Apasih yang membuat suatu pergerakan dapat bertahan dan berkelanjutan? Salah satu pertanyaan dalam obrolan sore sambil menunggu hujan reda. Jawaban dari berbagai sudut pandang pemahaman dan pendekatan pengalaman pun mengalir dengan deras, walau tidak sederas hujan di sore hari tanpa kopi panas itu.
Mulai dari perlunya pihak penengah yang menjaga ruang dan aliran, semacam tetua-tetua perguruan silat dengan kitab prinsip dan hukum perguruan. Lalu ada juga yang dengan seleksi, kaderisasi, dan rekonstruksi anggota-anggotanya agar sefrekuensi dalam menggunakan perangkat kerja, seperti proses mewariskan senjata pusaka turun temurun.
Sampai kepada pemanfaatan hirarki alamiah untuk peningkatan status yang mencerminkan pencapaian dari setiap individu, sehingga dalam interaksi sosialnya saling menguatkan dan membanggakan. Bukan berarti tidak ada kesalahan atau kejatuhan, justru yang ada pengamanan dan perlindungan. Salah yang aman, jatuh yang terlindungi.
Hipotesis yang hadir di ujung waktu obrolan oleh penanda bunyi hujan yang hilang, bahwa ada tiga hal yang perlu mampu mandiri satu-satu. Tiga independensi untuk membangun satu interdependensi. Pewarisan senjata sakti pamungkas, penetapan ideologi mendasar perguruan, dan penumbuhan kebanggaan sebagai bagian dari komunitas.