Hampir seminggu anak saya absen masuk sekolah. Tenggorokannya radang, badan demam, muncul ruam-ruam di kedua telapak kakinya. Kata dokter, itu gejala Flu Singapore. Padahal kami sekeluarga tidak pergi ke Singapore dan tak ada kontak sama sekali dengan orang dari Singapore. Untung demamnya hanya berlangsung sehari, ruamnya saja yang makan waktu buat hilang. Tapi, kenapa namanya harus Flu Singapore?
“Kalo di Jawa Barat cocoknya Flu Singaparna,” kata istri saya suatu kali. Memang nggak menjawab apa-apa sih.
Konon, flu jenis ini jadi berita besar pas sedang mewabah di Singapore pada tahun ’50-an. Awal munculnya sendiri malah tercatat di Kanada, tapi karena populernya di Singapore, jadilah Flu Singapore. Kasus yang mirip-mirip juga mencetuskan nama varian flu lain seperti Flu Spanyol, Flu Hong Kong, Flu Rusia, Flu London. Kalau Flu Indonesia? Nggak ada. Mungkin karena WHO keburu bikin aturan tidak menyematkan nama penyakit dengan letak geografisnya lagi. Padahal flu jenis itu rentan menyerang bapak-bapak yang begadang nonton MU terus kalah dan besoknya hari Senin.
Flu memang unik karena penyakit ini punya banyak nama. Nggak hanya menggandeng nama tempat, nama binatang juga ikut. Yang terkenal Flu Babi dan Flu Burung. Ada juga Flu Kuda dan Flu Anjing, tapi kasusnya sangat jarang menyerang manusia. Bangsa ikan yang hidup dalam air dengan suhu yang dingin justru nggak ada flunya. Lagian, siapa juga yang pernah lihat ikan bersin?
Di Indonesia ada juga flu tulang dan flu perut yang ternyata bukan istilah medis resmi. Flu tulang gejalanya nyeri pada tubuh dan persendian, atau disebut juga myalgia dan arthralgia. Flu perut gejalanya mual, diare, atau kram perut gara-gara infeksi, dan disebut gastroenteritis. Saya setuju istilah-istilah medis itu memang nggak ramah di lidah dan memori. Sedangkan istilah yang nonresmi malah lebih spesifik, to the point, dan kerasa langsung sakitnya begitu diucapkan, contohnya panas dalam, syaraf kejepit, atau salah bantal.
Barangkali karena flu adalah penyakit yang sering dianggap ringan, biasa, remeh, sehingga perlu pakai tambahan nama-nama negara, hewan, atau anggota tubuh biar dianggap lebih serius. Walaupun hidung meler habis-habisan, sakit nelen, kepala pusing, tapi kalau izin nggak masuk kerja pakai alasan flu saja memang kurang gagah. Perlu ada tambahan kata-kata lain biar lebih meyakinkan.
Kalau capek mikir, konsentrasi turun gara-gara overdosis meeting, maka Anda bisa izin ke bos bilang kena flu otak. Kalau punggung pegal-pegal, bahu kencang gara-gara kebanyakan duduk depan laptop, Anda bisa izin ke bos bilang kena flu otot. Biar lebih terkesan medis dan ilmiah mungkin bisa juga ditambah kata-kata bahasa Latin, seperti flu cerebral atau flu muscular, walaupun yang sebenarnya kerasa adalah flu lembur dan flu UMR.
Intinya, apa pun namanya, flu memang tidak pernah sekadar flu. Datangnya bisa tiba-tiba dan nggak diduga-duga. Yang penting kita tetap berusaha menjaga kesehatan diri bersama-sama. Apalagi musim hujan sudah datang. Semoga sehat-sehat semua lah ya!
Hahaha.. saya ikut senyum-senyum membaca flu singaparna. Ikut prihatin, semoga anaknya segera sembuh. Flu singapore memang sangat umum diantara anak-anak. Dulu anak saya berkali-kali terjangkit. Sering disebut Hand Foot and Mouth Disease. BIasanya ruam di kaki dan tangan serta sekitar mulut, sakit tenggorokan dan demam. Sedih lihat anak menderita begini. Agak sulit menghindari virus semacam ini, mudah terjangkit dan saling menularkan diantara anak-anak.
Betul pak, ini pertama kalinya anak saya kena, tapi untungnya sudah sembuh dan bisa beraktivitas kembali di Smipa. Semoga saja imunnya bertambah kuat setelah terpapar. Sehat-sehat Pak Joe dan sekeluarga.
Wkwkwk... Fluar biasa tulisan ini lucu banget. Menghibur sambil sekaligus mengupas sekilas ilmu kesehatan... Nuhun pisan Ikra 😅🙏🏼
Sama-sama Kak Andy hehehe, semoga sehat selalu kita semua!