"Kita pakai fresh milk, Kak." Kata Barista
"Punya jenis susu lain selain fresh milk? Almond Milk atau oat milk?" Tanya saya
"Otside, Kak." jawab barista lagi.
Saya berhenti sejenak dan mulai berpikir. Apa itu Outside? Memang main sepak bola? Pikir saya. Melihat saya agak bingung barista membuka kulkas dan menunjukkan kotak karton dan kotak itu berbunyi Oatside.
"Ooooo.... Ya sudah pakai itu" Kata saya
Oatside dan Outside.. disitu yang membuat saya bingung. Sama seperti banyak pegiat tiktok atau sosial media lain ketika mempromosikan tempat jajan atau makan, mereka mengatakan "Otdoor" bukan Outdoor. Bukan saya menyombongkan diri, karena memang belasan tahun saya banyak menggunakan bahasa Inggris, walau bahasa Inggris saya juga jelek hehehe, tapi telinga sudah terbiasa mendengarkan pengucapan yang umum, ketika di Bandung saya harus mulai belajar banyak lagi sebab dialect nya berbeda hahaha..
Eniwei, karena saya memang lebih banyak mengkonsumsi almond milk maupun oatmilk untuk mengganti susu sapi, maka saya mulai menyukai oatside ini, bahkan membeli oatside yang rasa kopi. Lumayan, dan jika saya tambah kopi sendiri, maka rasanya menjadi lebih kuat serta dapat disesuaikan dengan selera.
Nah pagi ini saya mengeluarkan oatside rasa kopi, tapi agak malas membuat kopi sendiri sehingga menerima apa adanya yang ditawarkan kotak karton kecil itu. Pagi ini saya sarapan dengan martabak! Makanan kegemaran saya sejak kecil.
Sejak kecil yang saya kenal adalah martabak telur dan martabak manis. Baru sesudah saya sering ke Jawa Timur, kemudian tahu bahwa martabak manis namanya Terang Bulan
. Beda nama, tapi bendanya sama dan selalu saya suka.
Ketika menggigit martabak terang bulan kacang coklat, serentak saya kembali ke masa lalu (typical Jo, tukang ngelamun). Kelas 2 SD dengan seorang teman bernama Sukirman sepulang sekolah. Di dekat sekolah ada tukang martabak manis, hanya saja dia menjual by slice, itu sangat cocok karena uang saku saya yang hanya seringgit, Hahaha.. siapa yang mengerti kata seringgit? itu adalah 2,5 Rupiah atau sama dengan 2 rupiah 50 sen. Saya terlihat sangat tua, bukan? Hahaha.. Nah uang seringgit itu cukup untuk membeli sepotong martabak manis sambil bercita-cita nanti kalau sudah besar saya akan membeli 1 martabak manis utuh untuk saya makan sendiri! Tidak puas hanya makan sepotong! Hahaha...
Nah, Martabak manis di Colorado juga sangat sulit diperoleh, saya pernah membuat sendiri dengan menggunakan teflon, terasa enak, tapi tidak pernah seenak jika membeli dipinggir jalan yang fluffy dan berrongga, lalu juga hasilnya terlalu banyak sehingga tidak habis karena Nina membatasi maka yang manis-manis. Saya bisa saja memesan martabak dari Las Vegas, kata warga Indonesia, martabak dari sana merupakan yang terbaik se-Amerika. Apakah betul, walahualam, saya tidak tahu dan belum pernah memesan, sebab tentu tidak akan fresh ketika tiba di Colorado. Saya memilih menikmati martabak yang dibuat oleh seorang teman di Denver. Nah teman ini asal Bandung, dan termasuk salah satu warga yang sukses, memiliki Tesla dan Lexus. Saya tidak tahu apakah itu hasil dari membuat martabak, jika benar itu sangat luar biasa! Dari mana saya tahu dia asal Bandung? karena kendaraan keren mereka plat nomornya BANDUNG! Hahaha..
Saya sudah mencoba semua martabak terkenal di Bandung, San Frasisco, Capitol, Canada dan lain sebagainya, dari harga yang murah di pinggir jalan hingga yang menggunakan roombutter Wijsman yang harganya selangit. Satu syarat yang tidak boleh diabaikan jika ingin mendapat anggukan dari saya adalah tidak bau tepung atau ragi! Saya tidak tahu resep yang mereka miliki, tapi ada memang yang menggunakan ragi disamping baking soda atau baking powder. Nah saya tidak suka martabak yang memiliki bau tepung atau ragi seperti roti, kalau saya coba lalu mencium bau itu, saya tidak akan kembali lagi.
Semalam ketika berkendaraan diguyur hujan deras saya melewati tukang martabak yang jaman Kano kecil sering saya kunjungi. Setahu saya penjualnya anak muda asal Pekalongan, Brebes atau Tegal, saya lupa. Tapi saya mengenal dialek mereka hahaha.. Nah karena hujan sudah reda saya berhenti dan memesan martabak asin spesial 5 telur dan martabak terang bulan coklat kacang tapi sedikit susu dan sedikit margarin. Saya ngeri makan margarin yang di suhu ruang saja tidak lumer, hmm.. jika tetap solid dalam suhu ruang, itu artinya memiliki saturated fat yang tinggi, semakin stabil di suhu ruang, semakin tinggi saturated fat nya dan itu mengerikan bagi saya. Sekarang bayangkan kebiasaan kita yang makan roti lalu dilapisi dengan margarin tebal lalu ditaburi coklat. Jaman kecil margarin dianggap makanan spesial dan dijadikan olesan roti seperti buttercream. Mungkin kini saatnya mengingatkan teman-teman untuk mulai bijak dalam memilih makanan. Banyak yang sibuk memfokuskan diri pada bahan pengawet, memang betul kita harus hindari itu, tapi pengawet saja tidak cukup, banyak hal lain yang harus kita cermati. Hmm.. ini memberi ide saya untuk menulis tentang makanan sehat. Mungkin nanti, sekarang saya ingin menikmati martabak dulu, martabak saya yang hanya menggunakan sedikit sekali margarin hehehehe
Foto credit: anekawisata.com