AES002: Marah
jeanindya
Saturday March 26 2022, 10:25 PM
AES002: Marah

"Mau nulis AES judulnya marah, lalu isinya tulisan ttg marah dari pandangan pribadi?" 

Begitu bunyi WA ajakan (baca: tantangan) dari Kak Leo, sekitar Maghrib tadi. Jawaban saya bukan mau/enggak. Karena kalimat berikutnya mengandung 'deadline', itu yang saya konfirmasi dulu. 

"Definisikan hari ini." 

"Jam 23.59"

"Ok"

Saya pun menyambut tantangannya, dan mulai mencari folder marah di kepala. 

Pertanyaan (atau order) yang saya berikan pada pikiran adalah, "apa yang biasanya membuat saya marah?" Dan mesin pencari hebat di otak saya langsung membuka laci-laci folder berisi kepingan memori saat saya marah. 

Lucu ya. Marah itu sebuah emosi, perasaan, tapi lalu kenangannya disimpan dalam pikiran. Dan sekarang, saat dibutuhkan kembali, pikiran lah yang bekerja untuk mencarinya. Perasaan marahnya ke mana? Hmm.. seringnya malah sudah tidak ada. 

Mesin pencari shift malam di otak saya menampilkan potongan-potongan gambar (baca: kenangan) ketika saya marah. Sedihnya (iya, itu emosi yang terasa saat ini), beberapa potongan yang pertama muncul adalah ketika saya bersama Una. Sebagian setelahnya saat saya bersama suami, setelahnya lagi saat saya bersama rekan kerja, dan setelahnya lagi adalah saat sesuatu yang menyakitkan terjadi di masa kecil - remaja saya. Mungkin mesin pencari menampilkan potongan-potongannya dari yang paling baru, sampai yang paling lampau - yang paling ingin saya hapus dari kenangan. 

Karena saat ini, potongan-potongan tadi (sepertinya) hanya berupa ingatan, mari berbicara tentang marah yang dirasa saat situasi itu terjadi. Katanya, semua jenis emosi itu punya spektrum atau tingkatan intensitasnya. Mari mulai dari situ. 

Selama 1 tahun terakhir, apa yang membuat perasaan marah itu muncul? 

Kalau dipikir-pikir lagi, seringnya ia muncul ke permukaan karena dipicu rasa kecewa (realita yang tidak bertemu ekspektasi). Penyebab kedua adalah kondisi badan yang sedang tidak optimal: lapar, ngantuk, lelah, sakit. Penyebab ketiga .... Saya mengajak mesin pencari untuk mencari ulang, adakah kenangan marah setahun terakhir yang dipicu oleh perasaan lain? Sakit hati, iri, atau yang lain? Tapi ternyata tidak ada. (ajaib ya) relieved

Bagaimana ekspresi marah saya di potongan ingatan tadi? Ngomel, bicara nada tinggi, atau diam (nyuekin). 

Lalu saya coba menyelami memori yang lebih dalam, perasaan marah yang terjadi di masa-masa awal saya bergabung di Semi Palar. Ada beberapa kepingan gambar tentang saya merasa marah (dan beberapa bikin saya senyum-senyum sendiri sekarang) goofy-4 Marah sama anak-anak murid, marah sama partner, marah sama orangtua. Tapi kembali, kalau dipikir-pikir lagi, penyebab utamanya sama, kecewa dan kondisi badan yang tidak optimal. 

Terakhir, saya memberanikan diri menyelami memori yang terdalam. Yang mungkin sebenarnya ingn saya hapus, tapi ya tidak bisa. Apa penyebab perasaan marah itu muncul? Entahlah. Saya juga (ternyata) belum bisa menjawabnya sekarang. thinking 

Kalau dibaca ulang, dilihat satu per satu kepingan gambar memori saat saya marah, ternyata saya jarang merasa benar-benar marah. Tapi saya sering merasa kecewa. Perasaan ini yang lalu mendorong ekspresi yang diasumsikan orang lain (atau pada penerjemahan masyarakat umum) sebagai marah. Karena sering juga saya dan Una terjebak pada percakapan, yang dia artikan sebagai ekspresi marah. Padahal saya sedang tidak merasakan emosi marah. Tapi mungkin ekspresi saya diartikan sebagai ekspresi marah.  

Dalam interaksi dengan orang lain, miskomunikasi ini juga sering terjadi, apalagi bila interaksinya secara virtual. Lewat teks (yang sangat tergantung intonasi orang yang membaca) ; lewat suara (tanpa visual) ; bahkan lewat audio visual - karena kita tidak merasakan enerji lawan bicara. Ketika nada suara meninggi, ternyata lawan bicara merespons dengan nada suara yang sama tingginya. Otak langsung merespons: wah, dia ngga terima dengan pernyataan saya barusan.  

Saya meyakini perasaan marah itu manusiawi. Tapi sebelum mengelolanya, kita perlu kenal betul apa penyebabnya. Karena jangan-jangan marah itu bukan (sekedar) emosi, tapi juga masalah ekspresi? 

Dan, benarkah ekspresi yang muncul itu karena marah? Atau jangan-jangan emosi sebenarnya adalah kecewa? Atau sedih? 

Saya mau mikirin lagi ah...  

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Ahaa, posting ke dua nih di AES. Nuhun ka MJ... kena pancingan kak Leo nih ya?
You May Also Like