Perjalanan kali ini cukup panjang. Dari Truro menuju Albany butuh waktu
sekitar 7 jam dengan bus. Kami akan melewati beberapa state, dari Massachusetts, Connecticut, Rhode Island dan akan tiba di New York petang hari. Saya orang yang senang jalan jalan, jadi buat saya ini akan menjadi pengalaman menyenangkan, apalagi kali ini kami pergi bertiga sebab Jaida, guru silat saya, akan ikut. Jaida ini bule Irlandia yang kakek serta neneknya adalah orang Yahudi Polandia, jangan tanya kenapa kok jadi Irlandia hehehe.. Sejarahnya panjang dan tidak cocok dengan jalan cerita saya.
Kami diantar dengan mobil ke terminal bus di Hyannis. Dari sana kami naik Bus 'Bonanza'. Banyak kota kota yang menarik perhatian saya selama perjalanan. Yang saya ingat adalah Fall River yang persis di pinggir laut, Ada kapal tempur US Navy di sana, cuma karena busnya bergerak cepat sekali, kami tidak sempat mengabadikan dengan kamera. Sesudah itu kami memasuki Rhode Island state dan menuju Providence. Ini kota yang bagus, ada bangunan gereja yang Indah sekali di sana. Sebetulnya ada seorang kawan yang tinggal di sana. Dulu ia pernah mengajar di Unpar Bandung di Pusat Bahasa, cuma ketika kami telepon ke sana, ibunya bilang bahwa dia sekarang bekerja di Boston.
Dari Providence kami masuk lagi ke Massachusset dan menuju Springfield. Nah setelah lewat Springfield pemandangan berubah total. Kami melewati kota kota kecil yang sangat unik. Sepertinya lebih tepat di sebut desa daripada kota, sebab kelihatannya cuma sekelompok rumah dan bangunan di sepanjang jalan. Sangat cocok untuk film cowboy ha ha ha. Yang paling saya sukai adalah kota Lee. Kota ini terletak dekat perbatasan New York state. Kota-nya kecil, tapi bangunannya bagus bagus sekali. Bergaya Eropa tapi khas pedesaan. Halaman halamannya tertata rapih sekali. saya kepingin sekali punya rumah dengan desain seperti itu. Bagus!
Kami tiba di Albany petang hari dan dijemput oleh adik dari Jaida dan langsung ngebut ke Saugerties. Saya begitu bergairah karena kali ini kami akan tinggal di tengah hutan. Jarak antara satu rumah ke rumah lainnya sangat berjauhan, sebab kebanyakan orang memiliki tanah yang berhektar hektar di sini, seperti halnya ayah dari Jaida ini. Kami begitu bersemangat ketika dijanjikan akan berjumpa dengan rusa liar, Turkey dan satwa satwa liar lainnya. Hari mulai gelap dan kami benar benar masuk hutan. Ketika kami tiba di rumah, saya
begitu terpesona karena memang benar rumah itu terpencil ditengah tengah hutan yang penuh dengan pepohonan. Wah kalau musim dingin bisa beku nih, saya pikir. Di halaman yang sangat luas kami bisa melihat tempat untuk membelah kayu pinus untuk perapian dan tempat untuk duduk duduk. Bunyi serangga dan binatang binatang malam mulai ramai. Sunyi dari keramaian dan gegap gempita aktifitas manusia, semuanya hanya alam dan alam. Damai….

Kami di sambut oleh sang ayah. Dia sudah menyiapkan makan malam, sea food stew hmmmmmm….. langsung lapar saya! hahahaha… Rumahnya berlantai 3, dengan sebuah grand piano di ruang tamu. Wah gila ini keluarga! saya bilang dalam hati.. semuanya nyentrik nyentrik! Saya begitu terkejut ketika menengok ruang bawah.. isinya adalah koleksi CD yang jumlahnya ribuan, laser disc, piringan hitam dan lain lain. Gila!!! Di ruang tamu penuh dengan buku buku musik dan partitur ciptaan komponis komponis musik klasik terkenal Buku buku poetry tidak kalah banyaknya. Sesudah istirahat dan membersihkan diri kami santap makan malam dengan lahap dan turun ke lantai dasar untuk ngobrol dan nonton sebuah film tentang satwa liar di salah satu pulau di Kanada.
Besok kami akan tour mengelilingi daerah itu, seperti woodstock, Kingston,
Phoenecia, Catskill dan sebagainya. Dan tentu saja saya berharap berjumpa
dengan satwa liar.
Woodstock
Selama 3 hari kami berkeliling menyusuri beberapa kota di dekat Saugerties. Acara dimulai dengan mampir ke Kingston, sebuah kota yang tidak terlalu besar, tidak ada yang terlalu istimewa. Dari sana kami ke Woodstock untuk makan siang. Menu kali ini adalah sandwich ala Italy. Di sebuah warung sandwich yang namanya Wheatfield. Sandwichnya enak sekali! Kami bisa duduk duduk di kursi yang disediakan di pinggir jalan, sambil menikmati makanan dan minuman.
Woodstock adalah kota kecil yang sangat terkenal karena tahun 1969 diadakan sebuah konser musik secara besar besaran yang pertama kalinya di Amerika. Para seniman melebur dan mengekspresikan diri mereka sebagai ajang protes terhadap pemerintah yang sedang ikutan perang dengan Vietnam. Konser itu dihadiri oleh 500.000 orang dari berbagai pelosok negeri. Ini Konser musik rock n'roll terbesar. Lalu setelah itu konser ini diadakan beberapa tahun sekali, hanya tempatnya tidak selalu di woodstock. Sayang sekali konser woodstock tahun 99 ini diakhiri dengan kerusuhan, bakar bakaran, bahkan banyak korban luka luka, sehingga terpaksa dihentikan oleh polisi. Gaya musiknya sudah jauh berbeda dengan musik tahun 60 atau awal 70-an. Sekarang ada heavy metal yang hingar bingar.
Woodstock juga terkenal sebagai kota seniman dan hippies. Gaya hidup seniman memang aneh aneh, bahkan kuburan para artis di sana benar- benar unik, batu nisan di sana ada yang aneh artistik, berbentuk patung dan lain-lain, sangat jauh berbeda dengan kuburan penduduk biasa yang rapih yang ada di sebrangnya. Di salah satu sudut sepi ditengah tengah hutan pinus, terdapat sebuah panggung pertunjukan, dan seorang seniman sedang berlatih drama. Di seberangnya ada seorang sedang melukis temannya. sedangkan di taman di tengah kota ada seorang bergaya gembel sedang menyanyi sambil memainkan gitarnya.
Kotanya sendiri tidak terlalu besar. Banyak toko souvenir, cafe dan juga
benda benda seni. Ada cafe bernama
Blue Stone. Tempatnya kecil tapi menyajikan makanan organik yang enak. Kalau suka dengan wind chimes, di sini ada tempat yang menjual wind chimes yang terkenal. Betul betul menciptakan bunyi yang bukan main indahnya dari yang kecil sampai pipanya lebih besar dari tiang bendera. Kalau suka pakaian ala hippies yang khas, silahkan mampir ke sana kalau tidak salah namanya Dharmaware.
Dari woodstock kami meluncur ke Phoenicia. Ini kota kecil tempat kawan kami dibesarkan. Ada sebuah sungai di sana dan arusnya lumayan deras. Di dekat situ ada tempat penyewaan ban untuk meluncur di arus deras.
Di daerah sini buah cherry segar sangat amat manis. Ini buah cherry terenak yang pernah saya rasakan. Juga airuo maple di daerah ini juga enak sekali.
Kami sempat mampir ke sebuah biara Zen. Biara itu dulunya adalah sekolah
katolik. Bagus sekali, sayangnya mereka sedang retreat sehingga kami tidak
bisa berlama lama di sana
Dua hari pertama kami berkeliling, tak ada satupun binatang liar yang kami
jumpai. Baru pada hari ketiga, kami akhirnya melihat rusa yang sedang
merumput. Tidak tanggung tanggung, 37 ekor!!!! Prestasi yang hebat buat
pemula hahahaha…
Hari sabtu pagi, kami menuju stasiun kereta api di Raincliff. Tuntas sudah
hidup ditengah para seniman dan juga menyepi di hutan pinus. Kami akan menuju Wilmington di Delaware naik kereta api Amtrak, di sana kami akan berjumpa dengan sahabat dari Vietnam yang dulu pernah tinggal satu asrama di East West Center.
"Rumah terpencil di tengah tengah hutan" dan "jarak antara satu rumah ke rumah lainnya berjauhan" terdengar sesuai dengan cita-cita Pak Jo buat di hari tua ya...
Sepertinya saya banyak terpengaruh pengalaman2 dalam perjalanan2 sepeti ini. Rumah Amerika, apalagi untuk kelompok sosial bawah, semacan town house, bisa mendengar tetangga ngobrol. Cuma orang sangat kaya yang punya rumah dengan dinding tembok seperti di Indonesia. Sisanya rumah kayu yang kalau kebakaran bisa ludes dalam 15 menit. Urusan rumah, orang Indonesia jauh lebih mewah!