Bertemu dan menjalin hubungan dengan banyak orang baru membuka banyak kemungkian dan meluaskan wawasan. Itu salah satu keuntungan dan manfaat yang saya rasakan ketika berada di rantau. Kalau saya hitung sejak saya mulai tinggal berjauhan dengan orang tua, hampir setengah kurun waktu dalam hidup saya dijalani jauh di rantau. Nah pengalaman ini yang sedang ingin saya obrolkan saat ini.
Kalau benar-benar diamati, saya punya teman di 5 benua. Kalau di sekolah-sekolah di Amerika katanya ada 7 benua yaitu Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Eropa, Australia, Afrika dan Antartika. Kalau sekolah-sekolah di Eropa mengakui 6 Benua karena Amerika Utara dan Selatan dihitung sebagai satu benua, sementara ketika saya dulu belajar, hanya ada 5 benua karena Antartika tidak dihitung. Tidak masalah apakah ada lima, enam atau tujuh. Seingat saya, tidak ada teman yang dari Antartika karena setahu saya tidak ada penduduk yang tinggal di sana, hanya mungkin para peneliti. Selama di rantau saya bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai penjuru dunia dan banyak yang saya pelajari dari mereka.
Bertemu dengan orang-orang baru berarti eksplorasi hal-hal baru. Saya banyak mempelajari kebiasaan, budaya, wawasan bahkan bahasa dari mereka. Sangat beruntung saya sering ikut dalam acara kebudayaan. Misalnya saya pernah hadir dalam acara kebudayaan orang-orang Mongolia, acara kebudayaan orang-orang pasifik, menghadiri pernikahan teman dari Eropa Timur, kumpul-kumpul berpesta dengan teman-teman dari negara-negara di Amerika Selatan, India, Pakistan, Nepal, Jepang, Korea, Turkeye, Serbia, Kirgistan, atau Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Laos, Vietnam, Thailand, kamboja dan lain-lain. Nah, ini menciptakan sebuah network yang luar biasa, bukan?
Saya banyak mempelajari hal-hal baru. Mata saya terbuka melihat kebiasaan mereka yang berbeda, pandangan tentang banyak hal yang unik. Dengan mengetahui berbagai macam cara pandang, pola keseharian dan kebiasaan, budaya, ideologi yang berbeda, saya mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan. Konsep keluarga yang saya pahami ternyata tidak selalu sama dengan budaya dan latar belakang teman-teman dari penjuru dunia lain. Makanan apa lagi, saya merasa begitu kaya ketika mengetahui dan merasakan berbagai jenis makanan dari manca negara. Ini akan saya ceritakan di tulisan saya yang lain.
Ada hal yang aneh yang justru saya alami ketika berada di rantau. Yaitu justru ketika di rantau, kesempatan saya untuk bertemu dengan orang-orang spesial jauh lebih terbuka. Saya bisa ngobrol dengan Mas Goenawan Mohamad (beliau minta dipanggil Mas waktu itu), saya ngobrol dan piknik BBQ-an dengan bapak mentri, bapak duta besar, artis hingga Pak Pramoedya Ananta Toer. Aneh ya? Mungkin orang-orang di rantau dianggap spesial sehingga kami sering "dikunjungi" orang-orang spesial! Hahahaha..
Di rantau, nilai budaya tanah air justru jauh lebih diapresiasi. Entah bagaimana, yang jelas kami yang di rantau jauh lebih sensitif dan jauh lebih menghargai budaya nasional dibanding ketika tinggal di tanah air. Kami terharu ketika menyaksikan tarian bali atau begitu bersemangat belajar tari Saman dari Aceh bahkan belajar silat atau memainkan gamelan! Waktu di tanah air mah boro-boro! Hahahaha
Yang jelas saya rasakan adalah perbedaan memicu kreatifitas serta mendorong untuk terus mencari informasi dan wawasan baru. Semakin menyadari segala perbedaan, semakin mampu menghargai kekayaan kehidupan. Wawasan menjadi semakin luas dan semakin mampu menghargai kehidupan karena perbedaan memicu penghargaan, bukannya ancaman seperti yang sering kita perhatikan terjadi di masyarakat. Dihadapkan pada perbedaan mengubah pandangan dan cara berpikir!
Foto Credit: spendlifetraveling.com