. Ketika aku mengkhawatirkan sesuatu terjadi secara berlebihan, malah bakal terjadi. Sementara ketika kita berani, tidak ragu, optimis, maka akan tercapai. Permainan mental dan psikologisnya ada dalam kasus ini.
Inilah hal yang aku perlu lakukan, yang tidak mudah karena harus keluar dari zona nyaman dan kebiasaan, namun bisa mengubah cara pandangku.