Persepsi tentang kehidupan adalah cara bagaimana kita memandang hidup. Seperti yang pernah saya tulis tentang gelas tersisi air sebagian. Ada orang yang mengatakan bahwa gelas itu setengah kosong tapi ada yang mengatakan gelas itu setengah penuh. Faktanya sama tapi sudut pandangnya berbeda. Perspektif seseorang dapat menggambarkan tabiat orang itu dalam menjalani hidupnya. Ada yang melihat kehidupannya dari sisi yang baik, tapi ada juga yang memandang hidupnya hanya sekedar menemukan kesalahan, kekurangan dan alasan untuk mengeluh. Perpektif atau sudut pandang tentang kehidupan menentukan cara yang dipilih oleh seseorang untuk menjalani hidupnya.
Beberapa hari terakhir ini saya dihadapkan pada kenyataan yang sangat menyesakkan mengenai seorang sahabat saya yang menjadi korban kebiadaban. Sebagai orang yang merasa sangat dekat dengan sang korban, saya bereaksi sangat luar biasa. Kehidupan keseharian saya selama beberapa saat begitu terganggu. Keseimbangan saya tergoyahkan dan harus berjuang untuk bisa menerima kenyataan itu dan mengolah informasi yang sangat buruk ini sebaik-baiknya. Sangat sulit, dan ini merupakan pengalaman yang mungkin saja traumatik karena sama sekali tidak pernah membayangkan akan mengalami hal semacam ini.
Hidup selalu dihadapkan pada pilihan. Ketika kita pertama kali terjaga dipagi hari, kita langsung dihadapkan pada pilihan, mau langsung bangun dan melakukan kegiatan harian atau ingin merenung sejenak, atau bermalas-malasan sebentar? Kita dibebaskan untuk memilih karena punya budi, punya akal, punya perasaan dan tidak semata-mata menjalani hidup hanya dengan insting. Itu yang membedakan kita dengan mahluk hidup lainnya. Tapi pada kenyataannya kita tidak selalu demikian. Saya selalu mengatakan bahwa saya punya pilihan setiap saat apakah memilih untuk bahagia, atau menangis, memilih untuk berbuat kesalahan agar belajar darinya, atau selalu berusaha untuk sempurna. Kemampuan manusia tidak sempurna, ada sisi mendasar yang selalu dimiliki oleh manusia seperti halnya primate instincs dan katanya sering bekerja lebih awal sebelum akal kita kick in. Mungkin itu yang terjadi pada diri saya belakangan ini.
Salah satu instinct katanya mengatakan "NO". Ketidak setujuan akan kondisi yang tidak menyenangkan men-triger insting ini. Begitu menghadapi situasi yang sangat tidak menyenangkan secara otomatis insting ini menguasai diri saya. Mungkin ini juga sebagai suatu senjata untuk survival. Insting ini juga dapat mendeteksi situasi yang berbahaya. Hanya saja sepertinya saya memilih mengolah kondisi ini ke arah yang kurang tepat sehingga agak berlarut-larut. Well, saya bisa berdalih bahwa stages of grief itu butuh waktu, Untuk mencapai kondisi menerima, butuh melewati fase penolakan, kemarahan dan sebagainya. Itu normal. Jadi bisa dimengerti insting ini butuh waktu hingga akal budi manusia mulai bekerja. Jadi sepertinya jika saya mengatakan bahwa pilihan kurang tepat juga tidak tepat. Manusia butuh waktu untuk mengolah. Butuh banyak input kemudian proses pengolahan dilakukan. Komputer juga butuh itu, jika inputnya tidak tepat, datanya salah, maka prosesnya juga berlarut-larut. Kerja manusia juga begitu bahkan jauh lebih kompleks karena informasi dan input yang masuk sangat beragam dan butuh waktu untuk mengolahnya.
Proses mengidentifikasi segala bentuk informasi butuh waktu. Sudut pandang mulai terbentuk ketika indentifikasi dilakukan secara menyeluruh baru kemudian membentuk opini. Saya baru kemudian bisa menerima dan memahami situasi ketika semuanya sudah berlangsung ke arah yang benar. Sudut pandang saya juga tidak sama dengan rekan-rekan yang kebetulan mengadapi situasi yang sama beberapa hari terakhir ini karena semua terpengaruh pada bagaimana setiap individu menjalani hidup dengan tabiat masing-masing yang berbeda satu sama lain.
Kehilangan meninggalkan sebuah void, kekosongan, yang tidak akan mudah terisi kembali. Menghadapi ini membutuhkan dukungan. Sangat beruntung bahwa saya menghadapinya bersama sebuah kelompok yang sangat beragam. Kami semua harus dapat beradaptasi dan melanjutkan kehidupan kami dengan "new normal" Karena tidak akan mungkin "back to normal". Grief adalah proses pengalaman transformatif yang mengubah arti kehidupan. Point of view kami dalam memandang kehidupan tidak akan pernah lagi sama.
Foto credit: examples.yourdictionary.com