Pagi-pagi saya ditemani segelas kopi menunggu di Big O Tire, katanya butuh waktu 1 jam untuk mengganti oli kendaraan saya yang sebetulnya sudah harus saya lakukan sekitar 200 miles yang lalu. Kesibukan menjelang akhir semester menyita banyak waktu sehingga sulit mencari kesempatan untuk melakukan ini,
Sambil menunggu di ruangan kecil sederhana di bengkel, saya mulai merenung. 2 tahun terakhir ini lewat tanpa ada kejadian terlalu menarik. Pandemi ini memang banyak mengubah dan mempengaruhi hidup ini. 2 tahun itu bukan waktu yang pendek, hampir 1/2 dari kurun waktu saya di rantau. Kemarin, tanggal 20 Desember, saya tepat berada di rantau selama 5 tahun.
Ruangan di bengkel ini sangat sederhana, hanya ada sebuah coffee maker kecil yang boleh dinikmati oleh pelanggan maupun karyawan, Tidak ada spesial-spesialnya, apalagi kalau dibandingkan dengan yang biasa saya kunjungi di Bandung, seperti misalnya Auto2000 yang kalau dibandingkan dengan ini sangat mewah. Di Auto200 saya diperlakukan secara istimewa. Pelanggan bisa duduk di lounge dengan kursi pijat, sebuah TV besar, dan menikmati jajanan plus cappucino atau hot cocoa! Kano waktu masih kecil senang sekali kalau diajak ke sini. Di sini ya duduk di kursi seadanya dikelilingi ban mobil yang sengaja dipajang buat iklan!
Selesai ganti oli saya menjemput Nina yang sedang berenang di Senior Center. Ini pusat rekreasi untuk para manula, walau yang ke sini tidak hanya manula (Saya belum bisa dianggap manula hahahaha). Di pusat rekreasi ini ada lobby yang besar yang bisa dipakai para manula untuk berkumpul untuk ngobrol, bermain puzzle, duduk membaca di perpustakaan, dan sebagainya, Tempat duduk-duduk yang sangat nyaman dengan sebuah mesin Kopi yang jauh lebih canggih dari Auto2000! Di pusat manula ini ada kolam renang, pusat kebugaran yang menawarkan banyak kelas berenang atau fitness untuk masyarakat, Ini adalah fasilitas untuk komunitas yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, terutama manula sesuai dengan nama kompleks ini!

Apa yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini adalah sedikit membandingkan apa yang saya alami di 2 tempat. Dalam satu hal ada sebuah fasilitas yang berlebihan untuk kalangan terbatas yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan, sementara di sisi lain yang sangat membutuhkan tidak memperoleh fasilitas. Ya memang ini semacam daya tarik yang sengaja dimunculkan untuk tujuan bisnis jadi sama sekali saya tidak berusaha melompat ke masalah primodialisme, ini mungkin akan jadi topik menarik untuk didiskusikan di esai yang lain juga dikaitkan dengan etnocentrisme maupun social class priviledges. Yang ingin saya tekankan di sini adalah semata-mata konsep necessity. Mana yang sebetulnya perlu dan penting untuk di-ada-kan dibandingkan dengan yang lainnya.
Untuk memanfaatkan fasilitas ini memang tidak gratis, saya bisa menjadi anggota untuk seluruh pusat rekreasi dan kebugaran kota (jadi tidak hanya di senior center) dengan membayar setara dengan satu nasi bungkus untuk 1 keluarga selama setahun! Untuk ikut kelas, saya juga harus membayar juga setara dengan sebungkus nasi untuk sebulan, jadi memang relatif murah karena seluruh fasilitas ini dibiayai oleh pemerintah kota dari seluruh pembayar pajak. Ada beberapa komunitas semacam ini di seluruh kota, karena dianggap sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai bentuk pelayanan demi kesejahteraan dan kesehatan, sementara yang tidak terlalu penting dan tidak dibutuhkan ya secukupnya saja, tidak berlebihan. ***