Saya duduk memandang layar televisi dengan nanar. Sekeliling saya rasanya berputar-putar sehingga membuat kepala saya begitu pening. Di bawah rogga dada, di bagian diafragma ada rasa yang panas yang membuat semacam perasaan ada bagian dari isi perut yang mendorong ingin berontak keluar melalui tenggorokan. Perasaan yang sama sekali tidak nyaman. Begitu rasanya saat ini.
"I don't think I can drive you to work this evening. I am not feeling well." Kata saya.
"It's ok. You take a break and nap. And don't forget to take imboost and eat fruit." Kata Nina.
Tidak berapa lama dia sudah ada di depan pintu. "Gak bisa konsentrasi! Jadi pulang aja." Katanya. Nina tadi belajar di kedai kopi, tapi begitu dapat pesan saya dia malah memutuskan untuk pulang. Saya agak menyesali memberitahu dia, tapi akan lebih menyesal lagi kalau dia marah karena saya tidak memberitahu hahaha.. Serba salah!
Entah mengapa sejak bangun tidur saya agak kurang sehat, walau tadi pagi masih sempat ke supermarket memberi bahan-bahan untuk masak. Kano ingin dibuatkan ayam panggang dan Nina sedang kepingin makan bihun goreng. Semuanya sudah saya buat dan begitu selesai masak saya baru merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh saya.
Tadi pagi saya iseng-iseng membaca. Ada artikel menarik tentang weight loss plateau. Sepertinya saya mengalami ini. Sesudah sekian bulan saya berolahraga, sepertinya saya tiba di masa dimana berat badan saya stagnan dan tidak berubah walau saya tetap menjalankan pola makan yang teratur dan terkontrol, olahraga teratur bahkan seringkali saya berusaha begitu keras karena untuk mencapai heart rate yang saya inginkan juga kadang harus susah payah. Itu terjadi karena otot-otot jantung saya sepertinya sudah mencapai kondisi yang stabil. Dulu ketika baru mulai saya bisa dengan mudah mencapai heart rate yang tinggi, saya mudah kehabisan napas, sekarang sepertinya karena tubuh sudah kuat dan terbiasa dengan jenis olahraga yang saya lakukan, tubuh mulai bisa menghadapi semua "siksaan" yang saya lakukan. Badan saya sudah menyesuaikan diri dan akibatnya jumlah kalori yang saya bakar juga jadi menurun. Dulu dengan mudah saya membakar kalori di atas 800 bahkan hampir mendekati 1000 untuk olahraga selama 60 menit, jika 90 menit saya bisa membakar 1200 lebih, sekarang rata-rata setiap kali olahraga saya hanya membakar 700-an. Nah begitu gejala jika tubuh sudah mencapai garis datar. Itu menurut artikel yang tadi saya baca.
Sudah lebih dari 3 minggu saya tidak bisa berolahraga karena operasi. Keanggotaan di gym saya bekukan untuk sementara biar tidak harus bayar karena saya tidak bisa mendayung atau berolahraga menggunakan alat karena tangan saya harus istirahat paska operasi. Saya hanya berlari keliling kota. Itu yang saya lakukan tapi akhir-akhir ini kegiatan itu juga tersendat karena udara begitu panas dan saya tidak mau terkena heat stroke. Sudah ada korban meninggal karena heat stroke, dan saya tidak mau jadi korban. Mungkin agak berlebihan, tapi daripada menyesal, ya saya memilih berdiam saja di rumah.
Tangan sudah membaik, luka sudah hilang dan hanya terlihat sedikit garis samar-samar di bekas sayatan operasi. Sekelilingnya masih merah dan jari saya masih belum bisa ditekuk dengan sempurna tanpa rasa sakit. Jadi pada dasarnya masih dalam batas penyembuhan dan masih ada pembengkakan. Kata dokter minimal 4 hingga 6 minggu. Saya harap dalam minggu ke-4 atau ke-5 saya sudah bisa pulih dan kembali ke gym karena saya tau tubuh saya sudah mulai tidak fit lagi. Saya sudah mulai berenang, setidak-tidaknya 3 kelas sudah saya hadiri. Lumayan, walau saya kangen sekali untuk kembali ke gym. Ya sudah bersabar saja. Sementara, akhir pekan ini berusaha membuat tubuh kembali sehat. Mudah-mudahan saya tidak tertular covid, ada rasa ngeri juga karena kota saya sudah masuk ke level oranye lagi. Sejauh ini tidak demam ataupun sakit tenggorokan, jadi seharusnya aman. Saya akan istirahat saja akhir pekan ini.***
Foto Credit: lapbandsurgery.com