"Wah Pastor Hendra, harusnya tadi saya tidak perlu menyampaikan kisah hidup ayah saya, sebab homili Pastor jauh lebih lengkap dan sepertinya jauh lebih mengenal ayah saya!" kata saya sambil tertawa-tawa.
Kami saat itu sedang duduk-duduk sambil menunggu waktu pulang setelah Misa Requiem kemarin malam. Lebih dari setengah ritual dan proses akhir dalam merayakan kehidupan ayah saya sudah tuntas, tinggal 2 proses akhir yang menuntaskan semua rangkaian maupun tradisi. Saya sungguh tidak dapat membayangkan tradisi suku Toraja yang kalau saya tidak salah dengar, prosesnya dapat mencapai tahunan hingga pihak keluarga mampu melakukan korban. Jumlah binatang yang dikurbankan bisa mencapai ratusan dan biayanya Milyaran rupiah!
Eniwei, selama 3 hari terakhir ini karena peristiwa seperti ini tidak pernah dapat dipersiapkan, saya sebagai anak tertua banyak ditodong untuk memberi sambutan. Nah masalahnya saya tidak jago berbasa-basi walau senang cerita. Saya tidak jago merangkai kata-kata indah nan sopan, jadi yang saya ungkapkan hanya yang hinggap di kepala. Sementara itu Pastor Hendra sepertinya sudah dapat bocoran dari adiknya yang juga adalah adik ipar saya! Pastor ini tahu bahwa ayah saya senang menghisap pipa cangklong, serta kegemaran-kegemaran lain, karena itu saya rampak seolah-olah tidak mengenal ayah sebaik Pastor hahaha..
Peristiwa semacam ini akhirnya saya sadari sebagai momen untuk saling mendekatkan diri dalam keluarga. Yang selama ini sibuk dengan kehidupan masing-masing, seolah-olah (dan sepertinya memang begitu) disingkirkan satu-satu dan kami semua memfokuskan diri pada kehangatan hubungan keluarga, saling mendukung, saling menghibur dan ketika dipenghujung hari kami gunakan untuk saling berbagi pengalaman dengan almarhum Bapak. Berbagai peristiwa lucu muncul satu demi satu. Berbagai kenangan indah saling dibagikan, dan di sini kami seolah-olah membuat sebuah gambar ayah yang jauh lebih besar dan utuh untuk melengkapi imej yang kami masing-masing miliki. Luar biasa sekali bukan?
Hal lain, karena tentu saja kami semua dilanda kesedihan. Banyak hal yang kami lakukan sebagai bentuk distraksi. Masakan kami harus terus menerus menangis dan bersedih? Tidak, menangis juga harus ada istirahatnya hahaha.. Nah saya iseng mengambil tema bunga. Saya tidak menyadari bahwa karangan bunga untuk ucapan bela sungkawa sekarang menjadi semacam kebiasaan yang lazim dilakukan masyarakat. Adik saya dan suaminya ternyata sangat populer karena mereka sangat aktif di gereja. Entah berapa yang mereka peroleh, untuk kuantitas mereka pemenangnya! Lalu istri saya juga mendapat satu dari kantor fakultasnya. Juga keponakan saya yang bekerja di kantor disainer sebagai seorang arsitek. Karena saya memang orangnya iseng, sengaja saya ngomel-ngomel. Saya anaknya, masa yang disebut-sebut di karangan bunga adalah istri? Kata saya. Adik-adik dan anggota keluarga lainnya malah tertawa-tawa karena tahu saya orang yang iseng.
Saya sempat bersembunyi di sudut ruangan di rumah duka untuk memejamkan mata sebentar. Tiba-tiba adik-adik dan keponakan saya heboh. "Shūshu... tuh akhirnya dapat juga!" Kata salah seorang keponakan. Dia memang memanggil saya Shūshu, mungkin itu artinya paman dalam bahasa Mandarin, saya tidak yakin. Penasaran saya lihat, ternyata benar. Sahabat-sahabat saya alumni SMP dari kampung mengirimkan papan besar karangan bunga sebagai ungkapan duka cita. Saya tertawa terbahak-bahak. Ini pertama kali saya dikirim benda semacam ini, apalagi sahabat-sahabat ini "bergurau" dengan menyebut nama yang biasa saya gunakan untuk memanggil ayah, "daddy". Lucu!
"Tapi pemenangnya tergantung dari kualitas karangan bunganya!" Kata ponakan saya yang memperoleh karangan bunga yang memang sangat indah dan semua bunga asli. Yang lain bunganya campur busa hahaha...
Itu memang jadi bahan gurauan, terutama ponakan saya yang satu lagi justru memperoleh karangan bunga tapi berbentuk digital! hahaha.. Ada-ada saja. Sampai sore di hari pertama di rumah duka, keponakan saya masih memegang posisi puncak karena kualitas bunga yang sangat baik. Adik saya di posisi dua karena kuantitas paling banyak, saya di nomor buncit karena hanya dapat satu. Hingga kemudian hari kedua ada kehebohan.
"Wah Shūshu, saya nyerah deh. Budhe dapat dari orang penting!" Kata ponakan saya yang hari pertama jadi juara.
"Loh kok bisa?" Tanya saya bingung.
"Tuh lihat ada yang baru!" Kata keponakan saya lagi
Lagi-lagi saya penasaran langsung jalan ke depan. Sebuah papan besar ucapan bela sungkawa dan dibawah nama pengirimnya, ada serangkaian tulisan: "Anggota Komisi XIII DPR RI", Saya tertawa terbahak-bahak sangat keras sampai keluar air mata. Saya kenal semua teman-teman Nina, memang saat ini ada teman SMA nya yang jadi anggota DPR, ada 3 malah dan ada juga yang mantan menteri, tapi baru kali ini dapat kiriman seru semacam ini. Ada-ada saja! Orang Indonesia memang spesial deh..