AES 435 Bekal Sekolah
joefelus
Monday August 1 2022, 3:14 AM
AES 435 Bekal Sekolah

Saya memasukkan tas belanjaan ke dalam mobil. Ada satu bungkus daging, timun mini, buncis dan sekantong snack untuk saya bawa ke kantor. Pekerjaan saya memang di depan komputer sehingga, snack menjadi sangat esensial, terutama ketika sudah mulai mengantuk dan lelah hahaha.

Saya duduk di belakang kemudi sesudah memasukkan belanjaan, lalu mulai mengambil jalapeno cheese sausage kolache karena belum sarapan sejak tadi pagi. Saya hanya sempat membeli kopi dan beberapa buah kolache sesudah mengantar Nina ke kantor lalu meluncur ke gym untuk berolahraga. Sambil mengunyah kolache perlahan-lahan, saya ingat kembali sebuah video klip pendek yang saya lihat di salah satu media sosial.

Bukan saat pertama saya menyaksikan klip ini, sudah berkali-kali malah, tapi saya selalu mengalami reaksi yang sama. Haru biru! Kenapa begitu? karena mengingatkan saya pada masa kecil. Klip itu menceritakan seorang anak pada saat istirahat di sekolah. Semua anak mengeluarkan makan siang termasuk anak ini juga. Dia membuka kotak bekalnya dan ketika dibuka, kosong! Anak itu minta ijin keluar kelas, berjalan gontai lalu minum air di water fountain dan kembali ke kelas.

Anak itu kembali ke kelas, ke tempat duduknya lalu mengambil kotak bekalnya untuk dimasukkan kembali ke dalam tasnya. Kemudian dia merasakan sesuatu yang aneh. Kotak bekalnya terasa berat. Dia membuka kotak bekalnya dan dia terpana ketika melihat kotaknya penuh dengan makanan. Setiap anak yang berada di kelas masing-maing membagikan sebagian bekalnya untuk anak tadi. Ada buah anggur, roti lapis, wortel dan lain-lain.

Saat itu saya duduk sendirian di ruang tunggu di Gym. Untuk kesekian kalinya ketika menyaksikan video klip ini, saya menangis! Saya bersyukur tidak ada siapa-siapa di sana. Video klip tadi mengingatkan saya pada masa kecil bersekolah di kampung. Tentu saja saya tidak sekeren, seganteng anak di video klip itu. Saya kurung kering, jelek dan dekil hahaha.

Saya sering cerita di tulisan-tulisan sebelumnya bahwa saya dibesarkan di keluarga sederhana, jadi seingat saya, tidak pernah saya membawa bekal makanan ke sekolah, kadang-kadang saja saya diberi uang saku seadanya. Tinggal di daerah pesisir pantai yang panas tidak jarang saya kehausan di sekolah. Seringkali saya mencari pembantu sekolah dan datang ke dapurnya untuk minta minum. Saya selalu anggap beliau sebagai penyelamat. Jika saya tidak berhasil menemukan mang Sipan, nama pembantu sekolah, terpaksa saya minum air mentah di sumur. Itu selalu saya ingat. Mau gimana lagi, saya sungguh kehausan. Rasa haus mengalahkan rasa takut saya untuk minum air mentah dari sumur.

Melihat video klip tadi serentak mengingatkan saya pada masa kecil. Teman-teman selalu memiliki uang jajan, dan saya selalu menjauh dan menyibukkan diri dikala istirahat, bukan apa-pa, yang saya lakukan itu untuk menghindari rasa sedih karena merasa tidak seberuntung teman-teman saya yang lain. Jajan buat saya bukan hal yang penting, toh saya tidak pernah kelaparan. Tapi namanya anak-anak, tentu saja ingin seperti anak-anak yang lain.

Saya terus menikmati kolache di mobil sambil diselingi kopi yang sudah mulai dingin. Tubuh saya harus diberi asupan sedikit protein sesudah berolahraga. Sambil merenung dan melamun, saya tetap merasa bersyukur walau dalam kesederhanaan, masa kecil saya termasuknya bahagia. Saya berada dalam keluarga yang hangat penuh cinta dan perhatian. Kesederhanaan mendekatkan kami satu sama lain dan saling mendukung hingga sekarang. Ya, kesederhanaan itu mengarahkan saya pada kebahagiaan saat ini, duduk seorang diri makan kolache, roti khas Cekoslovakia dengan isi sosis keju dan jalapeno yang sedikit pedas lalu ada acar jalapeno juga yang renyah dan manis. Jika untuk bisa menikmati ini saya harus melewati masa-masa minum air mentah di sumur sekolah, sepertinya sepadan juga. Toh saya tidak jadi sakit, mungkin karena dulu sering begitu, tubuh saya kebal juga terhadap bibit penyakit hahaha...

You May Also Like