AES 1500 The right Thing To Do
joefelus
Sunday October 26 2025, 7:16 PM
AES 1500 The right Thing To Do

"They didn’t do it for recognition. They did it because it was the right thing to do."

Lewat tengah malam pada tanggal 24 April 2018, kantor polisi di Michigan State mendapat panggilan telepon yang membuat jantung Letnan Mike Shaw hampir copot. Ada seorang pria yang berdiri di pinggir jembatan penyebrangan di atas freeway I-696 di Detroit bersiap-siap untuk melompat.

Tidak ada cukup waktu untuk menyiapkan jaring, tidak ada waktu untuk menyiapkan peralatan penyelamatan. Jalan di freeway gelap tidak memiliki penerangan yang cukup dan jatuh dari jembatan itu akan berakibat fatal. Letnan Shaw akhirnya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dia mengangkat walky talky, perangkat radio untuk percakapan dua arah, dan memanggil sopir-sopir truk. Kalau teman-teman mungkin pernah menonton filem-filem Amerika, mungkin pernah melihat truk besar yang mengangkut barang dengan kontainer-kontainer besar, mungkin kalau di Indonesia dikenal dengan truk tronton yang memiliki sedikitnya 12 roda, nah itu banyak sekali berseliweran di jalan-jalan bebas hambatan di malam hari. Mereka tidak jarang berkomunikasi dengan radio dua arah. Hanya dalam ukuran menit ada 13 truk menjawab panggilan polisi tadi dan mereka menghentikan truknya berjejer di bawah jalan layang saling berdampingan menutup jalan raya membentuk semacam dinding baja dibawah jembatan. Kalau teman-teman tahu tentang truk tronton yang tinggi, jaraknya dengan bagian bawah jembatan sangat dekat. Jadi truk itu memang sengaja menutup jalan aspal dengan kendaraan mereka sehingga jika ada orang melompatpun tidak akan berakibat banyak sebab terlalu dekat.

Selama sekitar 4 jam polisi tadi berbicara dengan pria itu dengan nada yang tenang dan lembut sementara 13 truk ada di bawah jembatan tidak bergerak sama sekali. Para sopir itu tidak mengenal pria yang akan melompat, juga tidak tahu namanya, mereka hanya menolak untuk menyingkir.

Fajar merekah dan akhirnya pria itu menjauh dari tepi jembatan dibantu oleh para polisi ke tempat yang aman kembali ke dunia nyata dimana 13 orang asing yang bekerja sebagai sopir telah menghabiskan malam mereka untuk mencegah pria itu melompat dan jatuh. Satu persatu truk itu bergerak dan melanjutkan perjalanan mereka, menyelesaikan tugas mengantar muatan. Mereka tidak membutuhkan pujian, mereka tidak menunggu ucapan terima kasih

Letnan Shaw berkata: "Mereka tidak melakukannya demi sanjungan. Mereka melakukannya karena itu hal yang seharusnya dikerjakan." Seperti yang saya kutip di awal celotehan saya hari ini. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kemanusiaan.

Itu cerita yang saya baca tadi pagi dan menjadi bahan renungan hari ini. Sebetulnya saya berencana untuk menulis sesuatu yang spesial karena hari ini tepat saya menulis esai yang ke-1500. Sayangnya ketika saya bangun tidur merasa tubuh agak kurang fit. Pencernaan saya agak terganggu sehingga cukup sulit berkonsentrasi untuk mencoba memikirkan sebuah tulisan yang baik.

Cerita tadi menginspirasi saya untuk mengangkat ide obrolan tentang inisiatif manusia untuk berbuat baik. Akhir-akhir ini kita banyak disuguhi dengan berbagai peristiwa yang menyedihkan, tingkah laku orang-orang tamak, munafik yang banyak merugikan orang lain karena terlalu mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Memang sangat naif jika kita berharap semua orang dapat berbuat baik seperti 13 orang sopir tadi. Mereka bahkan tidak menunggu mendapat penghormatan ataupun ucapan terimakasih. Ketika pria itu terselamatkan, mereka pergi satu demi satu melanjutkan hidup mereka, Mereka telah menyelamatkan nyawa seseorang yang tidak dkenal, seorang asing yang kemungkinan besar tidak akan pernah dijumpai lagi seumur hidup mereka. Kita sering mengajak orang lain untuk berempati, 13 orang tadi menunjukkan aksi mulia yang melupakan kepentingan diri sendiri, tanpa perlu mengetahui siapa yang diselamatkan, tidak perlu mereka berusaha memahami apa yang orang itu alami, namun sudah dapat mencontohkan bagaimana seharusnya menjadi manusia yang peduli pada orang lain. Empati seringkali hanyalah slogan dan berakhir di bibir, sementara tindakan nyata yang tanpa pamrih mungkin dalam hal-hal tertentu lebih berarti.

Foto credit: Facebook

Andy Sutioso
@kak-andy   7 months ago
Saya pikir ini tulisan yang tepat untuk esai ke 1500, bahwa di tengah karut marut dan kekacauan peradaban masih ada harapan yang tersimpan di mana-mana. Mungkin terbenam, terlupakan atau dikalahkan oleh algoritma media sosial. Tapi hal-hal semacam ini ada. Perlu kesadaran dan kepekaan kita bahwa di tengah siklus semesta yang berada di titik balik, hal-hal semacam ini akan semakin banyak kita saksikan. Selamat untuk esainya yang ke 1.500. Esai pendek yang merayakan kehidupan... Terima kasih Joe. 🤗🙏🏼❤️
innocentiaine
@innocentiaine   7 months ago
Selamat pak Joe.. capaian luar biasa.. 😃
dan terima kasih untuk cerita yang menyentuh 🙏🏼
You May Also Like