Begin Again... satu judul dari deretan blog yang menggerakkan jempol ini untuk mengetuk dan membukanya. Seusai membacanya lalu kata itu jadi seperti hantu yang terus bergentayangan di kepala dan lalu sampailah aku di sini, menggerakkan kedua jempolku untuk mengetuk satu persatu huruf demi huruf di layar telepon genggamku.
Hai.. halo... ini aku lagi... Lama rasanya tak bersuara lewat barisan kata yang terbaca. Tepat seperti judul blog tadi, saat ini sedang terasa kehidupan yang termulai kembali setelah lewat 50 hari yang lalu mama mertua pergi menghadap Sang Khalik.
Sekilas menengok ke belakang terasa benar di masa 40 hari itu keseharian kami yang terbata-bata, antara bergerak dan tidak, antara kenyataan yang membawa rasa sedih dan keyakinan yang memberi rasa terberkati.
Seperti sebuah perjalanan refleksi yang panjang, seperti meditasi berhari-hari dan seperti permenungan berseri, yang beranjak dari satu pertanyaan ke dialog lalu disusul jawaban dan kembali ke awal lagi.
Begin again lalu terasa seperti terlahir kembali, ketika yang lama mati, yang baru lahir. Ketika yang lalu tak lagi terjadi lantas benih baru menjadi ada. Bahwa lalu sesungguhnya hidup ini adalah kumpulan dari banyak siklus hidup mati. Bahkan setiap bulan purnama hadir, itu pertanda bahwa akan ada yang hilang dan mati. Hingga saat bulan baru adalah waktunya melihat benih baru tumbuh lagi.Β
Memang sudah jadi dasar sifatnya manusia untuk takut mati, tak mau kehilangan dan tak nyaman berubah, padahal evolusi butuh kelahiran berkali-kali. Mungkin, jika terbiasa 'mati' berkali-kali lantas kita tak lagi takut mati. Mungkin, jika terbiasa menanam benih dalam diri, kita tak lantas harus terkubur dalam kegelapan agar suatu biji merekah dan menumbuhkan sesuatu yang baru.Β
Berubah dan bertumbuh, bertumbuh dan berbuah, berbuah dan menjadi banyaklah seperti satu buah yang berbiji banyak.
Gugur dan matilah
Jika biji tidak mati ia tetap tinggal biji, namun bila ia musnah, berbuah berlimpah-limpah.
Bagus banget tulisannya Yuli... Mendalam... Terima kasih sudah berbagi di sini... ππΌ
Nuhun Kak Andy, juga untuk tularannya ππΌπ
turut berduka cita Yuli.. semoga segera tumbuh hal indah yang baru..
Amin..terima kasih kak Ine π€
Turut berduka cita, Bu Yuli...ππ
Nuhun Pak Akham ππΌπ
Turut berduka ya ci atas meninggalkan mama mertua... π
Tulisan yg bagus sekali ci yuli... Membuatku berpikir kembali untuk mengerti dan meresapi intisari dan maksudnya dalam kehidupan pribadiku sendiri. ππ Request menulis tentang cara bernafas yg baik kalau senggang ya. Hihi..
Terima kasih ya Aileen... πππΌβ€ juga untuk rekuesnya... semoga mestakung pada waktunya ya ππΌβ€
Turut berduka cita bu Yuli..
Terima kasih untuk tulisannya yang sangat menyentuh π
SamiΒ² bu π€β€ Nuhun ππΌ
Halo Bu Yuli, tulisan ini telah terpilih untuk dibukukan, mohon izin tulisan ini diterbitkan di buku 5 Atomic Essay Smipa Pecah Telor [AES001], semoga berkenan ya. Terima kasih. ππ»
mangga kak.. dengan senang hati turut berbagi πππΌβ€ hatur nuhun