AES 524 Big Deal
joefelus
Saturday October 29 2022, 11:09 AM
AES 524 Big Deal

"We will miss this!" Kata saya pada Nina ketika kami keluar dari kedai kopi menuju kendaraan yang kami parkir beberapa gedung di belakangnya. Kebetulan di situ ada gedung milik kantor tempat saya bekerja, sehingga saya bisa parkir di sana karena mempunyai ijin.

"I know." Jawab Nina pendek.

Jalanan masih sepi karena belum pukul 8 pagi. Suhu pagi ini sangat dingin membuat napas kami beruap keluar dari mulut atau hidung. Pepohonan masih sebagian kuning dan banyak yang sudah mulai gundul. Musim gugur baru saja kami jalani selama 1 bulan, masih ada 2 bulan lagi hinga beberapa hari menjelang Natal lalu memasuki musim dingin.

Saya merasa santai walau sebentar lagi sudah akan sibuk dengan pekerjaan kantor. Ini menyenangkan. Perasaan segar karena sudah cukup istirahat, dimulai dengan pagi yang tenang dan kopi panas walau cuaca sangat dingin. Ini perasaan yang akan kami tinggalkan jika kembali ke tanah air. Kenapa begitu? Karena situasi jauh berbeda. Ini topik yang akan saya obrolkan di esai ini.

Ini akan menjadi PR saya! Ini akan menjadi tantangan yang ingin saya ubah walau jujur saja saya agak sedikit pesimis karena situasi ini akan agak sulit dihadapi. Yang harus saya ubah adalah pikiran dan attitude saya! Sebelum menjadi tambah membingungkan, saya akan mulai "cerita" hahaha. Tapi sebelum mulai, ini cuma yang saya alami, ya. Mungkin tidak terlalu berlaku untuk orang lain.

Kenapa saya suka kota kecil? Karena banyak hal, tapi yang pasti di pagi hari saya tidak perlu tergesa-gesa. Nah ini yang saya rasakan di Fort Collins yang penduduknya tidak lebih dari 170 ribu jiwa. Pada masa perkuliahan ditambah sekitar 40 ribu, maka jumlah total masih sangat rendah jika dibandingkan dengan kota besar. Mengapa saya berkata ke Nina bahwa saya akan kehilangan "ketenangan" dan "kenyamanan" saya di pagi hari? Karena ketika pulang ke Bandung, saya akan bergumul dengan hampir 2,5 juta jiwa!!!! Bayangkan saja, itu baru jumlah penduduk yang tinggal dalam batasan kota, belum termasuk yang commute dari luar kota Bandung yang datang setiap hari. Memang sangat masuk akal jika kita membandingkan population density antara Bandung dengan Fort Collins. Di sini population density-nya adalah 3060 jiwa per mile persegi sementara Bandung sekitar 37.840 jiwa per mile persegi! Fort Collins hanya 8 persennya saja!

Kalau membandingkan masyarakatnya, Bandung sepertinya penuh dengan pekerja keras, orang-orang yang rajin bangun pagi dan mulai mencari nafkah, sementara di sini ketika saya berangkat kerja pukul 7 pagi saja orang belum banyak di jalan. Kendaraan masih jarang dan memang di musim gugur atau musim dingin pukul 7 masih lumayan gelap, matahari belum kelihatan sama sekali. Orang sini seperti yang kesulitan bangun bahkan ada yang mengeluh ketika harus berada di kantor pukul 8 pagi.

Teman-teman suka heran ketika saya cerita bahwa pukul 6 pagi sudah berada di kolam renang. Mereka kebanyakan malah masih tidur! "How can you do that? How many hours do you sleep everyday?" Tanya mereka. Dalam hati saya ingin berkata bahwa dulu biasa saya sudah di dapur pukul 4 pagi karena tugas domestik dan sudah di dalam kendaraan serta sarapan di dalam mobil. Di sini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekerasan hidup di Indonesia!

Kalau sudah begini saya begitu respect pada masyarakat di tanah air. Hidup sangat keras dan setiap pagi rasanya selalu tergesa-gesa. Saya ingat Kano harus bangun pukul 5 pagi dan mandi lalu sepanjang jalan menuju Smipa makan di mobil. Sekarang juga masih sering sih dia makan pagi di mobil, tapi menjelang pukul 9 pagi ketika dia menuju tempat kerja hahahaha...

Di sini saya mulai menimbang-nimbang, apakah nanti ketika sudah kembali saya dapat mengkondisikan diri untuk tidak terbawa arus "tergesa-gesa" seperti dulu? Saya membayangkan bahwa di sekeliling begitu sibuk bergegas sementara saya seolah-olah bergerak dengan slow motion dan bergerak di dimensi yang saya ciptakan sendiri. Apakah bisa begitu? Jadi seperti di film, ketika semua orang berhenti bergerak tapi pemeran utama bisa bergerak, nah saya ingin kebalikannya dimana semua orang bergegas tergesa-gesa dengan arus yang kencang, saya bergerak dengan lambat dan menikmati ketenangan serta ketentraman yang saya ciptakan sendiri. Wah kalau bisa begitu sepertinya hebat sekali.

Dulu saya begitu menggebu-gebu, mudah marah dan berserapah di jalan menuju ke sekolah atau kantor, begitu larut dengan hiruk pikuk pergerakan semua manusia dengan kesibukannya ming-masing. Saya begitu terbawa arus sehingga seolah-olah lupa dengan tujuan sendiri. Saya tidak mau begitu lagi. Pertanyaanya apakah bisa?

Nilai dari sebuah ketentraman, ketenangan diri dalam memulai hari menjadi begitu penting. Intensitas keberasilan dalam menjalankan keseharian bagi saya tergantung dari kondisi di pagi hari. Fokus akan menjadi lebih mudah dilakukan ketika perhatian kita tidak terpecah karena pengaruh banyak hal di luar diri. Nah ini yang harus saya betul-betul pelajari agar nanti PR dan tantangan bisa saya lalui dengan baik.

Kalau sudah begini lagi-lagi kembali ke mindfulness. Iya khan? Mungkin bisa dimulai dengan saat hening. Saya akan coba karena ternyata ketenangan dan ketentraman di pagi hari bagi saya itu big deal! Sepertinya saya sudah mulai mengkondisikan diri dari sekarang karena sebelum sungguh sungguh menghadapi situasi yang nyata, saya sudah harus mempunyai kebiasaan dan disiplin yang baik. Sesuatu yang big deal memang harus dipersiapkan dengan baik. Bukan begitu?

You May Also Like