Setelah beberapa hari cuaca sangat panas mendekati 100F (37C), pagi ini gerimis, suhu menjadi sejuk walau matahari tidak terlihat, kusam dan membuat perasaan mellow.
Di TV barusan ada acara mengenang peristiwa kelam 20 tahun yang lalu ketika teroris menyerang 2 gedung tertinggi di New York yang menewaskan total hampir 3000 orang termasuk yang di dalam 2 pesawat yang menabrak gedung, 19 orang teroris dan penumpang pesawat lain yang jatuh di sekitar gedung pentagon dan di luar sebuah kota di Pennsylvania. Pesawat yang terakhir ini katanya akan ditabrakkan ke sebuah gedung di Washngton DC tapi crew dan penumpang menyerbu cockpit pesawat yang dibajak lalu jatuh sebelum rencana teroris ini berhasil.
20 tahun yang lalu, saya bangun pagi seperti biasa. Waktu itu tinggal di asrama mahasiswa Internasional. Sebelum jam 5 pagi saya mandi di common bathroom. Kamar mandi yang dibangun di tengah-tengah yang dikelilingi 8 buah kamar. ada 3 kamar mandi dan beberapa WC (saya lupa) Ketika masuk ruangan kamar mandi, di sekitar wastafel, saya bertemu seorang mahasiswa Jepang, lagi-lagi lupa namanya. Dia cerita dengan bersemangat dengan aksen khas orang Jepang sehingga saya tidak mengerti seluruhnya. Saya hanya memberikan reaksi terkejut dan terpukau tanpa sama sekali mengerti apa yang dia ceritakan. Rasa kantuk mungkin membuat otak saya malas bekerja untuk mencerna cerita mahasiswa Jepang ini. Saya langsung mandi dan pergi kerja.
Sebelum jam 6 saya sudah sampai di tempat kerja, membuka toko, menyalakan oven lalu mulai sibuk mengeluarkan adonan roti yang sudah empuk dan siap dikasukkan ke dalam proofer agar mengembang. Saya semprot rak untuk memanggang dengan minyak lalu saya taruh adonan roti, lalu masuk proofer selama 12 menit. Pasang alarm, lalu adonan roti yang sudah mengembang dengan cantik saya keluarkan dari proofer dan saya toreh sedikit dengan pisau agar ada semacam bukaan di atas roti lalu masuk oven yang sudah saya panaskan untuk dipanggang selama 15 menit. Itu kegiatan rutin saya selama 1 jam pertama sebelum toko buka. Sambil memanggang roti saya juga menyiapkan cookies di baking sheets yang sudah saya alasi dengan kertas minyak untuk dipanggang ketika saya sudah selesai memanggang semua roti. Sambil menunggu roti saya menyiapkan tugas lain, membuat kopi, membuat teh, memasang kembali nozzles untuk mesin Coca Cola dan sebagainya.

Pukul 7 saya membuka pintu toko, menyalakan lampu-lampu dan menyalakan radio yang disambungkan pada speaker di seluruh toko. Lagu-lagu oldies biasanya langsung bunyi tapi hari ini saya merasakan sesuatu yang berbeda. Kok isinya seperti siaran berita? Ada apa ini? Saya pasang telinga sambil terus bekerja menyiapkan tomat yang harus dipotong dengan alat yang barusan saya pasang. Daun selada harus saya keluarkan dari kantong lalu dituang ke panci persegi panjang untuk disiapkan di counter agar siap jika ada pembeli sandwich. Meat slicer sudah siap, daging-daging sudah ditata rapih. Saya sudah siap melayani pelanggan. Lalu berita radio membuat saya terperangah dan tidak percaya pada pendengaran saya sendiri. Langsung saya angkat telepon dan menelepon Nina yang masih tidur. Gedung Twin Towers ditabrak pesawat terbang!
Satu tengah tahun sebelumnya saya dan Nina ada di gedung itu. Kami naik ke lantai 107 di South Tower yang memang lantai itu disediakan untuk para pengunjung naik agar dapat melihat seluruh kota New York dari gedung yang pernah menjadi yang tertinggi di Dunia. WTC tingginya 417 meter dan dengan tambahan antena maka total lebih dari 500 meter dengan 110 lantai. Pengunjung hanya boleh hingga lantai 107. Sekelilingnya dibatasi dengan sebuah pagar yang besar sebelum kemudian dinding kaca yang tebal. Saya takut ketinggian, untuk mendekati didinding kaca hingga ke pagar kaki saya gemetaran, padahal gedung itu tertutup, tidak seperti di Empire State building yang observation deck-nya open air. Saya butuh waktu beberapa saat agar berani mendekat setapak demi setapak dan memegang pagar yang bagian atasnya berbentuk pipa mungkin dengan garis tengah 20 atau 30 cm. Saya merasakan detak jantung saya sangat cepat, ada sensasi aneh diseluruh tubuh karena rasa ngeri berada di tempat yang amat sangat tinggi. Kendaraan dan manusia di bawah terlihat hanya seperti titik titik hitam. Di lantai itu juga dibuat semacam museum, maket Twin Tower, sejarah dan foto foto sejak mulai dibangun pada tahun 1968 dan selesai sekitar tahun 1971 diikuti gedung ke dua tahun 1972.
Saya membayangkan orang-orang yang terjebak ketika pesawat menabrak Gedung utara di lantai 93-99. Bayangkan ada 11 lantai di atasnya yang kebanyakan dijadikan kantor dengan ratusan orang terjebak tidak bisa turun karena lift sudah rusak dan tangga darurat juga sudah hancur. Kemudian tidak sampai 20 menit kemudian pesawat ke dua menabrak lantai 77-85 Gedung Selatan, lebih banyak lagi orang-orang di lantai di atasnya yang terjebak. Kalau melihat di TV banyak orang yang terjatuh dari atas, saya sama sekali tidak bisa membayangkan kengerian yang mereka hadapi. Dalam kondisi biasa saja saya sudah ketakutan, apalagi dalam kondisi semacam itu. 56 menit sesudah tabrakan yang pertama gedung runtuh diikuti gedung Utara runtuh 54 menit kemudian. Sambil mendengarkan radio, tanpa sadar saya menangis. Di tempat kerja hanya saya sendirian hingga pukul 10-an. Ini air mata saya yang ke dua menyaksikan tragedi yang mencekam ini. Yang pertama ketika saya menonton di TV tentang kerusuhan di Jakarta tahun 1998. Kami para mahasiswa Indonesia yang di rantau saat itu berkumpul dan duduk di depan TV sambil bertangis-tangisan! Berita tentang Kerusuhan di Indonesia itu disiarkan oleh TV lokal.
Tahun 2019 saya kembali ke New York, mengunjungi lokasi Twin Towers yang sudah berubah menjadi memorial, Kalau malam ada 2 lampu sorot yang diarahkan ke angkasa. Ketika di sana ada semacam perasaan mencekam. Membayangkan ribuan orang yang kehilangan nyawanya di lokasi itu, membuat saya tidak tahan berlama-lama. Saya masih belum mengerti mengapa manusia yang mempunyai hati nurani dapat melakukan hal-hal yang sangat kejam yang di luar akal sehat. Karena apa? kebencian? Perbedaan pendapat? perbedaan keyakinan? atau balas dendam? Saya tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu adalah, hari itu kekejian manusia telah menghilangkan nyawa hampir 3000 orang!***