Gratitude is an emotion that flourishes as you age.
Kalimat ini terdengar sangat biasa tapi jika direnungkan apalagi jika kemudian dikaitkan dengan perjalanan hidup, maka kalimat itu memiliki arti yang sangat dalam. Saya akan berusaha ngobrol soal ini.
Di jaman sekolah seperti halnya hampir setiap orang, memiliki banyak mimpi, banyak keinginan dan semuanya sangat luar biasa. Saya juga begitu! Jaman kecil ketika melihat pesawat terbang jauh tinggi di angkasa, saya membayangkan bagaimana rasanya berada di atas sana. Seperti halnya anak-anak kampung melihat helikopter terbang, langsung lari ke lapangan sambil berteriak-teriak. Kami semua melihat ke atas, lupa dengan kondisi saat itu, tidak peduli dengan kaki yang telanjang, kami terus terpaku melihat ke atas, jauh ke angkasa lupa bahwa banyak batu tajam yang mengiris jari-jari kotor karena seharian bermain penuh debu dan pasir. Yang kami lihat adalah jauh ke atas, jauh ke depan. Yang menjadi perhatian adalah hal hal yang diluar diri sendiri, yang tidak ada pada kami dan yang tidak terjangkau pada saat itu. Mimpi, angan-angan dan harapan menjadi fokus yang ingin dikejar.
Ketika dewasa dan jauh lebih pandai melihat kenyataan, memulai karir dan membangun hidup, kesuksesan di masa-masa awal masih menjadi pusat perhatian. Kemudian angan-angan satu demi satu mulai tercapai atau mulai dibuang, diabaikan karena seringkali banyak cita-cita dan impian yang tidak masuk akal yang dibangun sejak masa kecil. Saya juga demikian, mulai realistis dan berusaha mengejar target yang mungkin dapat diraih dan yang masuk akal.
Namun dengan berjalannya waktu, perubahan dalam karir, keberhasilan dan kegagalan dalam membangun relasi, kepercayaan yang terus diuji, kemenangan dan kekalahan, menghadapi ketidak-tentuan, kekhawatiran demikian juga dengan pencapaian yang membanggakan, kesuksesan dan kebahagiaan, pandangan kita mulai beralih. Kita semakin menyadari apa yang kita miliki. Kita mulai aware bahwa banyak hal-hal yang terlewat dari perhatian. Kita mulai mengambil waktu untuk jeda dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengamati dan menyadari bahwa banyak hal yang sudah kita capai dan bersyukur akan segala sesuatu yang sudah dialami dan bersyukur akan segala kebaikan yang sudah dicapai. Seperti kalimat yang saya kutip di awal: Gratitude is an emotion that flourishes as you age.
Saya mulai lebih banyak menikmati hal-hal sederhana, hal hal kecil yang saya alami, yang saya lihat dan saya miliki. Waktu menjadi jauh lebih berharga dan sebisa mungkin dilewati dengan sebaik mungkin. Penghayatan pada hidup menjadi semakin dalam karena hal yang sepele sekalipun menjadi sangat berarti. Bayangkan saja dari seorang anak dengan kaki telajang kotor penuh debu pasir, wajah berpeluh dan belepotan kotoran karena bermain tanah, berlari-lari di lapangan menegadah ke atas karena ada pesawat terbang lewat sambil berteriak teriak; sekarang dia duduk santai di dalam kendaraan, mengemudi dengan menikmati musik yang lembut menuju tempat olahraga. Mengamati jalanan yang sepi karena hari Senin ini hari libur memorial day (Hari pahlawan), sambil ikut bersenandung mengikuti musik yang diputar, mengagumi pemandangi puncak gunung-gunung yang walaupun menjelang musim panas masih tertutup salju, taman yang asri serta pepohonan yang mulai rimbun dan penuh bunga di akhir musim Semi. Sebuah keindahan yang ketika masih kecil mungkin tidak pernah terimpikan, apalagi oleh anak kampung yang bermimpi untuk bisa naik pesawat terbang. Hal-hal kecil ini justru membuat saya bersyukur karena saya memilikinya, saya dapat menikmatinya dan live in the now.