Malam takbiran. Ini adalah peristiwa yang sudah sangat lama tidak saya alami. Saya tidak tahu budaya negara lain karena walaupun saya tinggal di tengah-tengah masyarakat muslim dari Timur Tengah ketika selama 8 tahun di Fort Collins, saya tidak pernah mendengar atau menyaksikan malam takbiran seperti di Indonesia.
Konon, di Indonesia ada perpaduan antar budaya, semacam inkulturasi, ketika merayakan malam yang sakral dimana masyarakat mengagungkan kebesaran Tuhan dengan cara bertakbir, membunyikan bedug, di daerah lain ada yang membunyikan lesung bahkan pawai obor.
Menurut pakar budaya Universitas Airlangga Ahmad Syauki, momen malam takbiran sangat kental dengan budaya dan tradisi. Di berbagai tempat di seluruh pelosok negeri memiliki kearifan budaya lokal masing-masing.
Sejak sore takbir berkumandang dimana-mana. Di area tempat saya tinggal memang memiliki banyak masjid, apalagi di bagian ujung bawah kompleks kami ada lembah dengan sungai yang cukup besar mengalir, ini menjadi semacam ruang akustik yang baik untuk menyampaikan pesan-pesan, doa dan ajakan berdoa dari sebuah masjid di situ. Lingkungan saya memang sangat agamis, komunitasnya sangat tekun berdoa dan sangat ramah bermasyarakat. Saya beruntung tinggal di lingkungan ini.
Takbir malam ini lebih banyak didominasi oleh anak-anak yang memiliki pitch yang tinggi. Seruan-seruan yang mengungkapkan keagungan dan kebesaran Tuhan berkumandang semalam suntuk. Istirahat saya diiringi dengan ungkapan doa tanpa akhir. Sangat luar biasa.
Malam berganti menjelang fajar, saya masih terus mendengarkan pendarasan doa dan pujian-pujian pada Yang Kuasa. Tanpa henti dan silih berganti dengan berbagai warna suara. Ini adalah sebentuk unik cara mengungkapkan sebuah kemenangan melawan hal-hal negatif sebulan penuh. Saya hampir terlelap ketika takbir kemudian berubah dengan berbagai wejangan. Shalat Ied sudah dimulai. Di luar mulai terang walau terhalang tirai tebal.
Pukul 7:15 pagi. Hari baru diliputi keheningan. Sekarang saatnya saya beristirahat.
Foto credit: celebrithink.com